Dasar turunan preman pasar, Lu, Tung.
Lu bilang dipukul aje ributnya minta ampun?! 
Maksudnya kalau dipukuli, terus diam aja gitu? Nggak Waras Lu... 
Emang lu nggak lihat teve korban Monas pada bedarah-darah?
Emang kalau bedarah-darah terus ditulis "berair-air..."

Yang berdarah-darah di Thailand Selatan itu dua-dua pihak. 
Muslimnya juga belagu, jadi teroris, kayak Filipina Selatan
membunuh pendeta Budha dan warga sipil ... 
Makanya baca laporan yang lengkap, 
bukan cuman tulisan sesama fundamentalis doang...
Otak udang lu...


--- In [email protected], si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> tragedi thailand berdarah, judul yg pas & memang pantas 
dibandingkan judul rekaan ala aktivis islam liberal dg sandiwara 
monasnya 'tragedi monas berdarah', dipukul aje ributnye minta ampyun, 
udh gitu pk konfrensi pers, tp sama sekali mereka ga bersuara ttg 
pembantaian di thailand. Koq bisa ya? :p
> 
> 
> Pembantaian di Thailand  
> Oleh: Asro Kamal Rokan
> 
> Laki-laki
> Melayu berumur 80 tahun itu baru saja menyelesaikan shalat di masjid
> yang tak jauh dari rumahnya di Provinsi Pattani, Thailand Selatan,
> Senin (15/9). Ketika berjalan pulang, tiba-tiba sebuah peluru 
menerjang
> tubuhnya yang renta. Ia terkapar dan tewas seketika. Lelaki tua itu
> menemui Tuhan menyusul ribuan korban lainnya yang lebih dahulu 
tewas.
> 
> Ahad
> tiga hari lalu, menurut kantor berita AFP, tiga orang tewas dalam
> serangan di Thailand Selatan itu. Seorang penyadap karet berusia 60
> tahun ditembak ketika sedang mengisi bensin sepeda motor di pompa
> bensin di Provinsi Pattani. Hari yang sama, kekerasan juga terjadi 
di
> Provinsi Yala. Seorang pemuda Muslim, berusia 22 tahun, tewas akibat
> ditembak orang yang naik kendaraan.
> 
> Nyawa seperti tidak berharga
> di Thailand Selatan ini. Setiap hari, ada saja yang tewas tanpa
> diketahui siapa yang membunuhnya. Selama empat tahun ini saja, 
menurut
> laporan pers, lebih dari 3.400 orang tewas akibat konflik di 
Thailand
> Selatan. Beberapa foto dokumentasi memperlihatkan mayat 
bergelimpangan
> di bawah senjata militer Thailand dan tatapan putus asa remaja
> berjilbab. Dengan senjata terhunus, militer memaksa puluhan anak-
anak
> muda Melayu tiarap di tanah dengan kedua tangan diikat di 
punggungnya.
> Foto-foto
> yang mudah ditemukan di berbagai laman internet memberi kesan telah
> terjadi pembantaian dan pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran 
di
> Thailand Selatan--yang berpenduduk mayoritas Muslim--tanpa ada yang
> memedulikannya.
> 
> Pada 26 Oktober 2004 lalu, masih segar dalam
> ingatan, polisi Thailand memasukkan pemuda-pemuda Melayu ke dalam 
truk
> dengan tuduhan melakukan kerusuhan. Mereka diperlakukan bukan 
sebagai
> manusia, ditumpuk layaknya hewan. Akibatnya, 78 orang tewas karena
> kehabisan napas. Media-media di negara-negara Muslim, termasuk
> Indonesia, memberitakan peristiwa itu dan kemudian melupakannya.
> 
> Konflik
> pemerintah pusat dengan masyarakat Melayu terjadi sejak Thailand
> merampas kesultanan Melayu. Di selatan Thailand, terdapat empat
> provinsi yang didiami Melayu. Provinsi tersebut, yakni Pattani, 
Yala,
> Narathiwat, dan Songkhla. Pada awalnya, empat provinsi itu merupakan
> kerajaan Melayu Islam yang berdaulat. Namun, pada 1826, Kerajaan 
Siam
> menaklukkan kerajaan Melayu itu.
> 
> Pada 1902, Siam (kini Thailand)
> pun mendapatkan dukungan dari Inggris. Melalui dukungan Inggris, 
Siam
> menghapuskan secara resmi sistem pemerintahan kesultanan Melayu
> Pattani, meski tanpa persetujuan rakyat Melayu. Menurut situs 
wikipedia,
> sejak penghapusan kesultanan Melayu Pattani, masyarakat Melayu dalam
> posisi tertekan, lemah, dan diperlakukan bukan sebagai warga negara
> Thailand. Mereka dikucilkan. Hak-hak mereka dihilangkan. Tokoh-tokoh
> pejuang dibunuh dan dipenjarakan.
> 
> Akhir pekan lalu, kedua pihak
> duduk membahas perdamaian di Istana Bogor. Wakil Presiden Jusuf 
Kalla
> yang bertindak sebagai mediator mempertemukan utusan Pemerintah
> Thailand, Jenderal Kwanchart, yang juga penasihat militer perdana
> menteri sebelumnya, Samak Sundaravej, dengan Ketua Delegasi Majelis
> Permusyawaratan Rakyat Melayu Pattani, Wahyuddin Mohammad.
> 
> Berbekal
> mandat dari Pemerintah Thailand dan keinginan mendamaikan konflik,
> Indonesia menempuh berbagai langkah. Hasilnya, pertemuan Bogor
> memperlihatkan prospek cerah. Namun, tiba-tiba, Departemen Luar 
Negeri
> Thailand tidak mengakui adanya pertemuan tersebut dan mengaku
> pemerintah sama sekali tidak terlibat.
> 
> Kini, jelas bagi kita
> yang beradab: selain tidak memiliki keinginan menyelesaikan konflik
> yang mengakibatkan ribuan orang-orang Melayu tewas, Thailand juga
> mempermalukan Indonesia--negara yang tulus membantu mereka!
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke