tragedi thailand berdarah, judul yg pas & memang pantas dibandingkan judul 
rekaan ala aktivis islam liberal dg sandiwara monasnya 'tragedi monas 
berdarah', dipukul aje ributnye minta ampyun, udh gitu pk konfrensi pers, tp 
sama sekali mereka ga bersuara ttg pembantaian di thailand. Koq bisa ya? :p


Pembantaian di Thailand  
Oleh: Asro Kamal Rokan

Laki-laki
Melayu berumur 80 tahun itu baru saja menyelesaikan shalat di masjid
yang tak jauh dari rumahnya di Provinsi Pattani, Thailand Selatan,
Senin (15/9). Ketika berjalan pulang, tiba-tiba sebuah peluru menerjang
tubuhnya yang renta. Ia terkapar dan tewas seketika. Lelaki tua itu
menemui Tuhan menyusul ribuan korban lainnya yang lebih dahulu tewas.

Ahad
tiga hari lalu, menurut kantor berita AFP, tiga orang tewas dalam
serangan di Thailand Selatan itu. Seorang penyadap karet berusia 60
tahun ditembak ketika sedang mengisi bensin sepeda motor di pompa
bensin di Provinsi Pattani. Hari yang sama, kekerasan juga terjadi di
Provinsi Yala. Seorang pemuda Muslim, berusia 22 tahun, tewas akibat
ditembak orang yang naik kendaraan.

Nyawa seperti tidak berharga
di Thailand Selatan ini. Setiap hari, ada saja yang tewas tanpa
diketahui siapa yang membunuhnya. Selama empat tahun ini saja, menurut
laporan pers, lebih dari 3.400 orang tewas akibat konflik di Thailand
Selatan. Beberapa foto dokumentasi memperlihatkan mayat bergelimpangan
di bawah senjata militer Thailand dan tatapan putus asa remaja
berjilbab. Dengan senjata terhunus, militer memaksa puluhan anak-anak
muda Melayu tiarap di tanah dengan kedua tangan diikat di punggungnya.
Foto-foto
yang mudah ditemukan di berbagai laman internet memberi kesan telah
terjadi pembantaian dan pelanggaran hak asasi manusia besar-besaran di
Thailand Selatan--yang berpenduduk mayoritas Muslim--tanpa ada yang
memedulikannya.

Pada 26 Oktober 2004 lalu, masih segar dalam
ingatan, polisi Thailand memasukkan pemuda-pemuda Melayu ke dalam truk
dengan tuduhan melakukan kerusuhan. Mereka diperlakukan bukan sebagai
manusia, ditumpuk layaknya hewan. Akibatnya, 78 orang tewas karena
kehabisan napas. Media-media di negara-negara Muslim, termasuk
Indonesia, memberitakan peristiwa itu dan kemudian melupakannya.

Konflik
pemerintah pusat dengan masyarakat Melayu terjadi sejak Thailand
merampas kesultanan Melayu. Di selatan Thailand, terdapat empat
provinsi yang didiami Melayu. Provinsi tersebut, yakni Pattani, Yala,
Narathiwat, dan Songkhla. Pada awalnya, empat provinsi itu merupakan
kerajaan Melayu Islam yang berdaulat. Namun, pada 1826, Kerajaan Siam
menaklukkan kerajaan Melayu itu.

Pada 1902, Siam (kini Thailand)
pun mendapatkan dukungan dari Inggris. Melalui dukungan Inggris, Siam
menghapuskan secara resmi sistem pemerintahan kesultanan Melayu
Pattani, meski tanpa persetujuan rakyat Melayu. Menurut situs wikipedia,
sejak penghapusan kesultanan Melayu Pattani, masyarakat Melayu dalam
posisi tertekan, lemah, dan diperlakukan bukan sebagai warga negara
Thailand. Mereka dikucilkan. Hak-hak mereka dihilangkan. Tokoh-tokoh
pejuang dibunuh dan dipenjarakan.

Akhir pekan lalu, kedua pihak
duduk membahas perdamaian di Istana Bogor. Wakil Presiden Jusuf Kalla
yang bertindak sebagai mediator mempertemukan utusan Pemerintah
Thailand, Jenderal Kwanchart, yang juga penasihat militer perdana
menteri sebelumnya, Samak Sundaravej, dengan Ketua Delegasi Majelis
Permusyawaratan Rakyat Melayu Pattani, Wahyuddin Mohammad.

Berbekal
mandat dari Pemerintah Thailand dan keinginan mendamaikan konflik,
Indonesia menempuh berbagai langkah. Hasilnya, pertemuan Bogor
memperlihatkan prospek cerah. Namun, tiba-tiba, Departemen Luar Negeri
Thailand tidak mengakui adanya pertemuan tersebut dan mengaku
pemerintah sama sekali tidak terlibat.

Kini, jelas bagi kita
yang beradab: selain tidak memiliki keinginan menyelesaikan konflik
yang mengakibatkan ribuan orang-orang Melayu tewas, Thailand juga
mempermalukan Indonesia--negara yang tulus membantu mereka!


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke