kalau menurutku, negara ini juga di bangun dengan PEMBERONTAKAN juga........
jadi menurutku, yang harus kita lihat apakah dasar mereka 
memberontak..........? 

Sila diskusi (jangan emosi dunk...masdimas.....)

Saleum DAMEe



----- Pesan Asli ----
Dari: masdimas62 <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Selasa, 14 Oktober, 2008 19:18:49
Topik: [ppiindia] Re: Pembantaian di Thailand


Emangnya lu siapa Tung, gue musti posting pakai data-data...
Lu aja kalau posting asal mangap.... 
Nggak ngaca lu...

Filipna + Thailand sama-sama ada pembrontak muslimnya
apa dan dimana bedanya?
Lu kelamaan tinggal di hutan ?
Dasar pemalas gak tahu diri
Googling aja napa ?

Yang namanya pembrontak musti dibantai. 
Dari zaman Ken Arok sampai Gus Dur, pembrontak ya dibantai
DI Kartosuwiryo, Komunis, GAM, semua dibantai ...

Mau jadi apa negara ini, kalau pembrontak dicuekin...?
Nasehat banyak baca cocoknya buat lu sendiri..
Sementara ini gua jalan-jalan aja...
Yang mayoritas mana, yang minoritas mana lu aja nggak tahu...
Kalau memang lu korban gizi buruk lapor aja..
nggak usah posting dulu..

--- In [EMAIL PROTECTED] s.com, si pitung <sipitung68@ ...> wrote:
>
> kaya'na dimas kebanyakan jln2 dech, jd baca artikelnya sambil merem
> lagi ngomongin thailand selatan eh malah lari2 ke filipina selatan, 
emangnya thailand = filipina? wkaka
> emang mnurut khayalan dimas yg cuap2 ga pake bukti ini, muslim yg 
minoritas belagu jd pantas dibantai sedangkan muslim yg jd mayoritas 
jauh lebih blagu shingga toleransi bragama sulit terwujud.
> Sayangnye dimas si cuap2 ini, ga nyadar klo bicara musti pake 
bukti, mana buktinya muslim thailand itu teroris? lalu brp byk korban 
di pihak muslim? brp korban pihak thai? selain dr jumlah, kekuatan 
senjata pun jg ga berimbang, kaya'na dimas si cuap2 ini emang udh ga 
py mata dech.
> ente diksh artikel baca donk, masa wartawan males baca, malu2in 
donk :)
>  
> cuma di indo mayoritas bs dibantai oleh minoritas, ga tau deh 
komennya di dimas wartawan yg kebanyakan jln2 :)
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: masdimas62 <masdimas62@ ...>
> To: [EMAIL PROTECTED] s.com
> Sent: Sunday, October 12, 2008 4:44:08 PM
> Subject: [ppiindia] Re: Pembantaian di Thailand
> 
> 
> Dasar turunan preman pasar, Lu, Tung.
> Lu bilang dipukul aje ributnya minta ampun?! 
> Maksudnya kalau dipukuli, terus diam aja gitu? Nggak Waras Lu... 
> Emang lu nggak lihat teve korban Monas pada bedarah-darah?
> Emang kalau bedarah-darah terus ditulis "berair-air. .."
> 
> Yang berdarah-darah di Thailand Selatan itu dua-dua pihak. 
> Muslimnya juga belagu, jadi teroris, kayak Filipina Selatan
> membunuh pendeta Budha dan warga sipil ... 
> Makanya baca laporan yang lengkap, 
> bukan cuman tulisan sesama fundamentalis doang...
> Otak udang lu...
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, si pitung <sipitung68@ ...> wrote:
> >
> > tragedi thailand berdarah, judul yg pas & memang pantas 
> dibandingkan judul rekaan ala aktivis islam liberal dg sandiwara 
> monasnya 'tragedi monas berdarah', dipukul aje ributnye minta 
ampyun, 
> udh gitu pk konfrensi pers, tp sama sekali mereka ga bersuara ttg 
> pembantaian di thailand. Koq bisa ya? :p
> > 
> > 
> > Pembantaian di Thailand 
> > Oleh: Asro Kamal Rokan
> > 
> > Laki-laki
> > Melayu berumur 80 tahun itu baru saja menyelesaikan shalat di 
masjid
> > yang tak jauh dari rumahnya di Provinsi Pattani, Thailand Selatan,
> > Senin (15/9). Ketika berjalan pulang, tiba-tiba sebuah peluru 
> menerjang
> > tubuhnya yang renta. Ia terkapar dan tewas seketika. Lelaki tua 
itu
> > menemui Tuhan menyusul ribuan korban lainnya yang lebih dahulu 
> tewas.
> > 
> > Ahad
> > tiga hari lalu, menurut kantor berita AFP, tiga orang tewas dalam
> > serangan di Thailand Selatan itu. Seorang penyadap karet berusia 
60
> > tahun ditembak ketika sedang mengisi bensin sepeda motor di pompa
> > bensin di Provinsi Pattani. Hari yang sama, kekerasan juga 
terjadi 
> di
> > Provinsi Yala. Seorang pemuda Muslim, berusia 22 tahun, tewas 
akibat
> > ditembak orang yang naik kendaraan.
> > 
> > Nyawa seperti tidak berharga
> > di Thailand Selatan ini. Setiap hari, ada saja yang tewas tanpa
> > diketahui siapa yang membunuhnya. Selama empat tahun ini saja, 
> menurut
> > laporan pers, lebih dari 3.400 orang tewas akibat konflik di 
> Thailand
> > Selatan. Beberapa foto dokumentasi memperlihatkan mayat 
> bergelimpangan
> > di bawah senjata militer Thailand dan tatapan putus asa remaja
> > berjilbab. Dengan senjata terhunus, militer memaksa puluhan anak-
> anak
> > muda Melayu tiarap di tanah dengan kedua tangan diikat di 
> punggungnya.
> > Foto-foto
> > yang mudah ditemukan di berbagai laman internet memberi kesan 
telah
> > terjadi pembantaian dan pelanggaran hak asasi manusia besar-
besaran 
> di
> > Thailand Selatan--yang berpenduduk mayoritas Muslim--tanpa ada 
yang
> > memedulikannya.
> > 
> > Pada 26 Oktober 2004 lalu, masih segar dalam
> > ingatan, polisi Thailand memasukkan pemuda-pemuda Melayu ke dalam 
> truk
> > dengan tuduhan melakukan kerusuhan. Mereka diperlakukan bukan 
> sebagai
> > manusia, ditumpuk layaknya hewan. Akibatnya, 78 orang tewas karena
> > kehabisan napas. Media-media di negara-negara Muslim, termasuk
> > Indonesia, memberitakan peristiwa itu dan kemudian melupakannya.
> > 
> > Konflik
> > pemerintah pusat dengan masyarakat Melayu terjadi sejak Thailand
> > merampas kesultanan Melayu. Di selatan Thailand, terdapat empat
> > provinsi yang didiami Melayu. Provinsi tersebut, yakni Pattani, 
> Yala,
> > Narathiwat, dan Songkhla. Pada awalnya, empat provinsi itu 
merupakan
> > kerajaan Melayu Islam yang berdaulat. Namun, pada 1826, Kerajaan 
> Siam
> > menaklukkan kerajaan Melayu itu.
> > 
> > Pada 1902, Siam (kini Thailand)
> > pun mendapatkan dukungan dari Inggris. Melalui dukungan Inggris, 
> Siam
> > menghapuskan secara resmi sistem pemerintahan kesultanan Melayu
> > Pattani, meski tanpa persetujuan rakyat Melayu. Menurut situs 
> wikipedia,
> > sejak penghapusan kesultanan Melayu Pattani, masyarakat Melayu 
dalam
> > posisi tertekan, lemah, dan diperlakukan bukan sebagai warga 
negara
> > Thailand. Mereka dikucilkan. Hak-hak mereka dihilangkan. Tokoh-
tokoh
> > pejuang dibunuh dan dipenjarakan.
> > 
> > Akhir pekan lalu, kedua pihak
> > duduk membahas perdamaian di Istana Bogor. Wakil Presiden Jusuf 
> Kalla
> > yang bertindak sebagai mediator mempertemukan utusan Pemerintah
> > Thailand, Jenderal Kwanchart, yang juga penasihat militer perdana
> > menteri sebelumnya, Samak Sundaravej, dengan Ketua Delegasi 
Majelis
> > Permusyawaratan Rakyat Melayu Pattani, Wahyuddin Mohammad.
> > 
> > Berbekal
> > mandat dari Pemerintah Thailand dan keinginan mendamaikan konflik,
> > Indonesia menempuh berbagai langkah. Hasilnya, pertemuan Bogor
> > memperlihatkan prospek cerah. Namun, tiba-tiba, Departemen Luar 
> Negeri
> > Thailand tidak mengakui adanya pertemuan tersebut dan mengaku
> > pemerintah sama sekali tidak terlibat.
> > 
> > Kini, jelas bagi kita
> > yang beradab: selain tidak memiliki keinginan menyelesaikan 
konflik
> > yang mengakibatkan ribuan orang-orang Melayu tewas, Thailand juga
> > mempermalukan Indonesia--negara yang tulus membantu mereka!
> > 
> > 
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

    


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke