Waduh Bang Pitung...hati-hatilah mengeluarkan pernyataan itu. Anda sering 
mengkotak-kotakkan antara Muslim dan Non-Muslim. Menurut saya, tidak baik 
mengeluarkan pernyataan seperti itu karena sikap Anda bisa mencerminkan sikap 
seorang pemeluk Islam. 
Hahaha kalo saya sih bang pemeluk agamamu agamamu, agamaku agamaku. Yang 
menentukan mereka sesat dan tidak sesat itu biar Yang Maha Penguasa ajalah 
bung. Aku bukan Tuhan, Aku bukan Sang Penguasa Alam Semesta. 

Dibilang: "si eka ini aneh bin ajaib, dia kaga seneng klo non-muslim itu emang
sesat, pdhl die baca alfatihah tiap kale sholat (sholat khan?)

dia kaga tau siape yg disebut orang2 yg dimurkai & orang2 yg sesat wkaka", aku 
juga enggak rugi bang. Toh yang menentukan hidup mati, rejeki maut dan jodoh 
itu bukan kamu. Aku tidak perlu mempertanggung jawabkan amal perbuatanku sama 
Anda kang Bang? Aku tidak perlu mempertanggung jawabkan keilmuanku di depan mu 
kan Bang? Dan tidak perlu mempertanggung jawabkan sholatku kepada mu kan Bang? 
Bahkan kepada orang tua ku pun tidak...bukan begitu bang?

Emangnya dengan orang mengaji dan sholat itu lantas dia berhak menghakimi 
keyakinan orang lain? dan menuding-nuding mereka masuk neraka atau surga? 


Eka Zulkarnain

--- On Sun, 10/26/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: si pitung <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [ppiindia] Semangat Perdamaian Antar Umat Beragama (terbuka 
dikomentari)
To: [email protected]
Date: Sunday, October 26, 2008, 11:26 PM










    
            wkaka..

makanye bc2 alquran biar pinter, muslim siy kaga pernh py rasa dengki & benci 
ma non-muslim, malah kasiaaaaan deh

non muslim emang lg berada di jln sesat, walau ga tertutup kemungkinan selama 
nafas msh ada, mereka ada yg sadar, spt jeffrey lang & bejibun mualaf laennya. 
Lha yg kaga sadar gmane? wkaka..mnurut alquran siy nyemplung ke 'nar' slamanye, 
kaga ada ampyuun.



si eka ini aneh bin ajaib, dia kaga seneng klo non-muslim itu emang sesat, pdhl 
die baca alfatihah tiap kale sholat (sholat khan?)

dia kaga tau siape yg disebut orang2 yg dimurkai & orang2 yg sesat wkaka



ane kaga py rasa benci & dengki, malah kasiaaaaan..



____________ _________ _________ __

From: eka zulkarnain <ekalucky_01@ yahoo.com>

To: [EMAIL PROTECTED] s.com

Sent: Monday, October 27, 2008 10:28:40 AM

Subject: Re: [ppiindia] Semangat Perdamaian Antar Umat Beragama (terbuka 
dikomentari)



Hehehehehe.. .up 2 you bang pitung. Ya kalo Anda tidak membutuhkan. 
..mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi yang lain dan bisa menjadi pengetahuan. 
Mau dipakai ya terserah, tidak juga ya terserah. Terserah individu 
masing-masing.



Mau dibilang sesat ya terserah, mau dibilang tidak juga ya terserah. Enak2nya 
dewe, toh gratisan ini. Kayaknya yang punya perasaan dengki dan benci itu Anda 
bung Pitung...



Eka Zulkarnain



--- On Fri, 10/24/08, si pitung <sipitung68@ yahoo. com> wrote:

From: si pitung <sipitung68@ yahoo. com>

Subject: Re: [ppiindia] Semangat Perdamaian Antar Umat Beragama (terbuka 
dikomentari)

To: [EMAIL PROTECTED] s.com

Date: Friday, October 24, 2008, 11:48 PM



Islam mengajarkan kpd umatnya utk tdk memaksakan agamanya kpd non-muslim. 
Islampun mengajarkan utk bertoleransi thd non-muslim. Islam jg tdk melarang 
umatnya utk bergaul dg non-muslim, Tp islam jg menarik batasan yg jelas & tegas 
mengenai pergaulan antara muslim-non muslim, yaitu tdk ada kompromi, tdk ada 
toleransi utk masalah AKIDAH.



Rasanya Rasulullah saw telah mencontohkan bagaimana hubungan antara muslim-non 
muslim yg baik. Jadi, Ane siy kaga bth crita pengalaman bgini, lalu dijadikan 
smacam role model, palagi perkawinan beda agama (muslimah-non muslim?) mungkin 
saja dpt terjadi, sesuatu hal yang tdk pernah dilakukan sekalipun di jaman 
Rasulullah saw.



Klo ente sering2 buka Alquran, sebenarnya yg memiliki rasa dengki & benci, 
pastinya bukanlah muncul di hati umat muslim. Malah, kita kasihan melihat 
kondisi teman2 atau saudara-saudara non-muslim (krn ada jg muslim pula yg 
memiliki sanak-saudara non-muslim) yg msh berada di jalan yg sesat. Dakwah 
tetap harus dilakukan, diterima atau tdk bukan urusan kita.



bergaul boleh saja asal AKIDAH jgn dilacurkan, sederhana aje khan?



____________ _________ _________ __



From: eka zulkarnain <ekalucky_01@ yahoo.com>



To: ppindia <[EMAIL PROTECTED] p s.com>



Sent: Friday, October 24, 2008 6:16:39 PM



Subject: [ppiindia] Semangat Perdamaian Antar Umat Beragama (terbuka 
dikomentari)



Ini dari milis tetangga juga:



From: Imam Mudofir Mudofir <[EMAIL PROTECTED] . com>



Subject: Re: [jurnalisme] Re: Otokritik Seorang Kristen



To: [EMAIL PROTECTED] ups.com



Date: Friday, October 24, 2008, 2:21 AM



Ada sebuah Pengalaman menarik:



Saya berasal dari sebuah daerah diujung Timur Pulau Jawa. di Desa Sy



terdapat 4 Buah Masjid, 1 Gereja Katolik, 2 Gereja Protestan (yg



berbeda), 2 Pura, dan 1 Vihara. Desa yang tidak terlalu besar untuk



dihuni beragam agama yang mewakili keberagaman keagamaan di Indonesia.



Menurut asal usul Gereja katolik dan Protestan didirikan sewaktu



tentara Belanda mendirikan benteng pertahanan di pesisir selatan pulau



jawa untuk mengamati kedatangan tentara jepang. Atau malah versi lain



didirikan sewaktu Jaman Kolonial dulu untuk beribadah bagi orang Eropa



yang sedang membangun Dam-dam pengairan.



Sejak kecil sampai dewasa Sy tidak pernah mendengar ada sebuah konflik



terbuka antara masing-masing agama. Sampai pada suatu ketika muncul



konflik di Ambon. Perlu diketahui bahwa sejak tahun '80-an banyak warga



desa yang ikut transmigrasi ke kepulauan maluku. 



Setelah konflik meletus di Ambon terjadi Eksodus besar-besaran warga



pendatang di maluku, termasuk warga Desa Sy. Entah siapa yang memulai,



warga transmigran yang pulang kampung karena konflik, juga terlibat



cek-cok di Desa kami.



Saudara yg Muslim mengatakan, si Fulan terlibat pembakaran masjid dan musholla 
di desa transmigran yang kita dirikan.



Saudara kita yang lain juga menuduh si Anu telah merobohkan dan membakar gereja 
di tanah transmigran.



Puncaknya hampir saja cek-cok tersebut berujung pada perkelahian



terbuka. sampai kemuduian warga desa berembuk untuk menyelesaikannya.



Penyelesaiannya adalah sepele. barang siapa atau warga desa mantan



transmigran yang pulang kampung hendak menyulut perselisihan dan



membawa konflik di Ambon di desa kami, maka hukumannya adalah di usir



dari desa.



Hal tersebut di sepakati baik kalangan Ulama, maupun Romo setempat.



kami warga desa kemudian mempunyai kesepakatan untuk saling mengundang



pada acara kenduri jika saling mempunyai hajatan. Seperti Mantenan,



sunatan, 7 hari, 40 hari atau acara syukuran jika panen tiba.



Sewaktu Sy pulang kampung waktu lebaran, sekarang ini masing-masing



warga sudah bisa melupakan konflik sewaktu mereka di Ambon. Padahal



masing-masing banyak yang terluka dan kehilangan saudara. Bahkan ada



anak gadis yang kehilangan beberapa jari karena merakit Bom rakitan



untuk membela saudaranya yang diserang.



Saya akui Sy dulu aktif di masjid warisan kakek. dan sebelah masjid Sy



hanya berjarak beberapa meter berdiri gereja besar. Jika Sy pulang



kampung, Romo pemangku Gereja dan beberapa pemuda gereja mengajak



dialog. Pernah romo mengatakan untuk saling mengunjungi jika ada hari



raya ataupun jamuan makan. Dengan halus Sy tolak, bahwa jika kita



memaksakan untuk saling mengunjungi maka, akan terjadi perpecahan warga



desa. Karena kami yang Muslim menganggap tidak boleh mendoakan yang non



muslim. Akhirnya sy usulkan, kita salaing menghormati, dan akan saling



bekerjasama untuk gotong royong membangun jalan, jembatan di dekat



Sawah. Bahkan ada yang unik, sewaktu keluarga kami merenovasi Masjid



Kampung, beberapa pemuda dari gereja dan tokoh gereja menyumbangkan



semen dan ikut bergotong royong membangun Masjid. Di situlah terjadi



guarauan yang sedikit idiologis tapi menjadi ketawaan bersama. Misalkan



(Remaja Masjid) mengatakan, jika nanti kamu meninggal, diakhiarat Sy



usulkan pada malaikat kamu (remaja gereja) tidak masuk neraka dan tidak



di Surga. Tapi cukup di "Emperan Surga" saja. Karena Kamu ikut membantu



mendirikan masjid kami. Sambil bergotong royong kami menjadikan hal-hal



seperti itu candaan. Dan tidak ada yang emosi.



Hal menarik lainnya adalah jika ada hajatan dari pihak Non-Muslim, Jika



ingin mengkonsumsi daging Babi maka harus dilaporkan dahulu keapada



pada Sinoman, Sehingga Sinoman yang Muslim tidak makan di tempat si



pemilik hajatan. dan barang siapa melanggar maka tidak akan dibantu



hajatannya. Itu sangsi sosialnya. Dan hal ini berlaku efektif.



Dan masih banyak kesepakatan- kesepakatan tidak tertulis terkait dengan



perbedaan agama. Kawin campur juga sering terjadi. Biasanya jika dalam



perkawinan campur mempunyai anak, si anak setelah dewasa dipersialhkan



memilih. tapi jika masih anak-anak juga dipersilahkan main di Gereja



maupun musholla. sy ingat waktu kecil tiap minggu ke gereja dan Gua



Maria bermain dengan biarawati dan pastur. Begitu juga menjelang



mangrib banyak anak-anak kecil dari keluarga non muslim bermain beduk



di masjid Kami. Semuanya mengalir begitu Saja.



Yang ingin sy katakan kenapa kita tidak bisa saling memahami, malah



saling bertengkar yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang mau mengalah.



sy bangga kepada Kampung Kami karena kami menggunakan perasaan bukan



menggunakan pikiran yang ujung-ujungnya adalah akal-akalan.



Jika ada yang berminat besuk kampung Saya, silahkan. Tapi jangan jadi 
provokator.



Salam,



Mudofir



Eka Zulkarnain



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke