Hehehehehe...up 2 you bang pitung. Ya kalo Anda tidak 
membutuhkan...mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi yang lain dan bisa menjadi 
pengetahuan. Mau dipakai ya terserah, tidak juga ya terserah. Terserah individu 
masing-masing.

Mau dibilang sesat ya terserah, mau dibilang tidak juga ya terserah. Enak2nya 
dewe, toh gratisan ini. Kayaknya yang punya perasaan dengki dan benci itu Anda 
bung Pitung...

Eka Zulkarnain

--- On Fri, 10/24/08, si pitung <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: si pitung <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [ppiindia] Semangat Perdamaian Antar Umat Beragama (terbuka 
dikomentari)
To: [email protected]
Date: Friday, October 24, 2008, 11:48 PM










    
            Islam mengajarkan kpd umatnya utk tdk memaksakan agamanya kpd 
non-muslim. Islampun mengajarkan utk bertoleransi thd non-muslim. Islam jg tdk 
melarang umatnya utk bergaul dg non-muslim, Tp islam jg menarik batasan yg 
jelas & tegas mengenai pergaulan antara muslim-non muslim, yaitu tdk ada 
kompromi, tdk ada toleransi utk masalah AKIDAH.

Rasanya Rasulullah saw telah mencontohkan bagaimana hubungan antara muslim-non 
muslim yg baik. Jadi, Ane siy kaga bth crita pengalaman bgini, lalu dijadikan 
smacam role model, palagi perkawinan beda agama (muslimah-non muslim?) mungkin 
saja dpt terjadi, sesuatu hal yang tdk pernah dilakukan sekalipun di jaman 
Rasulullah saw.

Klo ente sering2 buka Alquran, sebenarnya yg memiliki rasa dengki & benci, 
pastinya bukanlah muncul di hati umat muslim. Malah, kita kasihan melihat 
kondisi teman2 atau saudara-saudara non-muslim (krn ada jg muslim pula yg 
memiliki sanak-saudara non-muslim) yg msh berada di jalan yg sesat. Dakwah 
tetap harus dilakukan, diterima atau tdk bukan urusan kita.



bergaul boleh saja asal AKIDAH jgn dilacurkan, sederhana aje khan?



____________ _________ _________ __

From: eka zulkarnain <ekalucky_01@ yahoo.com>

To: ppindia <[EMAIL PROTECTED] s.com>

Sent: Friday, October 24, 2008 6:16:39 PM

Subject: [ppiindia] Semangat Perdamaian Antar Umat Beragama (terbuka 
dikomentari)



Ini dari milis tetangga juga:



From: Imam Mudofir Mudofir <[EMAIL PROTECTED] com>

Subject: Re: [jurnalisme] Re: Otokritik Seorang Kristen

To: [EMAIL PROTECTED] ups.com

Date: Friday, October 24, 2008, 2:21 AM



Ada sebuah Pengalaman menarik:



Saya berasal dari sebuah daerah diujung Timur Pulau Jawa. di Desa Sy

terdapat 4 Buah Masjid, 1 Gereja Katolik, 2 Gereja Protestan (yg

berbeda), 2 Pura, dan 1 Vihara. Desa yang tidak terlalu besar untuk

dihuni beragam agama yang mewakili keberagaman keagamaan di Indonesia.



Menurut asal usul Gereja katolik dan Protestan didirikan sewaktu

tentara Belanda mendirikan benteng pertahanan di pesisir selatan pulau

jawa untuk mengamati kedatangan tentara jepang. Atau malah versi lain

didirikan sewaktu Jaman Kolonial dulu untuk beribadah bagi orang Eropa

yang sedang membangun Dam-dam pengairan.



Sejak kecil sampai dewasa Sy tidak pernah mendengar ada sebuah konflik

terbuka antara masing-masing agama. Sampai pada suatu ketika muncul

konflik di Ambon. Perlu diketahui bahwa sejak tahun '80-an banyak warga

desa yang ikut transmigrasi ke kepulauan maluku. 



Setelah konflik meletus di Ambon terjadi Eksodus besar-besaran warga

pendatang di maluku, termasuk warga Desa Sy. Entah siapa yang memulai,

warga transmigran yang pulang kampung karena konflik, juga terlibat

cek-cok di Desa kami.



Saudara yg Muslim mengatakan, si Fulan terlibat pembakaran masjid dan musholla 
di desa transmigran yang kita dirikan.



Saudara kita yang lain juga menuduh si Anu telah merobohkan dan membakar gereja 
di tanah transmigran.



Puncaknya hampir saja cek-cok tersebut berujung pada perkelahian

terbuka. sampai kemuduian warga desa berembuk untuk menyelesaikannya.

Penyelesaiannya adalah sepele. barang siapa atau warga desa mantan

transmigran yang pulang kampung hendak menyulut perselisihan dan

membawa konflik di Ambon di desa kami, maka hukumannya adalah di usir

dari desa.



Hal tersebut di sepakati baik kalangan Ulama, maupun Romo setempat.

kami warga desa kemudian mempunyai kesepakatan untuk saling mengundang

pada acara kenduri jika saling mempunyai hajatan. Seperti Mantenan,

sunatan, 7 hari, 40 hari atau acara syukuran jika  panen tiba.



Sewaktu Sy pulang kampung waktu lebaran, sekarang ini masing-masing

warga sudah bisa melupakan konflik sewaktu mereka di Ambon. Padahal

masing-masing banyak yang terluka dan kehilangan saudara. Bahkan ada

anak gadis yang kehilangan beberapa jari karena merakit Bom rakitan

untuk membela saudaranya yang diserang.



Saya akui Sy dulu aktif di masjid warisan kakek. dan sebelah masjid Sy

hanya berjarak beberapa meter berdiri gereja besar. Jika Sy pulang

kampung, Romo pemangku Gereja dan beberapa pemuda gereja mengajak

dialog. Pernah romo mengatakan untuk saling mengunjungi jika ada hari

raya ataupun jamuan makan. Dengan halus Sy tolak, bahwa jika kita

memaksakan untuk saling mengunjungi maka, akan terjadi perpecahan warga

desa. Karena kami yang Muslim menganggap tidak boleh mendoakan yang non

muslim. Akhirnya sy usulkan, kita salaing menghormati, dan akan saling

bekerjasama untuk gotong royong membangun jalan, jembatan di dekat

Sawah. Bahkan ada yang unik, sewaktu keluarga kami merenovasi Masjid

Kampung, beberapa pemuda dari gereja dan tokoh gereja menyumbangkan

semen dan ikut bergotong royong membangun Masjid. Di situlah terjadi

guarauan yang sedikit idiologis tapi menjadi ketawaan bersama. Misalkan

(Remaja Masjid) mengatakan, jika nanti kamu meninggal, diakhiarat Sy



usulkan pada malaikat kamu (remaja gereja) tidak masuk neraka dan tidak

di Surga. Tapi cukup di "Emperan Surga" saja. Karena Kamu ikut membantu

mendirikan masjid kami. Sambil bergotong royong kami menjadikan hal-hal

seperti itu candaan. Dan tidak ada yang emosi.



Hal menarik lainnya adalah jika ada hajatan dari pihak Non-Muslim, Jika

ingin mengkonsumsi daging Babi maka harus dilaporkan dahulu keapada

pada Sinoman, Sehingga Sinoman yang Muslim tidak makan di tempat si

pemilik hajatan. dan barang siapa melanggar maka tidak akan dibantu

hajatannya. Itu sangsi sosialnya. Dan hal ini berlaku efektif.



Dan masih banyak kesepakatan- kesepakatan tidak tertulis terkait dengan

perbedaan agama. Kawin campur juga sering terjadi. Biasanya jika dalam

perkawinan campur mempunyai anak, si anak setelah dewasa dipersialhkan

memilih. tapi jika masih anak-anak juga dipersilahkan main di Gereja

maupun musholla. sy ingat waktu kecil tiap minggu ke gereja dan Gua

Maria bermain dengan biarawati dan pastur. Begitu juga menjelang

mangrib banyak anak-anak kecil dari keluarga non muslim bermain beduk

di masjid Kami. Semuanya mengalir begitu Saja.



Yang ingin sy katakan kenapa kita tidak bisa saling memahami, malah

saling bertengkar yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang mau mengalah.

sy bangga kepada Kampung Kami karena kami menggunakan perasaan bukan

menggunakan pikiran yang ujung-ujungnya adalah akal-akalan.



Jika ada yang berminat besuk kampung Saya, silahkan. Tapi jangan jadi 
provokator.



Salam,



Mudofir



Eka Zulkarnain



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke