Ini sekelumit pengalaman saya dengan ybs.

Suatu hari menjelang debat Pilkada Provinsi Sumsel, saya berjumpa dengan RM di 
Hotel Aston. Di hotel itu menginap pula DJA, sementara saya bermalam di 
Novotel, tempat acara debat dilakukan.
RM mengundang saya duduk bersama. Dia bilang, "takut ya duduk bersama dengan 
golongan liberal." Saya tersentak dengan ucapan RM. Respon saya, "sangat 
berani." RM merespon lagi, "mungkin tidak mau terkontaminasi." Saya bilang, 
"setiap orang punya daya tahan masing-masing."

Dalam debat Pilkada itu, RM mendukung Alex Nurdin. Kajian strategisnya 
didasarkan pada analisis SWOT. Kebetulan saya mempelajari analisis ini dengen 
pendekatan bisnis dan dinamis. Apalagi jika menggunakan kombinasi pada 
pemikiran Sun Tzu, kajian SWOT politik pasti mempunyai kelemahan struktural. 
Dan benar. Begitu konsep Cagub AN saya baca, kelemahan struktural itu nampak 
dari relasi filosofi ke konsep kerja. Kelemahan ini saya pakai untuk memburu 
penguasaan Cagub AN atas konsep yang dijualnya.

Esok harinya saya kembali ke Jakarta. Di Bandara, saya jumpa lagi. RM langsung 
merespon sikap saya semalam dengan kata-kata, "Anda gak boleh begitu dengan 
orang daerah." Saya jawab, "justru saya menggunakan konsep kaum liberal. Yaitu 
speed stamina and accuracy sebagai rujukan terjadinya persaingan." RM sesaat 
terdiam karena saya menggunakan cara berpikirnya untuk merespon keberatannya. 
Segera dia menyahuti, orang daerah tidak siap dengan cara seperti itu. Saya 
tersenyum. Jawab saya lagi, saya memang bukan menguji Cagub AN, tapi menguji 
seberapa jauh konsep RM PhD itu secara struktural memiliki konsistensi dengan 
filosofi yang dibangunnya.

Rupanya protes RM tidak hanya langsung disampaikan kepada saya, juga kepada 
rekan-rekan di tvOne. 
Lalu ketika dia mengundurkan diri dari posisi sebagai bakal calon Pres RI dari 
kalangan muda, nilai-nilai apa yang hendak dipertontonkan secara struktural dan 
kultural bangsa ini?
Percaya diri harus. Tapi percaya diri yang didasarkan pada ilmu dan iman saja 
yang mampu mengangkat harkat dan martabat manusia. Dan bukan percaya diri yang 
malah menunjukkan sikap keindividuan.
Dan di sini kaum muda Indonesia pada generasi sekarang kalah bersaing dengan 
generasi muda saat berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.
Suka atau tidak, para orang tua kita dulu ternyata mempunyai pemikiran melampui 
zamannya dan mampu menembus 2-3 generasi. 
Kita ? Wong generasi tua saja lebih suka jadi penikmat, penjilat dan 
penghianat, apalagi anak mudanya yang bersikap pragmatis dan oportunis.
Kenyataan yang menantang agar kita menjadi generasi yang dicatat dalam sejarah 
bukan sebagai beban anak bangsa.
Saya pernah menyampaikan, betapa tidak enaknya jadi Soeharto kalau melihat dia 
setelah berkuasa. Betapa tidak menyenangkannya menjadi BJH karena harus pergi 
pulang ke Jerman, padahal kampung halamannya demikian indah dan menyegarkan. 
Demikian juga dengan AW, MSP, dan mungkin SBY.
Buat apa menjabat tapi tidak terhormat
Untuk apa berpangkat tapi tidak bermartabat
Buat apa kaya harta tapi miskin kedamaian dan ketentraman.
Bukankah akhir dari perjalanan kehidupan adalah kedamaian, ketentraman dan 
kebaikan sehingga tidak menimbulkan fitnah hidup dan fitnah kubur?
Saya kuatir orang-orang yang berburu kekuasaan dan kekayaan dan atau ketenaran, 
lupa kesederhanaan sesungguhnya menyimpan enerji kesempurnaan. Dan kesempurnaan 
menyimpan enerji keseimbangan jiwa sehingga melapangkan kehidupan.


--- On Thu, 11/20/08, Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ppiindia] Re: Mallarangeng: Farewell, My Friends
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "media" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "islib" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "ppiindia" 
<[email protected]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "news Trans 
TV" <[EMAIL PROTECTED]>, "student EMBA" <[EMAIL PROTECTED]>, "kampus tiga" 
<[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], "Pers Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"sastra pembebasan" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, November 20, 2008, 9:15 PM

Mungkin persoalannya adalah, bagi mayoritas rakyat Indonesia, yang menjadi real
issue bukanlah soal muda atau tua. Tetapi soal keberpihakan kepada rakyat.
 
Kalau ada tokoh muda yang maju jadi capres, bagus-bagus saja. Tetapi, sekadar
muda saja tidak cukup. Keberpihakan kepada rakyat perlu ditunjukkan lewat karya
nyata di lapangan dan track record penyikapan. Biarpun muda, jika tidak berpihak
pada rakyat, atau sekadar jadi kepanjangan tangan kepentingan "tokoh-tokoh
tua," buat apa?
 
Fenomena Obama yang muda, segar, penuh gagasan perubahan, memang menarik.
Tetapi orang sering lupa, Obama merintis jalan ke jenjang puncak lewat
karya-karya nyata di lapangan selama bertahun-tahun, tidak sekadar mengandalkan
pembangunan citra media (walaupun tim kampanye Obama juga piawai dalam
pembentukan citra media ini).
 
Jika hal-hal yang menyangkut keberpihakan dan track record itu masih
meragukan, mungkin rakyat akan bersikap: "Apakah saya akan menyerahkan
nasib saya pada orang yang mendadak muncul ini, yang masih saya ragukan
keperpihakannya, setidaknya sampai lima tahun mendatang? Tunggu dulu!"

 



Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4023,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 

--- On Thu, 11/20/08, Nong Mahmada <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Nong Mahmada <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thursday, November 20, 2008, 5:09 PM






Farewell, My Friends

Oleh: Rizal Mallarangeng

Saya sudah mencoba dan ternyata memang belum bisa. 

Sejak Juli kemarin saya telah menerapkan serangkaian metode kampanye untuk
menggugah dan mencari dukungan masyarakat akan perlunya kandidat presiden dari
generasi baru. Saya sudah mencoba meyakinkan publik bahwa anak-anak muda juga
pantas untuk dipertimbangkan sebagai calon-calon pemimpin pada Pemilu 2009.

Saya melakukannya dengan berbagai cara, dengan iklan di televisi nasional,
dalam berbagai acara dialog di radio, tv, koran dan majalah, dalam pertemuan
serta keterlibatan di berbagai forum diskusi di banyak penjuru tanah air, dengan
penerbitan buku, serta dengan Facebook, Youtube, dan berbagai forum di Internet.


Sejauh ini saya cukup senang bahwa dalam beberapa pembicaraan di tingkat
nasional, isu tentang generasi muda dan alternatif kepemimpinan sudah menjadi
bagian dari pembicaraan publik. Bahkan, setelah saya mulai awal Juli lalu,
beberapa kandidat dari generasi muda, seperti Fadjroel Rahman dan Yuddy
Chrisnadi, juga kemudian mendeklarasikan diri sebagai pemimpin alternatif untuk
Pemilu 2009. Kepada mereka berdua, saya ingin memberi salut dan penghargaan yang
sebesar-besarnya. Dan saya tahu bahwa sebenarnya selain mereka berdua ada banyak
anak muda di dalam dan di luar partai yang sanggup dan pantas dipertimbangkan
untuk mulai memegang peranan penting di negeri yang kita cintai ini. 

Selain itu, dalam banyak perjalanan saya bertemu dengan begitu banyak pihak di
berbagai daerah, saya kadang terkesima dan terharu dengan sambutan dan harapan
yang disampaikan kepada saya. Beberapa kali saya sempat termenung. For whom the
bell tolls, demikian salah satu judul novel Ernest Hemingway. Bagi saya, kepada
merekalah dan kepada begitu banyak orang yang merindukan adanya penyegaran,
perubahan serta perbaikan hidup, saya ingin menawarkan sebuah harapan. My bell
tolls for them.

Tetapi saya juga harus membaca dan menerima fakta-fakta. Dalam dunia politik,
apalagi kalau sudah mulai mendapat panggung, kadang kita mulai gampang lupa
diri, tak mudah untuk melihat cermin. Karena itulah, setelah mencoba beberapa
bulan, saya menguji dan menilai apa yang telah saya lakukan dengan metode
modern, yaitu dengan survei akademik. Saya memilih metode ini agar fakta-fakta
yang sampai tidak hanya mencerminkan harapan saya semata, tetapi merefleksikan
kenyataan yang sebenarnya. 

Ternyata, dalam dua kali survei nasional (yang terakhir minggu lalu), dukungan
yang saya peroleh belum cukup untuk mencapai momentum yang saya inginkan.
Setelah saya mencoba selama lebih 3 bulan, jarak dukungan yang mampu saya
dapatkan masih sangat jauh tertinggal ketimbang dukungan kepada dua tokoh senior
di papan teratas, yaitu SBY dan Megawati. Sudah ada pergerakan naik memang,
terutama dalam soal popularitas atau kedikenalan. Namun dalam soal
elektabilitas, angkanya masih sangat jauh, sedemikian rupa sehingga jalan yang
ada terlalu terjal bagi saya untuk mengejar ke posisi yang cukup serius.
Ditambah dengan pembatasan baru dalam undang-undang, yaitu persyaratan perolehan
dukungan 25% suara nasional atau 20% kursi di DPR dari partai pendukung untuk
dapat menjadi capres, maka hampir semua pintu sudah tertutup. 

Berhadapan dengan kenyataan demikian, saya harus mengambil sikap: jalan terus,
against all odds, atau mundur dengan baik. Saya memilih yang kedua dan bersikap
realistis. Tidak mudah, memang. Tapi itulah kenyataan yang harus saya hargai.

Karena itu, pada kesempatan ini, saya ingin mengumumkan secara resmi bahwa
mulai besok, 20 November 2008, segala upaya kampanye akan saya hentikan dan
kegiatan di Sekertariat RM09 Center, Jalan Yusuf Adiwinata 29, Menteng, tidak
lagi berhubungan dengan urusan kampanye menuju Pemilu 2009.

Saya ingin menyampaikan terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya
kepada keluarga dan sahabat-sahabat yang telah membantu serta memberi simpati
kepada saya selama ini.

Hal yang sama juga ingin saya sampaikan kepada semua pihak, baik yang berada di
dalam maupun luar negeri, yang telah memberi dukungan terbuka terhadap kampanye
saya. Saya mohon maaf bahwa kali ini harapan dan dukungan tersebut belum mampu
saya emban dengan baik hingga tuntas. Mudah-mudahan, jika memang ada pintu yang
terbuka, pada Pemilu 2014 saya akan mencoba lagi dan saya harap di saat itulah
jalan cerita akan menjadi sedikit berbeda. 

Sementara itu, saya akan kembali ke habitat saya lagi, menulis, memberi
komentar, mengembangkan lembaga intelektual, dan semacamnya, untuk memberikan
kontribusi yang positif. Dengan segala kelemahan dan kekurangan yang ada, saya
akan terus berusaha menyumbangkan sesuatu agar Indonesia menjadi sebuah negeri
yang lebih baik lagi, lebih toleran, lebih maju dan lebih sejahtera.

Kepada para senior saya, terutama yang berada di papan teratas seperti SBY,
Megawati, Jusuf Kalla, Sri Sultan HB X, Wiranto, Prabowo dan Amien Rais, saya
ingin mengucapkan selamat. Kepada mereka, kalau boleh, saya ingin mengulang
kembali apa yang pernah dikatakan oleh Theodore Roosevelt:

It is not the critic who counts; not the man who points out how the strong man
stumbles, or where the doer of deeds could have them better.

The credit belongs to the man who is actually in the arena, whose face is
marred by dust, sweat and blood…who errs, who comes short and short again,
because there is no effort without error and shortcoming; but who does actually
strives to do the deeds¦ who at the best knows in the end the triumph of high
achievement; and who at the worst, if he fails, at least fails while daring
greatly, so that his place shall never be with those cold and timid souls who
neither know victory nor defeat.

Semoga para senior tersebut terus berjalan, mempertahankan integritas pribadi
sambil senantiasa memperjuangkan cita-cita bagi sebuah negeri yang membanggakan
kita semua.

Terimakasih.

19 November 2008
 














      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links






      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke