hehe..klo ada orang keracunan tp ga sadar siy bukan lg keracunan bang, TAPI
orangnya lg mabok, ampe oleng kaga sadar & tau diri :p
Liberalisme, Cara Baru Barat “Menekan” Islam
Hidayatullah.com--Liberalisme adalah ‘senjata pemusnah massal’ (mass
destruction) Barat menekan Islam. Ibarat makanan, liberalisme adalah
ingredient atau bahan bakunya. Sayangnya banyak dari sebagian umat Islam yang
tidak mengerti dan mehamaminya.
Demikian ujar Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Direktur Institute for The Study of
Islamic Thought and Civilization (INSISTS), dalam obrolan dengan
www.hidayatullah.com usai diskusi regular dwibulanan dengan tema “Kerancuan
Pemikiran Liberal Deteksi dan Solusinya”.
Menurut
Hamid, Abad ke-14 Hijriyah ditandai kebangkitan semangat perlawanan
Islam terhadap Barat. Ini bisa dilihat dari munculnya perlawanan di
Cecknya, Azerbeijan, Bosnia juga Palestina. Semangat ini, juga ikut
menyebabkan peledakan spirit Islam yang berakibat semakin banyaknya
penganut Islam.
Soal
jumlah ini, diakui sendiri oleh Vatikan di mana diakui, bahwa jumlah
umat Islam di dunia 19,2 persen dan Katolik 17,4 persen.
Memang
bisa dilihat, peledakan jumlah umat Islam dan semangat berislam telah
sampai di Amerika, Australia, Inggris dan belahan Eropa lain. Begitu
pesatnya perkembangan Islam, ujar Hamid, sampai-sampai umat Islam
Inggris berharap agar hukum Islam bisa diadopsi di negeri itu.
“Sebab, kenyataannya, persoalan umat Islam hanya bisa diselesaikan dengan cara
Islam, bukan cara Barat,” ujar Hamid.
Perkembangan
ini, ujar Hamid, bahkan tidak hanya pada sektor hukum. Sektor-sektor
ekonomi Islam mulai berkembang begitu pesatnya. Nampaknya, Barat begitu
terancam dengan pesatnya perkembangan Islam ini.
Mendukung Paham Liberal
Pria yang juga Direktur Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS),
Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo ini,
kemudian mengungkapkan rencana-rencana Barat terhadap Islam sebagaimana
yang telah direkomendasi Cheryl Benard dari Rand Corporation --think-thank
neo-conservative AS yang banyak mendukung kebijakan Gedung Putih— berjudul
“Civic Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies” (2003) yang
secara detil mengungkap masukan-masukan kepada pemerintah AS terhadap umat
Islam.
Cheryl
melakukan klasifikasi terhadap umat Islam berdasarkan kecendrungan dan
sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai Demokrasi. Ada
empat rekomendasi yang diberikan Cheryl.
Pertama, Kelompok Fundamentalis:
Menurutnya, kelompok ini menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan
Barat kontemporer. Mereka menginginkan negara dan Hukum Islam
Kedua, Kelompok Tradisionalis. Mereka yang ingin suatu masyarakat yang
konservatif. Mereka mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan.
Ketiga, Kelompok Modernis. Mereka ini
ingindianggap Islam menjadi bagian modernitas global. Mereka juga ingin
Islam dimodernkan dan direformasi sesuai dengan zaman.
Keempat, Kelompok Sekularis (Liberal). Yangingin
Islam dapat memisahkan antara agama dan Negara. Menerima ide-ide
demikrasi Barat dan ingin membatasi agama hanya menjadi urusan pribadi.
Dengan
kata lain, Cheryl berharap Barat dan Amerika mendanai dan mendukung
kelompok yang keempat dan memusuhi kelompok pertama. “Jadi jangan heran
jika prokyek-proyek dan dana mereka (kelompok keempat) begitu banyak
dan luar biasa, “ ujar Hamid. Hanya saja, kata Hamid, banyak umat Islam
tidak sadar akan bahaya ‘racun’ liberalisme ini. “Bahkan ada orang yang sudah
keracunan, tapi dirinya tak merasa dia sedang keracunan, “ tambahnya.
[cha/www.hidayatullah.com]
[Non-text portions of this message have been removed]