Pengamen Yang Ku Temukan
Mochammad Moealliem

Lama
rasanya aku tak memberi kesempatan jariku menari di panggung keyboard,
dan membiarkan otakku terpasung oleh paku bumi nusantara yang sejak
lama kurindukan, kutatap erat semua yang bisa dicapai mataku yang
kebetulan harus berkacamata untuk membedakan antara yang baik dan yang
buruk, sebab jika tanpa kacamata aku hanya mampu memandang dalam jarak
dekat. semua yang berjarak agak jauh akan terlihat sama buruknya, alias
sama buramnya baik cakep atau jelek terlihat sama-sama tidak jelas.



Akan
tetapi ketika aku memakai kacamata, orang cakep di kejauhanjarak pun
tampak jelas, apalagi yang buruk lebih tampak jelas, apalagi sifat
manusiawi selalu mengajakku terseret pada pepatah lama, semut
diseberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak. Bukan
hanya itu tentunya dengan kacamata fisik aku dapat melihat jerawat
orang walaupun aku tak bisa melihat jerawatku sendiri yang menghias
langit dengan bintang-bintang yang tak bersinar di wajahku.
 
Dulu
ketika saya masih di Mesir, sebagai mahasiswa pecinta lingkungan, saya
suka berkeliling dengan menikmati bus kota yang mirip eropa (yang mirip
hanya berjalan di sebelah kanan dan sopir di bagian kiri he3)
setidaknya saya dapat memadukan dengan apa yang pernah kulihat di
Indonesia, dimana para penghibur perjalanan begitu banyak dan berkelas,
meski masih dalam tingkat jalanan. Hal demikian tak pernah saya temukan
selama di Mesir, pengamen kelas bus kota raib di telan budaya, hanya
pengamen kelas kafe dan panggung yang masih dapat bernafas.

Pernah
kadang saya timbul rasa kangen pada penghibur perjalanan, apalagi yang
membuat kita tertawa mengurangi kepenatan dalam perjalanan jauh, namun
itu tak terpuaskan ketika kita berada di Mesir, dan terkadang kita
rindu suasana Indonesia (asal gak berlebihan he3). Setidaknya kita akan
idealis dengan suasana yang kita rindukan, kalau pengamen maunya
lagunya yang bagus, wajahnya yang cakep, kreatif, dan tidak memaksa.

Akhirnya
dalam tiga bulan terakhir aku menemukannya dengan berbagai corak yang
khas, seperti seorang yang baru lahir tentu akan kaget dan menangis,
tanpa aku tahu alasan yang pasti kenapa menangis dulu sebelum tertawa?
namun aku tidak menangis, aku hanya prihatin dengan negeriku, ketika
zaman berubah tak kenal henti, hingga kreatifitas itu harus berubah
menjadi kriminalitas..

Dulu sebelum saya pergi ke Mesir, saya
menemukan pengamen yang kreatif, lagunya bagus, tidak memaksa. Kemarin
ternyata aku menemukan kembali, meski sebelumnya saya juga menemukan
orang-orang yang tak kreatif, lagunya gak jelas, memaksa dengan berkata
“tolong dihargai!”, padahal sudah saya berikan dua keping uang 500 an,
ada apa gerangan? 

Ada juga yang ngasih hiburan gratis bahkan
dia bukan pengamen, dia adalah pedagang kipas angin tanpa listrik, dia
bilang “kipas tanpa listrik, kalau nyetrum uang kembali” ya memang dia
benar, soalnya kipasnya dari anyaman bambu, orang jawa menyebutnya
“tipas”.

Ada juga yang bernyanyi tiga lagu, namun tak minta di
hargai seperti yang diatas, terkadang terbesit, bahwa akan saya hargai
orang-orang yang kreatif, dan saya pikir hanya orang-orang kreatif yang
akan bertahan lama dalam mengarungi hidup dalam sisi apapun, terlebih
jika hidup di kota Jakarta. Segala sesuatu adalah berujung pada duit,
dan itulah realita yang ada, fasilitas umum yang gratis hanyalah “no
smoking area”.

Kupandangi orang-orang yang sedang membuat
sejarah bagi diri mereka di kota Jakarta, setidaknya aku bisa memetik
sedikit ilmu tentang kehidupan secara nyata, dimana selama ini saya
hidup dalam ranah teori dan konsep, yang tak cukup mudah teori dan
konsep itu kita terapkan pada lingkungan, terlebih lingkungan yang
bervariasi, dan waktunya terkuras untuk kerja, yang sangat berbeda
ketika kita bermasyarakat ala mahasiswa mesir yang kebanyakan
pengangguran, satu golongan, dan punya daya pikir yang setaraf, kalau
pun hal itu boleh dianggap miniatur sebuah negeri tercinta, tentunya
belum bisa mencukupi jika kita tidak turun langsung.

Ternyata
apa yang kita rindukan tak menjanjikan kebahagiaan, mungkin hanya satu
hal yang bisa membuat kita bahagia merindukannya, dia adalah Pemilik
kerinduan, hanya saja gerbangnya adalah kehidupan dan kematian, gerbang
kematian akan mengantar kita menuju ruang tunggu hingga mendapat waktu
giliran, namun gerbang kehidupan akan mengantar kita pada ruang rindu
pada ciptaan, dan itu bisa terwujud ketika manusia mulai melangkah
dalam pernikahan, ujungnya pun adalah gerbang kematian, tentunya untuk
mencapai Sang pemilik kehidupan akan mengalami etape-etape yang perlu
dilakukan, sebagaimana Ibrahim telah mempraktekan hingga kita kenang,
sebuah perjuangan pembuktian kerinduan pada yang seharusnya, yang harus
berhadapan dengan perasaan yang mengiris-iris, dari sejak sejak lahir
hingga darah tak lagi mengalir. sejarah begitu indah dan membuat kita
tersenyum, namun membuat sejarah adalah perjuangan yang tak mampu
digambarkan.

Allim
Tangerang, Selasa 08 Desember 2008
Fa ammas saila fala tanhar


Mochammad Moealliem  http://www.muallimku.blogspot.com or 
http://tech.groups.yahoo.com/group/kang_guru/
Virtual Islamic Education klik disini
 

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke