http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/10/13565297/cek.kemampuan.kontrol.diri.anda
..


*Cek Kemampuan Kontrol Diri Anda! *


TIAP orang memerlukan kebebasan untuk menjadi kreatif dan mengaktualisasi
diri. Di sisi lain, kendali dari dalam diri diperlukan sebagai regulasi atas
dorongan dan kemampuan yang dimiliki, baik secara fisik, psikis, maupun
perilaku.

Bertindak tanpa pikir panjang merupakan ciri khas yang melekat pada
anak-anak. Mereka bertindak spontan. Bila sakit mereka akan menangis di mana
saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja. Bila gembira, anak yang sehat
akan berlarian, mencoret-coret, berteriak-teriak girang, atau melakukan apa
pun yang ia inginkan.

Bayangkan bila perilaku semacam ini dilakukan oleh remaja atau orang dewasa.
Tentu saja cukup aneh. Kita akan merasa sangat terganggu bila menemukan
seseorang yang bukan lagi anak-anak bertindak sesuka hati, membiarkan
dorongan-dorongan atau keinginan yang bersifat egoistis termanifestasi
begitu saja.

Semakin bertambah usia seseorang, ia diharapkan semakin memiliki kendali
atas perilakunya sendiri. Dengan kata lain, semakin mengembangkan
kemampuannya mengontrol diri.
Kendali/kontrol diri (self-control) adalah pengaruh atau atau regulasi
seseorang terhadap fisik, perilaku, dan proses-proses psikologisnya (Calhoun
& Acocella, 1990). Ini merupakan hal yang sangat penting dalam hidup
seseorang. Mengapa?

Pertama, kontrol diri berperan dalam hubungan seseorang dengan orang lain.
Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa kita tidak hidup sendirian,
melainkan di dalam kelompok, di dalam masyarakat. Padahal, kita memiliki
kebutuhan pribadi seperti makanan, minuman, kehangatan, dan sebagainya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita perlu mengendalikan diri sedemikian
rupa, supaya tidak mengganggu orang lain.

Kedua, kontrol diri berperan dalam pencapaian tujuan pribadi. Setiap orang,
dari budaya mana pun, selalu berharap mencapai tujuan tertentu dalam
hidupnya. Contohnya, tujuan untuk memiliki kompetensi tertentu, mencapai
kematangan pribadi, dan sebagainya, sesuai dengan standar yang ada dalam
masyarakat.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut kita perlu belajar dan berusaha
terus-menerus, dan mengendalikan diri dengan menunda pemuasan
kebutuhan-kebutuhan sesaat demi mencapai tujuan jangka panjang.

Dengan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri sebaik-baiknya, kita akan
menjadi pribadi yang efektif, sehingga dapat secara konsisten merasa
bahagia, bebas dari rasa bersalah, hidup lebih konstruktif, dapat menerima
diri sendiri, dan juga diterima oleh masyarakat.

Kontrol Internal dan Eksternal
Semakin bertambah usia, seseorang diharapkan untuk semakin mengembangkan
kemampuan mengendalikan perilakunya. Dari mana sumber kontrol perilaku
seseorang? Sumbernya dapat dibedakan menjadi dua: faktor di dalam dan di
luar diri seseorang.

Kontrol perilaku yang bersumber dari dalam diri biasanya disebut sebagai
kontrol internal, dan yang bersumber dari luar diri disebut kontrol
eksternal. Dalam kontrol diri (internal), individu mengatur perilaku dan
standar kinerjanya sendiri; memberi ganjaran bagi dirinya sendiri bila
berhasil mencapai tujuan; dan menghukum dirinya sendiri bila tidak berhasil
mencapai tujuan.

Di sisi lain, dalam kontrol eksternal, individu menempatkan orang lain
sebagai penentu (yang menjadi penyebab) perilaku, standar kinerja, dan
ganjaran-ganjaran yang diperolehnya.
Dari dua jenis kontrol perilaku tersebut, kontrol pribadi (internal) dinilai
lebih berharga. Sepanjang kita menggantungkan diri pada kontrol eksternal,
kehidupan kita sebagian besar ditentukan oleh orang lain. Sebaliknya, dengan
mengembangkan kontrol diri (internal) berarti kita mengendalikan dua hal:
diri sendiri dan dunia sekitar kita.

Problem Pengendalian Diri
Seperti telah dijelaskan di atas, kontrol diri yang berkembang dengan baik
akan memberikan banyak keuntungan bagi seseorang. Namun, dalam kenyataan,
tidak semua kita mampu melakukan pengendalian diri secara konsisten.

Kemampuan pengendalian diri kita bervariasi. Ada orang yang sering terlalu
banyak minum (hingga mabuk), yang lain terlalu banyak makan, yang lain lagi
mudah kehilangan kontrol emosi, cenderung menunda pekerjaan, dan sebagainya.
Bagaimana hal ini dapat terjadi?

Seperti halnya kontrol diri yang kuat, kontrol diri yang lemah juga
berkembang melalui proses belajar. Contohnya, seorang remaja yang tetap
impulsif, yakni selalu marah bila keinginannya tak terpenuhi, kemungkinan
menjadi demikian karena sejak kecil orangtuanya selalu menuruti segala
permintaan (berfungsi sebagai ganjaran) setiap kali anaknya itu merengek
meminta sesuatu, terlebih-lebih bila anaknya mulai marah.

Ketika pola ganjaran semacam ini terjadi berulang-ulang, berarti si anak
mengalami proses pembelajaran bahwa permintaannya pasti terpenuhi bila
disertai marah. Selanjutnya ia mengembangkan pola perilaku marah setiap kali
permintaannya belum terpenuhi.

Seseorang yang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan, mungkin menjadi
demikian karena sejak kecil terbiasa bekerja dalam tekanan orangtua
(berfungsi sebagai hukuman). Dalam situasi demikian ia termotivasi melakukan
tugas hanya untuk menghindari hukuman. Akibatnya, dalam situasi tanpa adanya
tekanan, ia cenderung bermalas-malasan.

M.M. Nilam Widyarini, MSi, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Guna
Dharma, Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke