Ada buku tentang Yerussalem, lupa judul lengkapnya ditulis oleh seorang 
Indonesiana (Kristen) namanya Tias...(lupa juga), dan pengantar kata nya 
diberikan oleh Suhaemi (NU).

Saya dengar pembicaraan ttg resesnsi buku tsb di radio Sonora hari minggu (ada 
pak Tias dan pak Suhaeminya juga, mereka berdua pernah berkunjung ke 
Yerussalem). Itu pengalamannya pak Tias waktu berkunjung ke Yerussalem. Dia 
ingin membawa suasana damai di Yerussalem itu ke Indonesia. Ironisnya didaerah 
yg berdekatan dgn Yerussalem, yaitu di kota Gaza sedang berkecamuk perang. 
Orang2 di Yerussalem tidak peduli dengan perang tsb karena mereka meyakini itu 
politik semata.

Di Yerussalem, mereka bisa hidup damai: yang meratap (berdoa) ya meratap di 
dinding ratapan, Yang menyanyi ya menyanyi di gereja, 
dan yang sholat ya sholat..di masjid. So what ?

mari kita cari bukunya.
Wassalam,Lina Dahlan 




________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; [email protected]
Cc: [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected];
 [email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Tuesday, January 13, 2009 1:48:11 AM
Subject: FWD: Sekitar Catatan Palestina


-----Original Message-----
From: pttwr <[email protected]>
To: Undisclosed-Recipient:;
Sent: Sun, 11 Jan 2009 11:03 pm
Subject: Berita seputar perang Israel & Palestina

Beberapa Catatan dari Israelnya mas Luthfie
    
Jan 8, '09 5:36 AM
for everyone

"Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang saya 
dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh memori 
konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan 
orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti saya 
akan mengubah pandangannya tentang Israel dan orang-orangnya.

Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada saya 
bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks dalam 
bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang muncul di 
benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak Palestina (seperti 
kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar 
belaka. Dia bukan sedang berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari 
sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang 
senang dengan informalities dan cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan joke-joke 
terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke 
tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang katanya "more jewish than me." Dalam 
jamuan lunch, seorang diplomat Israel berperilaku serupa, membuka hidangan 
dengan cerita jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang Israel. 
Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan tetangganya yang 
Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua budaya Mediteranian memang 
seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini yang membedakannya dari orang-orang 
Arab: kecerdasan orang-orang Israel di atas rata-rata manusia. Ini bukan 
sekadar mitos yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, 
ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang 
berlipat jumlahnya itu tak pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika kita 
bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang perempuan, semua 
orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan itu. Patutlah bahwa 
sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling tidak para 
pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan profesional, yang saya 
jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab. Mereka senang sekali 
mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab. Berbahasa Arab semakin membuat kami 
merasa akrab. Belakangan baru saya ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa 
formal/resmi Israel. Orang Israel boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan 
Arab, di parlemen, ruang pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan sekadar 
mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel. Dengan menguasai 
bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah barrier untuk menguasai 
orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab tak mengerti apa yang sedang 
dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani adalah bahasa asing yang bukan 
hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa 
bebas menikmati televisi, radio, dan surat kabar dari Arab (semua informasi 
yang disampaikan dalam bahasa Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa 
Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita 
melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan 
tugasnya dengan benar. Di tempat2 strategis seperti itu, mereka memang harus 
serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang diincar 
dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor2 imigrasi 
(termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari sepotong tanah yang 
tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi sebuah surga di Timur 
Tengah. Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti avenues di New York atau 
Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya pada Seattle atau Queensland. 
Sistem irigasi Israel adalah yang terbaik di dunia, karena mampu menyuplai 
jumlah air yang terbatas ke ribuan hektar taman dan pepohonan di sepanjang 
jalan.

Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan karena ada memori 
holocaust yang membuat mereka terpacu untuk memiliki sebuah negeri yang 
berdaulat, tapi karena mereka betul-betula bekerja keras menyulap ciptaan Tuhan 
yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami. Mereka tak akan mudah menyerahkan 
begitu saja sesuatu yang mereka bangun dengan keringat dan darah. Setiap 
melihat keindahan di Israel, saya teringat sajak Iqbal:

Engkau ciptakan gulita
Aku ciptakan pelita
Engkau ciptakan tanah
Aku ciptakan gerabah

Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya'kub) adalah satu-satunya Nabi yang berani 
menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan itulah, nama 
Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan) disematkan kepada Jacob. Di 
Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel menang telak bergulat dengan Tuhan.

Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka sulap dari 
bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan historis 
untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa, seperti kata 
Benedict Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia lebih banyak 
terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas. Bangsa Yahudi, 
lewat doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.

Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki saya: 
"orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina, setelah 
disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka buat saja di 
negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?" Problem besar orang-orang 
Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima "two state solution," 
meski itu adalah satu-satunya pilihan yang realistik sampai sekarang. Jika saja 
orag-orang Palestina dulu mau menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah 
akan lain, mungkin tak akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, 
mungkin tak akan ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi 
orang-orang Arab, Palestina adalah satu, yang tak bisa dipisah-pisah. Bagi 
orang-orang Israel, orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam 
kelemahan.

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerussalem, tentang al-Aqsa, 
dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau tidak, Kota Tua tidak seperti 
yang saya bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada persis di tengah 
lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah Abang lama atau Terminal Pulo 
Gadung sebelum direnovasi. Tentu saja, sepanjang sejarahnya, ada 
perluasan-perluasan yang membentuknya seperti sekarang ini. Tapi, jangan 
bayangkan ia seperti Istanbul di Turki atau Muenster di Jerman yang mini namun 
memancarkan keindahan dari kontur tanahnya. Kota Tua Jerussalem hanyalah 
sebongkah tanah yang tak rata dan sama sekali buruk, dari sisi manapun ia 
dilihat.

Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua dari atas bukit. 
Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang sama sekali tak menarik itu 
begitu besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan pertikaian ribuan 
tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika tak ada Kuil Sulayman, 
dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah sebuah tempat kecil yang tak 
menarik. Berada di atas Kota Tua, saya terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin 
al-Ayyubi, Richard the Lion Heart, the Templer, dan para penziarah Eropa yang 
berbulan-bulan menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan 
salib-salib. Agama memang tidak masuk akal.

Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian dari Jerussalem 
Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum perang 1967. Setelah 1967, Kota Tua 
menjadi bagian dari Israel. "Dulu," katanya, "ada tembok tinggi yang membelah 
Jerussalem Timur dan Jerussalem Barat. Persis seperti Tembok Berlin. Namun, 
setelah 1967, Jerussalem menjadi satu kembali." Yang membuat saya tertegun 
bukan cerita itu, tapi pemandangan kontras beda antara Jerussalem Timur dan 
Jerussalem Barat dilihat dari ketinggian. Jerussalem Timur gersang dan 
kerontang, Jerussalem Barat hijau dan asri. Jerussalem Timur dihuni oleh 
sebagian besar Arab-Muslim, sedangkan Jerussalem Barat oleh orang-orang Yahudi.

Saya protes kepada Guide itu, "Mengapa itu bisa terjadi, mengapa pemerintah 
Israel membiarkan diskriminasi itu?" Dengan senyum sambil melontarkan sepatah 
dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu menjelaskan: "ya akhi ya habibi, kedua 
neighborhood itu adalah milik privat, tak ada urusannya dengan pemerintah. Beda 
orang-orang Yahudi dan Arab adalah, yang pertama suka sekali menanam banyak 
jenis pohon di taman rumah mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa 
kita pandang dari sini, mengapa Jerussalem Barat hijau dan Jerussalem Timur 
gersang." Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: "What went wrong?"

Ada banyak pertanyaan "what went wrong" setiap kali saya menyusuri 
tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi kepada empat 
perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia. Pembagian ini 
sudah ada sejak zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan Yahudi 
sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang cozy. Begitu 
juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia. Tibalah saya masuk 
ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang quarter itu tampak gelap, 
tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di mana-mana. Bau tak sedap terasa 
menusuk.

Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter Muslim, tampak tak 
terurus. Ketika saya belanja di sana, saya hampir tertipu soal pengembalian 
uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan hanya kotor, tapi pedagangnya juga punya 
hasrat menipu.

Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di perkampungan Islam 
adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa (mereka menyebutnya Haram 
al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak tertanggulangi, yang 
berasal dari sebuah teologi abad kegelapan. You know what? Saya dengan bebasnya 
bisa masuk ke sinagog, merayu tuhan di tembok ratapan, dan keluar-masuk gereja, 
tanpa pertanyaan dan tak ada penjagaan sama sekali.

Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam tentara 
Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh berbaju Arab, 
menghadang, dan mengetes setiap penziarah yang akan masuk. Pertanyaan pertama 
yang mereka ajukan: "enta Muslim (apakah kamu Muslim)?" Jika Anda jawab ya, ada 
pertanyaan kedua: "iqra al-fatihah (tolong baca al-fatihah)." Kalau hafal Anda 
lulus, dan bisa masuk, kalau tidak jangan harap bisa masuk.

Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja dengan bahasa 
Arab, yang membuat mereka tersenyum, "kaffi, kaffi, ba'rif enta muslim (cukup, 
cukup, saya tahu Anda Muslim)." Saya ingin meledak menyaksikan ini karena untuk 
kesekian kalinya kaum Muslim mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah 
wilayah turisme dan bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen 
rupanya menyadari itu, dan karenanya mereka tak keberatan jika semua 
pengunjung, tanpa kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.

Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang dengan rasa 
superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada gunanya). Akibat screening 
yang begitu keras, hanya sedikit orang yang berminat masuk Haram al-Syarif. 
Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf, itupun tak penuh. 
Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan seluruh latarnya termasuk Qubbat 
al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi di Madinah. Rumah tuhan ini 
begitu sepi dari pengunjung.

Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang non-Muslim haram 
masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak pandai membaca 
al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu menganggap non-Muslim 
adalah najis yang tak boleh mendekati rumah Allah.

Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke tembok ratapan, 
protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya begitu dimanja dengan kebodohan 
yang tak masuk akal.

Luthfi Assyaukanie (Facebook)
Tags: luthfie, artikel, jil
Prev: Zionisme, Nasionalisme, dan Israel




________________________________
A Good Credit Score is 700 or Above. See yours in just 2 easy steps! 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke