http://www.antara.co.id/arc/2009/2/8/telaah---mencermati-tiga-etape-perjalanan-panjang-china/

08/02/09 09:39

Telaah --- Mencermati Tiga Etape Perjalanan Panjang China



Oleh Bob Widyahartono MA  *)
                              
Jakarta (ANTARA News) - Tahun 2009  dalam horoskop China disebut sebagai "tahun 
Kerbau" berelemen tanah (Earth Ox Year). Sejak melajunya era Deng Xiaoping 
(1978),  masyarakat Indonesia, terutama para elite birokrasi pemerintahan, 
eksponen bisnis termasuk manajemen menengahnya, mencermati, perkembangan 
politik, ekonomi dan budaya China, sekalipun banyak yang meragukan makna 
menimba belajar dari China.

Tanpa menganggap enteng, kini sejak tahun lalu, dunia mengalami  krisis ekonomi 
global yang diakibatkan dan gulirkan ke bagian besar dunia oleh  sistem 
perekonomian  kapitalisme berjiwa  dan berwujud neo-liberalisme  Amerika 
Serikat (AS), antara lain rontoknya pasar modal Wall Street, dan berbagai 
kegagalan antara lain sub-prime mortgage AS.
  
Berbagai kalangan di Indonesia, termasuk penulis, mencemaskan obatnya krisis 
masih satu dua tahunan. Karena itu, elite birokrasi, bisnis dan kalangan kelas 
menengah kita perlu belajar dan mencermati perjalanan panjang banga China  yang 
penuh dinamika naik-turun, termasuk dalam  berjaga-jaga  menghadapi dampak 
krisis itu  memasuki tahun tahun yang akan datang.

Evelyn Lip (PhD Arch) dalam "Out of China",(Addision Wesley Publishing Company 
1993) yang dikenal luas sebagai pakar arsitektur internasional menyadari bahwa 
membutuhkan lebih dari satu masa  hidup (life time) untuk menggapai pengetahuan 
dalam segala bentuk dan kebajikan fisafat China. Artinya, "tiada akhirnya untuk 
terus belajar" (there is no end in learning = xue wu zhong zhi).

Perkembangan bangsa China sejak 1949, merupakan perjalanan panjang (long march) 
 yang setiap etapenya 30 tahunan. Diawali dengan eranaya Mao Zedong 1949-1976 
dengan ketertutupan masyarakat dan ekonomi terencana yang ketat.

Kejadian kejadian di China jelas tidak dapat dipahami tanpa suatu rasa hormat 
pada fenomena Deng Xiaoping sebagai pemimpin pelopor etape keduanya. Impian 
awal tahun 1980an untuk suatu masa depan yang lebih cemerlang di China makin 
menampak dalam realita di bawah kepemimpinannya. Nah, marilah kita mengikuti  
perjalanan panjang sejarah China tiap etapenya 

Long march pertama (1949-1978)

Ditinjau dari segi ekonomi sosial, China  tadinya  suatu masyarakat 
"non-materialistis" yang dilandasi ajaran Maoisme di bawah kepemimpinan Mao 
Zedong, China 1949-1976  yang segala kehidupan politik, ekonomi dan budaya 
diputuskan di Pusat Pemerintahan  Beijing. Ketika zaman itu Eropa Timur sebelum 
era keterbukaan disebut "negara tirai besi" (the iron curtain).

China di bawah kepempimpian Mao Zedong (1949-1976) dijuluki sebagai 
ketertutupan oleh "tirai bambu" (the bamboo curtain).

Long march kedua (1978-2008)
  
Ekonomi-pasar sosialis yang digerakkan oleh nilai nilai kemakmuran individual 
sebagai reformasi yang dipelopori Deng Xiaoping sejak 1978 itu  disebut sebut 
sebagai "gaige kaifang" ( membuka diri dan reformasi tata kelola.
Figur Deng Xiaoping tidak  hanya banyak  dikagumi dalam negerinya tapi oleh 
dunia luar  China.  Sepatutnya disebut disini kekaguman  oleh negarawan Malasya 
Dr. Mahathir Mohamad  dalam â??Globalization with common Developmentâ?? 
(Oktober 2001) yang antara lain â??â?¦.Tidak perlu diragukan bahwa salah 
seorang agung (great men) abad 20 adalah Deng Xiaoping,

Bapak  Empat Modernisasi China. Juga tidak usah diragukan bahwa dua dari petuah 
 bijaksana (wise sayings) harus berada dalam benak pikiran kita ketika kita 
berbicara mengenai isu isu besar masa kini, bahkan  setiap masa.

Kedua petuah  tidak bisa diabaikan sebagai sarana untuk menganalisis  dan 
sebagai pedoman bernilai dalam setiap tindakan kita. Deng berucap bahwa kita 
harus mencari kebenaran dari fakta. Artinya, kita jangan mendeduksi kebenaran 
hanya dari harapan harapan, sekalipun harapan harapan itu terhitung mulia.

Status historis dan signifikansi teori Deng Xiaoping yang dikenal sebagai 
"empat prinsip dasar" yang oleh Deng sendiri disebut sebagai langkah awal 
reformasi dan kebijakan membuka diri (gaige kaifang).

Prinsip dasar modernisasi , antara lain menumbuhkembangkan pemikiran dan 
mencari kebenaran dari fakta Pemahaman yang jelas tentang apa yang disebut 
â??"sosialisme dan bagaimana membangunnya" disertai reformasi menyeluruh.

Digantinya  prinsip pertentangan kelas dengan pembangunan ekonomi dan 
digantinya ekonomi terencana (planned economy) dengan ekonomi pasar sosialis. 
Penilaian yang cermat dan ilmiah atas perubahan perubahan dalam situasi global. 
Suatu sistem sosialisme dengan karakteristik China.

Makin  jelas visi Deng Xiaoping "gaige kaifang" yang tidak terbatas pada 
ekonomi, tetapi sudah memasuki peta geopolitik sosial budaya Ungkapan 
pragmatisterkenal Deng antara lain tidak peduli apakah kucing itu hitam atau 
putih warnanya, tapi kucing itu harus menangkap tikus dan menjadi kaya itu 
mulia.

Teorinya tidak mutlak untuk negaranya, tapi menjadi panduan para  penerus  
elite pemimpin bangsanya.

Penerus kepemimpinan China, duet Jiang Zemin/Zhu Rongji (1992-2003) dan Hu 
Jintao/Wen Jiabao (2003-2008) dan periode keduanya. Hu/Wen tetap memantapkan 
visi Deng Xiaoping dalam ber-internasionalisasi.

Yuan Ming, gurubesar hubungan internasional pada Universitas Beijing, sebagai  
pakar mengenai Amerika dalam wawancaranya dengan Thomas L. Friedman yang 
dituangkan dalam "Understanding Globalization: The Lexus and the Olive Tree" 
(2000) tidak sepenuhnya mendukung istilah globalisasi.

Yuan Ming mengungkapkan pola pikir kritis China terhadap arogansi global 
Amerika, dengan menyatakan bahwa pemimpin politik China dalam ungkapan ungkapan 
publik tidak memakai istilah globalisasi, tapi  lebih suka memakai istilah 
modernisasi.

Globalisasi menunjukkan sesuatu yang tidak digemari oleh pikiran China  karena  
didesakkan oleh Barat atau Amerika. Sebaliknya, modernisasi adalah sesuatu yang 
dapat dikendalikan (something we can control).

Ada suara menyegarkan dari pihak China dalam konperensi WTO, 10-14 September 
2003 lalu di Cancun, Meksiko. Sebagai anggota baru, Cina menyatukan diri dengan 
negara negara dunia ketiga, bersama Brasil dan Indonesia, menjadi sponsor utama 
kelompok 21 yang menuntut penghapusan subsidi produk pertanian AS dan Uni Eropa.

Sikap China benar benar berpihak pada negara negara miskin. Kini memasuki 
putaran WTO Doha  2008 tentunya kelompok 21 tetap memiliki kebersamaan bahka 
sampai siding WTO tahun lalu.
   
Memasuki long march ketiga mulai 2008

Alih generasi pemimpin China ke generasi ke empat Hu Jintao/Wen Jiabao 
mencuatkan dominasi inti teknokrat dalam mengendalikan pembangunan yang 
berkelanjutan (sustainable development). Dalam hubungan ini adalah  pragmatisme 
dengan arus teknokrat "si hua" atau empat mengubah remaja, mengubah menjadi 
bersemangat kerja keras dan cerdas, mengubah menjadi profesional dan mengubah 
menjadi berpendidikan. Jadi kader kader Partai tidak boleh lagi hanya berbekal 
pengetahuan yang berasal dari buku indoktrinasi.

Setiap bangsa dapat bangkit dan mencapai tingkat kemakmuran oleh budaya 
produktivitas. Budaya ini juga diresapi oleh bangsa China. Budaya ini  muncul 
akibat persaingan antar-bangsa yang mencuat setelah terjadinya gejala 
globalisme dan  menjadi menarik  karena terlibatnya peran negara dalam 
persaingan, dan elemen kultur tersebut.
  
Selain itu, rencana  pembangunan infrastruktur fisik jalanan, kereta api dari 
Utara ke Selatan, dari Timur ke Barat, pembangunan  Chu Chiang river Delta dan 
industrial parks melengkapi kemajuan kawasan industri yang sudah ada di Kawasan 
Timur.

Yang mengusik kita adalah apakah memasuki eranya Hu Jintao ini sudah mulai  
tersusun Model modernisasi China? Bangsa China sendiri merasakan bahwa pejabat 
China bukan penghalang, bahkan malahan menjadi pendorong beroperasinya  ekonomi 
pasar sosialis, yang tanggap dan tangguh merespons krisis ekonomi global yang 
digelindingkan As dengan kapitalisme yang berjiwa neo-liberalisme  diawali 
dengan rontoknya Pasar Modal Wall Street tersebut di atas.
  
Inilah beberapa butir yang dapat kita pelajari sebagai bahan tanpa menjiplak 
mentah mentah proses  dan  apa yang berlaku bagi China.

*) Bob Widyahartono MA ([email protected]) adalah pengamat studi pembangunan, 
terutama kawasan Asia Timur; dan Lektor Kepala Fakultas Ekonomi Universitas 
Tarumanegara (FE Untar).

COPYRIGHT © 2009


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke