Bab Sholat Lima Waktu

Assalammu'alaikum wr wb,

Kata "sholat"itu asalnya dari gabungan tiga huruf Hijaiyah "wauw,shot,lam" yang 
mengandung arti dasar "hubungan, menghubungi, terhubung, sambung, ikatan". Jika 
dilihat dari "weltaanschaung" Wahyu Qurani maka yang dihubungi, disambungkan, 
yang terhubungkan itu adalah relasi manusia dengan Realitas Obyektif Mandiri 
yang dalam yargon teologi dinamakan sebagai "tuhan". Orang Arab menamakan Yang 
Patut Dipuja (al-illah) atau tuhan adalah ALLAH swt. Definisi atau kriteria 
illah orang Arab sebelum turun Wahyu Qurani berbeda secara hakiki dengan illah 
yang menyatakan DIRI kepada rasulullah Muhammad saw melalui Wahyu Qurani. 

Kita sebagai bukan orang Arab yang dilahirkan bukan di semenanjung Arabia pula, 
perlu memahami definisi dan kriteria illah yang bernama ALLAH swt tersebut 
karena kita mengaku Muslim. Definisi atau kriteria ALLAH swt itu sudah 
diumumkan sendiri oleh Yang Memiliki Nama itu dan dimuat dalam Wahyu Qurani. 
Marilah kita semuanya membaca Wahyu Qurani itu kembali guna menemukan definisi 
dan kriteria tentang nama tersebut, betul-betul mencarinya sendiri, membacanya 
sendiri. Jangan menurut kata 'ulama atau sarjana, tetapi diri pribadi kita 
berusaha mencari dan membacanya dari lembaran-lembaran Kitab Al-Quranu 
al-Kariim. Sesudah kita memahami ALLAH swt itu per definisi dan kriteria siapa, 
bagaimana dan apa? selanjutnya kita kalibrasikan pemahaman dan pengertrian kita 
pribadi mengenai Allah swt dengan pemahaman dan pengertian kita yang didapat 
dari mengenal definisi dan kriteria Wahyu Qurani. Dengan kalibrasi sedemikian 
itu kita akan mampu menemukan kesalahan, penyimpangan dan kekurangan pemahaman 
dan pengertian diri pribadi terhadap Allah swt - kemudian kita lakukan KOREKSI, 
PEMBETULAN. Sehingga kita capai suatu pemahaman dan pengertian sebagaimana yang 
telah DIWAHYUKAN dalam Wahyu Qurani. 

Sesudah menemukan dan memahami definisi dan kriteria tadi maka dalam "sholat" 
mari diusahakan HANYA BERHUBUNGAN DAN MENGHUBUNGI ALLAH swt saja yang sesuai 
dengan definisi dan kriteria Yang Memiliki Nama tersebut. Dalam menghubungi 
maupun berhubungan (aqiimu sholat) kita harus sanggup membebaskan diri pribadi 
kita dari semua ikatan dan hubungan selain dengan Allah swt. Marilah 
bersama-sama dilakukan dengan IHLAS sebagaimana paru-paru kita menghembuskan 
dan menyerap udara segar sebelum melakukan sholat subuh (saya biasa jalan di 
luar rumah sebentar sebelum sholat subuh). Sesudah melaksanakan sholat 
selanjutnya kita laksanakan JUGA apa-apa yang sudah kita lafalkan dalam sholat, 
semenjak takbirau al-ihrom hingga salam, ke dalam polah dan laku serta 
pemikiran dan ucapan pribadi kita. 

Ritual sholat lima waktu yang kita lakukan dengan keihlasan mutlak itu tidak 
akan bermakna apapun apabila kita di luar ritual sholat tidak mengindahkan 
semua doa dan janji serta permohonan dan kesaksian yang barusan kita sampaikan 
di dalam ritual sholat tadi. Apalagi jika kita berpolah-laku bertentangan 
dengan sholat kita, maka kita akan dikemplangi oleh polah-laku sendiri di luar 
sholat ketika sedang melakukan sholat. Ya jelas saja tidak bisa sholat dengan 
nikmat dan khusuk. Bahkan merasa tidak betah lagi berdiri, rukuk dan sujud. 
Maunya cepat selesai dan keluar dari shof terus ke cafe internasional. 

Oleh sebab itu sholat (berhubungan, menghubungi, bersambung) itu SANGAT PERLU 
DAN PENTING SEKALI buat kita agar selalu memperoleh PETUNJUK atas kelalaian, 
kekeliruan dan kesalahan yang kita lakukan di luar ritual sholat. Menurut hemat 
saya inilah patrap rasulullah Muhammad saw dalam seluruh hidup beliau. Allah 
swt sendiri menganjurkan agar di dalam keadaan ketakutan bagaimanapun kita 
harus tetap melakukan ritual sholat. Karena sholat adalah saat-saat kita secara 
istimewa dan husus BERHUBUNGAN, BERMUNAJAD, BERJUMPA dengan Allah swt. Bahkan 
selama bertempur di medan pertempuran pun kita harus tetap melaksanakan ritual 
sholat secara bergiliran. 

Ritual sholat itu adalah suatu sistim kalibrasi psikologis terhadap aksi 
biologis manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya selama 24 jam penuh. Secara 
biologis kita merupakan suatu sistim organisasi canggih dari sel-sel hidup yang 
berkoordinasi secara memusat di mana partikel-partikel dasar alam semesta 
merupakan batu dasar bangunan biologis tubuh kita. Sehingga dalam aktivitas 
keseharian kita terjadi interaksi antara partikel-partikel dalam tubuh dengan 
partikel-partikel bebas alam semesta yang berlangsung pada medan elektro 
magnetis dan medan gravitasi beserta medan inti-atom kuat. Gerak interaksi 
demikian ini menyebabkan fluktuasi medan yang berakibat kepada menjadi 
ketidakberaturannya arah medan elektromagnetis dan medan gravitasi biologis 
kita. Sehingga kita mengalami stress dan dipresi dalam pengambilan referensi 
dan keputusan dalam bertindak. 

Untuk menanggulangi hal tersebut lima kali dalam 24 jam menghubungi dan 
menjumpai Allah swt dalam wujud ritual sholat adalah cukup guna mengatasi 
defisiensi pengabdian yang pas kepada Allah swt, di mana hidup itu sendiri 
adalah suatu pengabdian kita kepada Allah swt yang tidak terelakkan. Di dalam 
hal inilah yang saya maksud bahwa Al-Dinu al-Islam itu adalah Hukum alam 
semesta. Kita setuju Islam atau tidak setuju Islam nyatanya kita hidup menurut 
Hukum yang sudah ada semenjak alam semesta diciptakan. 

Kesimpulannya, marilah kita IHLASKAN hidup kita apapun bentuknya, sebagai 
Muslim kita laksanakan apa yang kita ucapkan dalam ritual sholat bila kita kita 
berada di luar sholat, yaitu dalam praktek hidup keseharian kita. Apabila kita 
ihlas atas hidup kita ini sebagai Muslim insya'Allah DADA kita akan dibuka, 
terbuka, membuka, menerima Rohmah dan Hidayah Allah swt. Alhamdulillahi Robbi 
al-'alamiin. Dan kita akan menjadi "satrio piningit" seperti wjangan Pak Dody 
ID dalam tulisan beliau "Bertemu Satrio Piningit" 

Semoga bermanfaat, hususnya bagi saya pribadi dalam belajar sholat

Wa bii Allahi taufiqu wa al-hidayah, Hu Allahu a'lam bii showab

Wassalam,
A.M 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke