http://www.ranesi.nl/tema/masyarakat/Mahfud_2009_02_19

Tidak Ada Kristenisasi di Indonesia
Justru Ada Islamisasi 
Bari Muchtar

19-02-2009


Di Gedangan, Salatiga, ada pesantren yang namanya tidak berbahasa Arab seperti 
kebanyakan pesantren. Pendiri dan pengasuhnya, KH Mahfud Ridwan, ikut aktif 
dalam dialog antara umat beragama di kawasan seputar Salatiga. Apa motivasinya? 

Ditanya kenapa nama pesantrennya tidak dalam bahasa Arab, alumni sastra Arab di 
Universitas Bagdad ini mengatakan, karena ia tidak fanatik dengan nama Arab. 
"Mungkin karena pernah lama di sana, jadi dak begitu taashub (fanatik, red) 
dengan nama Arab," katanya. 

Ia memilih nama Edi Mancoro karena berharap agar pondoknya bisa menyinar ke 
tempat-tempat yang jauh. Berbeda dengan pesantren-pesantren lain, para 
santrinya justru mengikuti studi formal di berbagai perguruan tinggi. Mereka 
belajar di pesantren sebelum dan selesai mengikuti kuliah. 

Tidak fanatik
Uniknya ada dua mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (USKW) Salatiga yang 
menjadi santri di sana. Ditanya alasannya, sambil ketawa ia mengatakan: 
"Kebetulan saya bukan orang fanatik. Maka kerjasamanya dengan Percik, dengan 
STT-STT di Salatiga dan di Ungaran" 

Para santri sudah biasa bekerjasama dengan kelompok agama lain, tambah teman 
sekuliah dengan Gus Dur di Irak ini. Dan pesantren sendiri malah sering 
dikunjungi para pastor dan pendeta, jelasnya. 

Menurut Mahfud, tujuan berdialog antar iman itu adalah untuk menghilangkan 
sekat-sekat antar golongan. Mengenai penyebab terjadinya sekat-sekat ia 
menjelaskan: "Karena kita-kita ini merupakan pewaris orang-orang yang sakit 
hati." 

Meski tiap agama mengaku pihaknyalah yang benar, tapi masing-masing tidak boleh 
memaksakan pendapatnya terhadap orang lain, tandasnya. "Karena keyakinan kalau 
dipaksakan kepada orang lain ya, akibatnya perang," simpulnya. 

Ia menambahkan orang Islam hendaknya menerima keberadaan orang beragama lain. 
Tapi, tambahnya, menerima bukan berarti larut. "Tapi kita harus hidup 
bersama-sama. Tugas kita untuk berbuat baik dan membangun di dunia ini" 

Mahfud Ridwan menilai dialog dengan kelompok beragama lain adalah suatu 
kemutlakan, karena kita diperintahkan Allah SWT untuk berhubungan dengan siapa 
saja. Dan lagi agama itu asalnya semuanya sama, katanya. 

Dalam dialog, yang dibicarakan bukan masalah aqidah. "Masalah sosial dan 
kemasyarakatan yang ktia bicarakan, " jelasnya. 

Justru Islamisasi
Salah satu topik dialog misalnya soal pembangunan gereja. Ustad yang mengaku 
tidak fanatik ini berpendapat, tidak ada kristenisasi di Indonesia. Yang ada 
justru Islamisasi, tandasnya. Buktinya, tambahnya, yang dibangun di 
terminal-terminal misalnya adalah musholla dan mesjid, bukan gereja. 

Tema dialog lainnya adalah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tahun 
1959. Tiga menteri yaitu Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Menteri 
Kesejahteraan Rakyat waktu itu, menurut Mahfud, tampaknya marah sekali terhadap 
keputusan kongres dewan gereja sedunia di Surabaya. Salah satu keputusan 
kongres itu adalah kristenisasi di Indonesia. 

Akhirnya ketiga menteri itu membuat peraturan tentang penyebaran agama. Tapi, 
menurut pemimpin pesantren ini, SKB itu justru sangat menyakitkan. Karena di 
dalamnya antara lain tidak boleh berdakwah kepada orang-orang yang sudah punya 
agama. Selain itu SKB itu menetapkan pula, bahwa untuk mendirikan sebuah gereja 
harus ada izin. 

SKB itu, tambah Mahfud, meresahkan masyarakat awam. Makanya masalah ini menjadi 
agenda dialog antar agama. Tema dialog lain adalah pernikahan lintas agama. 

Akibat kawin yang disebutnya sebagai kawin pembauran ini, maka banyak remaja 
yang tidak mau mengakui agamanya dan menganut aliran kepercayaan. Menurut 
Mahfud, ini adalah suatu perkembangan yang mengkhawatirkan. "Kalau kita biarkan 
terus di Indonesia akan kembali lagi apa yang dinamakan atheist." 

Ditanya sikapnya mengenai UU Pornografi, jebolan Irak ini mengatakan, ia sejak 
di Bagdad dulu sudah terbiasa melihat hal-hal yang bisa dinilai porno. Menurut 
dia, hal-hal seperti itu tidak perlu diatur dalam UU. "Itu kejadian yang 
berjalan begitu saja. Bukan sesuatu yang memang perlu diatur dengan UU dan 
sebagainya." 

Pengaruh Amerika Serikat
Munculnya kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia belakangan ini, menurut 
ustad Mahfud, antara lain karena adanya kepentingan politik. Tetapi juga 
pengaruh Syiah dan Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh orang-orang Hizbut 
Tahrir, tambahnya. 

Mahfud menduga kelompok-kelompok radikal seperti FPI itu sengaja dihidupkan 
untuk kepentingan Amerika. Tujuannya adalah untuk memecah belah umat Islam 
Indonesia. "Karena kalau Islam di Indonesia kuat, Amerika kan kalang kabut 
juga," tandasnya. 

Ditanya apakah para pembom Bali yang sudah dieksekusi itu mati syahid, KH 
Mahfud Ridwan mengatakan: "Itu urusan Allah." 


Kata Kunci: islamisasi, kristenisasi, Mahfud 






 Nama   


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke