http://www.ambonekspres.com/index.php?act=news&newsid=25237
Minggu, 21 Dec 2008, | 248
Survei LSI, Ekonomi Buruk, Demokrat di Bawah PDIP
DeNny J.A, Direktur Eksekutif LSI
Jakarta, AE.- Survei politik terbaru menunjukkan adanya peringatan untuk
parta-partai yang menjadi koalisi pemerintah saat ini. Dalam survei yang
dilakukan LSI (Lingkaran Survei Indonesia), PDIP yang mengklaim diri sebagai
oposisi berada di tempat teratas.
Hasil riset yang dilakukan pada 5-15 Desember itu 31 persen memilih PDIP
ketika menjawab pertanyaan apakah yang mereka pilih bila pemilu dilakukan saat
ini. Partai Demokrat mendapat 19,3 persen suara. Sementara Golkar yang meraih
suara terbanyak pada Pemilu 2004 meraih 11,9 persen.
Menurut Direktur Eksekutif LSI Denny J.A., hasil itu berterkaitan dengan
tingkat kepuasan publik terhadap langkah pemerintah menangani masalah ekonomi.
Kepuasan publik di bidang ekonomi itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan
bidang keamanan dan hukum. ''Di bidang keamanan tingkat kepuasan mencapai 75
persen. Sementara bidang hukum hingga 68 persen,'' ujarnya.
Sedangkan di bidang ekonomi hanya 36,7 persen yang puas. Mereka yang
menyatakan tak puas mencapai 59,5 persen. ''Di bidang ekonomi, pemerintah
SBY-Kalla defisit dukungan hingga minus 22,8 persen,'' tambahnya.
Ketika dianalisis lebih jauh, sektor ekonomi yang menjadi perhatian
masyarakat adalah minimnya kesempatan kerja, sulitnya sembako murah, dan
mahalnya perumahan. Tingkat kekecewaan publik terhadap pengadaan sembako murah
sangat tinggi mencapai 65 persen. Tingginya angka pengangguran mengakibatkan
kekecewaan masyarakat membuncah. ''Yang menyatakan gagal sampai 61,4 persen.
Yang berhasil hanya 33,7 persen. Jadi, defisit simpati sekitar minus 27,7
persen,'' tandas Denny.
Hasil survei tersebut, lanjut Denny, menjadi peringatan bagi SBY yang
akan kembali maju sebagai presiden pada Pilpres 2009. Sebab, 72,7 persen
masyarakat Indonesia menilai isu ekonomi sangat penting untuk segera ditangani.
Hasil survei juga memotret bahwa memburuknya kondisi ekonomi akan
melahirkan semakin banyak pemilih yang marah (angry voters). Di sejumlah negara
demokrasi, kelompok pemilih yang marah tersebut berpotensi untuk menjadi golput
atau berpaling ke kekuatan oposisi.
Argumen tersebut juga dibuktikan melalui hasil survei ini. Iklan politik
Megawati Soekarnoputri dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang
mengusung isu pengadaan sembako murah berhasil meraup simpati masyarakat.
LSI membagi masyarakat menjadi dua kelompok, berdasar kondisi ekonomi
yang dirasakan saat ini. Yakni, masyarakat yang merasa ekonominya lebih baik
dan tambah sulit saat SBY memerintah. Mereka yang merasa ekonominya semakin
sulit 53,8 persen lebih memilih Megawati. Sementara kelompok yang merasa
kondisi ekonominya membaik mayoritas memilih Susilo Bambang Yudhoyono hingga
58,8 persen.
Secara terpisah, Sekjen DPP PDIP Pramono Anung menanggapi biasa saja
hasil survei LSI tersebut. Menurut dia, fakta pulihnya kepercayaan masyarakat
terhadap partainya sudah mulai tampak pada hasil survei yang dilakukan
Puskaptis sebelumnya.
''Namun, di luar keberhasilan iklan sembako murah PDIP, sebenarnya ini
juga menunjukkan konsolidasi kader di bawah sudah mulai menunjukkan sinyal
positif,'' ujarnya.
Upaya para caleg untuk DPRD provinsi maupun kabupaten meyakinkan publik
bahwa partainya sanggup membawa perubahan mulai berhasil. Karena itu, Pramono
menyatakan, secara konsisten isu kampanye dengan perspektif ekonomi dan
persoalan mengangkat kesejahteraan masyarakat akan tetap menjadi pilihan isu
utama. (CAK/DYN)
[Non-text portions of this message have been removed]