Industri baja dan logam juga mendukung industri senjata dalam negeri
--------------------------------------------------------------------------------
http://www.republika.co.id/berita/53228/Pemerintah_Perlu_Proteksi_Industri_Baja_Nasional
Pemerintah Perlu Proteksi Industri Baja Nasional
JAKARTA -- Pemerintah didesak membuat kebijakan proteksi terhadap industri baja
nasional, jika tidak ingin produksi maupun konsumsi baja nasional dikuasai
industri baja internasional, yang terus menawarkan produknya dengan harga
kompetitif bahkan dibawah harga pasar dunia.
Komisaris Utama PT Krakatau Steel (KS), Taufiqurrahman Ruki, menjelaskan,
ketika terjadi krisis keuangan dunia, sejumlah negara langsung bereaksi
melakukan proteksi industri baja di negaranya masing-masing. Situasi tersebut
justru menghimpit posisi industri baja Indonesia, yang tidak memiliki posisi
tawar kuat untuk memasarkan produknya ke sejumlah perusahaan, karena dengan
kebijakan proteksi di negaranya, produsen baja di dunia proaktif menjual
produknya ke pasar Indonesia.
''Hampir semua negara yang ada industri bajanya, memberikan proteksi. Sedangkan
pemerintah didalam negeri saat ini belum ada langkah apapun soal proteksi, atau
minimal upaya penyelamatan industri baja nasional,'' jelas Ruki, di Jakarta,
Jumat sore (29/5).
Sejumlah negara tersebut diantaranya China, India, Malaysia, Iran, Thailand,
Vietnam, Amerika Serikat (AS), Uni Eropa dan Rusia. Pemerintah China menghapus
export tax sebesar lima persen, serta menaikkan tax rebate untuk ekspor produk
baja dan turunannya. Serta mempersiapkan petisi anti dumping bagi negara Rusia.
Akibatnya, jelas Ruki, produk China berhamburan masuk ke Indonesia, tentunya,
dengan harga relatif lebih murah dibanding harga baja didalam negeri. Kemudian,
kebijakan proteksi Pemerintah India adalah mempertimbangkan untuk meningkatkan
tarif safeguard untuk produk HRC import sebagai respon dari permintaan produsen
baja domsetik seperti Essar Steel Ltd, serta kembali menerapkan 10 persen CVD
(countervailing duty) untuk long product.
Diakui Ruki, krisis ekonomi global saat ini cukup berpengaruh terhadap PT
Krakatau Steel (KS) sebagai perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara. Tidak
hanya melakukan pengurangan produksi hingga 30 persen, perusahaan ini pun kini
mulai mengurangi jam lembur dan anggaran kesehatan bagi karyawannya. ''Kalau
tidak cepat-cepat dilakukan proteksi, maka perusahaan baja nasional bisa
terancam,'' tandas mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini. zak/pur
[Non-text portions of this message have been removed]