Refleksi : Kalau lumpur  dibuang ke kali Porong, tentunya akan mengalir ke 
laut. Apakah tidak mempengaruhi  [meracuni] ikan-ikan baik di kali maupun di 
laut.  Bila demikian halnya maka  kaum nelayan pesisir pantai berkesusahan. 
Jumlah korban Lapindo bertambah banyak. Amin.  Dirgahayu NKRI! 

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=8367

2009-06-03 
Lumpur Sebaiknya Tidak Dibuang ke Kali Porong



[SURABAYA] Lumpur panas bercampur gas Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 
sebaiknya tidak dibuang langsung ke Kali Porong, di sisi selatan pusat 
semburan, melainkan ke sisi timur karena langsung ke laut menggunakan pipa, 
dengan pertimbangan lebih aman. 

"Kami menyarankan agar lumpur dialirkan ke timur, karena langsung ke laut," 
kata anggota tim Pusat Studi Kebumian dan Bencana (PSKB) Institut Teknologi 
Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Wahyudi Citrosiswoyo dalam peluncuran buku 
Penanggulangan Semburan Lumpur Sidoarjo, di Kampus ITS, Selasa (2/6). 

Buku yang diluncurkan terkait dengan tiga tahun semburan lumpur tersebut berisi 
wawasan tentang semburan lumpur di Porong serta perkiraan-perkiraan apa yang 
akan terjadi ke depan. Buku itu bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam 
pengambilan keputusan. 


Membuat Peta

Peneliti PSKB lainnya, Ir Amien Widodo MSi mengungkapkan, dirinya tengah 
membuat peta risiko di sekitar semburan lumpur, mulai dari risiko yang bisa 
diabaikan atau ringan hingga risiko yang butuh perhatian besar atau tinggi. 

Peta risiko diharapkan bisa membantu pemerintah atau masyarakat setempat untuk 
antisipasi bencana yang akan dihadapi nantinya, sehingga bisa diminimalisasi 
korban yang jatuh. "Memprioritaskan penyelamatan nyawa manusia lebih penting 
dibandingkan penyelamatan materi lain," katanya.

Seperti diberitakan, semburan lumpur yang terjadi sejak 29 Mei 2006, 
memuncratkan lumpur mengandung gas mencapai 100.000 meter kubik per hari. 
Semburan dan luberan tersebut ditampung dalam kolam besar seluas 540 hektare.

Menurut Amien, untuk sisi barat harus dibangun tiga tanggul guna melindungi rel 
kereta api dan Jalan Raya Porong. Penambahan tanggul dari satu menjadi tiga di 
sisi barat berdasarkan hasil kajian PSKB ITS, untuk melindungi rel dan Jalan 
Raya Porong, karena kedua sarana transportasi tersebut menjadi jalur utama dari 
Surabaya dan Sidoarjo menuju kabupaten/kota timur Jawa Timur. 

Sebelum jalan tol Porong Sidoarjo-Gempol Pasuruan tenggelam oleh lumpur 
Lapindo, jumlah kendaraan yang melintas di jalan bebas hambatan ini mencapai 
40.000 per hari. Kendaraan tersebut sekarang melewati Raya Porong, akibatnya 
setiap hari terjadi kemacetan luar biasa.

Macetnya Jalan Raya Porong untuk truk/kontainer membutuhkan tambahan waktu 5-8 
jam dari kondisi normal. Para eksportir harus mengeluarkan biaya tambahan untuk 
lembur dan denda keterlambatan rata-rata Rp 1 juta. [080]



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke