INILAH.COM, Jakarta – Dalam politik, pencitraan menjadi sangat penting. Hal ini 
pula yang dilakukan cawapres SBY-Boediono. Sempat dirumorkan penganut kejawen, 
tak lama menjelang hari H pencontrengan, Boediono berencana beribadah umroh ke 
tanah suci. 
Umroh atau haji kecil ke tanah suci Mekkah adalah hal biasa dilakukan umat 
muslim. Menjadi tak biasa karena yang melakukan umroh adalah cawapres SBY 
Boediono. Seperti diberitakan sebelumnya, Boediono di awal kemunculannya 
dituding sebagai pemeluk Islam kajawen. 
Tidak biasanya lagi, pelaksanaan umroh dilakukan sesaat menjelang Pilpres 8 
Juli mendatang. Menariknya lagi, umroh Boediono atas ajakan Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS) yang sebelumnya sempat menggugat figur mantan Gubernur BI itu 
tak merepresentasikan Islam di Indonesia sesaat sesudah dipilih SBY 
mendampinginya sebagai cawapres. 
Kendati demikian, Presiden PKS Tifatul Sembiring membantah, rencana umrohnya 
dengan cawapres SBY Boediono sama sekali tak terkait dengan upaya memoles citra 
Boediono agar diterima pemilih muslim. “Nggak,umroh kita untuk ibadah, jangan 
politisasi agama,” bantahnya, seusai debat capres di gedung Trans TV, Jakarta, 
Kamis (18/6). 
Tifatul memastikan dirinya mengajak Boediono untuk melaksanakan umroh saat hari 
tenang pemilu Presiden atau tiga hari sebelum pelaksanaan pencontrengan. Pada 5 
Juli 2009. “Saya memang ajak Boediono umroh,” cetusnya. 
Langkah Presiden PKS Tifatul Sembring mengajak cawapres SBY Boediono untuk 
melaksanakan umroh seperti menjadi pelengkap atas pencitraan yang selama ini 
dilakukan tim SBY-Boediono. Seperti kunjungan Boediono di sejumlah pesantren 
dan kyai di Jawa Timur. 
Tidak hanya itu, sholat Jumat dengan mengundang pers juga pernah dilakukan tim 
pencitraan SBY-Boediono. Di beberapa sudut jalan ibukota Jakarta, juga terlihat 
spanduk bergambar SBY dan Boediono menggunakan kopiah dan baju koko disebar 
oleh Majelis Dzikir Nurus Salam SBY, sayap pendukung SBY sejak 2004 dengan 
segmen pemilih muslim. 
Senada dengan Tifatul, menurut Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat Ahmad 
Mubarok, umroh Boediono jangan dianggap politis. Menurut dia, umroh Boediomo 
adalah hal lumrah dilaksanakan sebelum menghadapi tugas besar. 
“Biasa saja, orang mau menghadapi tugas besar (pilpres, red) melakukan umroh,” 
katanya kepada INILAH.COM, Jumat (19/6) di Jakarta. Profesor psikologi Islam 
pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menegaskan keberangkatan Boediono 
umroh sama sekali tak terkait dengan isu penganut kejawen yang tersematkan pada 
diri Boediono. “Nggak benar itu. Itu hanya dikait-kaitkan saja oleh orang,” 
bantahnya.
Mubarok pun berharap keberangkatan umroh Boediono dapat mendorong cawapres SBY 
tersebut menjadi santri tulen. “Seperti Pak Harto, setelah menjadi presiden 
dikenal menjadi santri,” ujarnya. Terhadap langkah umroh Boediono ini, Mubarok 
tak menampik jika disebut meniru langkah Pak Harto kala itu.
Umrohnya Boediono ini bakal mengukuhkan pernyataan SBY bahwa mantan Menko 
Perekonomian itu adalah sosok muslim yang taat saat deklarasi pasangan 
capres/cawapres di Gedung Sasana Budaya Ganesha ITB Bandung, 15 Mei lalu. 
Memang ibadah adalah urusan hamba dengan Tuhannya. Semoga saja relasi vertikal 
tersebut tidak untuk kepentingan politik sesaat. [E1]


Get your new Email address! 
Grab the Email name you've always wanted before someone else does! 















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke