http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/kecelakaan-lalu-lintas-berpangkal-dari-mental/
Kamis, 25 Juni 2009 14:10
Kecelakaan Lalu Lintas Berpangkal dari Mental
Indonesia merupakan pasar produk industri otomotif yang terus bertumbuh. Dari
tahun ke tahun jumlah kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda tiga,
terus meningkat. Tak peduli apakah perekonomian nasional sedang mengalami
krisis atau tidak. Peningkatan produksi industri otomotif memberi dampak
positif karena memperkecil kemungkinan pemutusan hubungan tenaga kerja (PHK).
Di samping itu, meningkatkan penerimaan sektor perpajakan.
Pertambahan jumlah kendaraan juga berdampak negatif karena mendorong
peningkatan permintaan BBM. Peningkatan itu pada akhirnya turut mengurangi
devisa sebab BBM masih harus diimpor. Pertambahan produksi kendaraan juga
mendorong peningkatan impor bahan baku dan bahan baku penolong. Ini berarti
kita harus mengeluarkan devisa yang cukup besar, apalagi kalau terjadi
penggelembungan (mark up) dalam harga impornya.
Dari sisi yang lain, penggunaan kendaraan bermotor yang melonjak dari tahun ke
tahun menunjukkan masyarakat telah terkena pengaruh modernisasi. Tidak hanya
masyarakat yang berlokasi di perkotaan, namun juga di wilayah terpencil yang
tidak dilalui jalan raya. Konsumen membeli kendaraan bermotor dengan berbagai
alasan, mulai dari aspek kebutuhan, efek demonstratif hingga gaya hidup. Apa
pun yang mendasari pembelian itu seharusnya diimbangi dengan sikap mental yang
tepat. Ketidakseimbangan itulah yang menyebabkan munculnya dampak negatif
penggunaan kendaraan bermotor.
Menurut kepolisian, kecelakaan pada satu semester pertama pada 2009 mencapai
19.000 kasus, sedangkan pada periode yang sama tahun lalu berjumlah 18.000
kasus. Dengan demikian, terjadi kenaikan 1.000 kasus, 30% di antaranya berasal
dari kasus sepeda motor. Sekalian kasus itu terjadi karena kesalahan pengemudi,
disusul kondisi kendaraan yang bersangkutan serta kondisi infrastruktur yang
buruk. Semuanya jelas memberi sumbangan terhadap kecelakaan lalu lintas, baik
yang menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Perbaikan infrastruktur berjalan
sangat lambat hingga pertambahan panjang jalan tidak seimbang dengan
pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Gara-gara ketidakseimbangan ini, Jakarta
diperkirakan mengalami kemacetan total dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Dengan demikian, sukar diharapkan perbaikan kondisi infrastruktur secara lebih
cepat sebab anggaran belanja pemerintah sangat terbatas. Jumlah pembayaran
bunga dan utang pokok setiap tahun menghalangi upaya memperbaiki situasi secara
mendasar.
Perbaikan dari sisi mental pengemudi harus dilakukan secara sistematis,
konsisten dan berkelanjutan. Pembenahan mental ini seyogianya dilakukan sejak
usia sekolah dasar dan terus berjenjang. Dengan demikian, diharapkan yang
bersangkutan secara mental sudah siap ketika arus modernisasi menjamahnya.
Kita saat ini tidak melihat telah terbangun suatu perbaikan mental secara
mendasar. Apa yang dilakukan saat ini kurang menyeluruh dan lebih mirip
seremonial. Oleh sebab itu, dapat dikatakan pendidikan lalu lintas sejak dini
tak sesuai harapan.
Kecelakaan juga dapat dicegah bila aparat menerapkan peraturan lalu lintas
secara tegas. Dewasa ini masih saja ada kegiatan damai di tempat, kendati jelas
bahwa pengemudi telah melanggar peraturan. Para produsen kendaraan bermotor,
baik roda dua dan roda empat, selayaknya lebih berpartisipasi dalam mencegah
kecelakaan lalu lintas. Mereka dapat memberi kontribusi yang berarti dalam
bentuk perbaikan teknis kendaraan yang bersangkutan hingga mendidik para
pengemudi agar taat dan patuh kepada peraturan.
Jadi, mengurangi jumlah kecelakaan kendaraan di jalan raya itu merupakan
aktivitas yang harus dilangsungkan sejak dini, berkelanjutan, dan aparat tegas
dalam menerapkan peraturan. Sejauh ini, kampanye berlalu lintas yang baik dan
benar hanya bersifat temporer. Dalam dunia yang serbakompetitif ini, selayaknya
peningkatan jumlah kecelakaan di jalan raya memeroleh perhatian besar.
Kecelakaan menyebabkan SDM menjadi tidak kompetitif lagi. Yang rugi bukan cuma
keluarga, tetapi juga negara.
[Non-text portions of this message have been removed]