Subject: Antara, 29/06/09 13:45 - Kesaksian Eks "Gallup" Tentang Manipulasi
Lembaga Survei
Kesaksian Eks "Gallup" Tentang Manipulasi Lembaga Survei
Oleh: Jafar M. Sidik
Jakarta (ANTARA News) - David W. Moore, mantan editor senior lembaga survei
opini publik terkemuka Gallup Poll, mungkin telah membuat marah sejawatnya di
banyak lembaga survei karena menerbitkan "The Opinion Makers: An Insider
Exposes the Truth Behind the Polls" pada Oktober 2008.
Di buku itu, Moore menelanjangi apa yang sebenarnya kerap berlaku di lembaga
poling, bahwa mereka lebih tertarik pada pabrikasi atau pembentukan opini
publik dengan menarik perhatian media massa, ketimbang mengungkap opini
masyarakat yang sebenarnya.
Sejak Maret 1993 sampai April 2006, Moore bekerja pada Gallup Organization
sebagai editor pelaksana dan kemudian editor senior Gallup Poll.
Selama kiprahnya itu, kutip Wall Street Journal edisi 25 November 2008, Moore
mengaku kerap dikritik masyarakat karena berlaku bias, kritikan yang juga
diterima semua lembaga poling.
Suatu saat ketika diwawancarai sebuah radio, seseorang bertanya pada Moore
mengapa dia tak diikutkan dalam poling padahal dia masuk daftar responden
Gallup Poll, tidakkah ini karena pandangan politik si penanya tidak cocok untuk
Gallup.
Moore tidak mampu menjawab pertanyaan itu karena takut masyarakat menyimpulkan
bahwa seleksi responden di Gallup memang bias.
Yang paling mengganggu Moore adalah kritik terhadap hasil poling Gallup pada 17
September 2004, dua minggu setelah Konvensi Partai Republik menominasikan
kembali George Bush sebagai Presiden AS.
Waktu itu, bekerjasama dengan CNN dan USA Today, Gallup mempublikasikan hasil
survei dibawah judul "Bush Melambung, Terus Melaju" karena elektabilitas Bush
memang naik.
Sebelum Konvensi Republik, Bush unggul 3 persen, lalu naik 7 persen setelah
konvensi, kemudian bertambah lagi 6 persen sepuluh hari berikutnya hingga
akhirnya melewati eletabilitas Senator John Kerry dari Demokrat dengan 55
persen versus 42 persen.
Saat bersamaan, Pew Research yang menjadi pesaing Gallup, meluncurkan hasil
poling yang justru mengunggulkan Kerry, padahal keduanya melakukan survei pada
waktu bersamaan.
Pikir orang Amerika, kok bisa dua survei dalam periode sama menghasilkan
gambaran yang bertolak belakang?
Masalah akan selesai jika reputasi lembaga survei buruk, namun Gallup dan Pew
tak menghadapi masalah reputasi, apalagi keduanya adalah dua raksasa industri
poling yang dihormati media massa sehingga rekomendasinya tak pernah diabaikan.
Moore dan editor pelaksana Jeff Jones, lalu dihujani pertanyaan oleh pers,
mengapa hasil survei Gallup berbeda dari Pew.
Pers menyerang Gallup karena tersengat ingatan semasa Pilpres 1996 dan 2000
saat mana hasil survei Gallup dinilai membingungkan.
Kontroversinya ini akhirnya tuntas setelah Direktur Survey Pew Research Scott
Keeter dan David Moore mewakili Gallup, sepakat menerangkan ke publik bahwa
yang menyebabkan hasil survei berbeda jauh adalah waktu pelaksanaan survei
memang berbeda. Pew menyelenggarakannya lima hari, sementara Gallup tiga hari.
Namun sehari sebelum kesepakatan itu, kepada seorang wartawan, Moore
membeberkan apa yang sebenarnya telah berlaku antara Gallup dan Pew.
Rupanya, Pew mengajukan pertanyaan kontroversial yang ditengarai titipan,
menyangkut kiprah Bush sewaktu menjadi pilot tempur pada Garda Nasional.
Pertanyaan soal kiprah militer Bush inilah yang membuat hasil survei Pew
berbeda dari Gallup. Responden Pew menjadi ragu mendukung Bush sehingga
elektabilitas Bush pun menurun.
Begitu dijelaskan soal ini, si wartawan tersentak dan mengaku tak pernah
mendengar keterangan seperti itu sebelumnya.
Membahayakan demokrasi
Dari bukunya, Moore melihat bahwa kebanyakan poling tidak bertanggungjawab pada
apakah responden sudah memahami isu yang menjadi subjek survei. Mereka juga
terlalu berani menyimpulkan sikap publik sebagai konstan padahal pandangan
publik terus berubah.
Lembaga poling juga sering mengabaikan responden yang belum menentukan pilihan,
padahal kelompok ini kerap menentukan dan menjadi bagian terbesar pemilih.
Karena memfokuskan pada siapa calon terkuat dan siapa kuda hitamnya, lembaga
survei mengabaikan keadaan sebenarnya bahwa pada bulan-bulan sebelum pemilu
berlangsung, banyak pemilih belum menentukan sikap dan tak terjaring oleh
survei.
Tak hanya itu, kebanyakan jajak pendapat kerap menyamakan tingkat pengetahuan
masyarakat mengenai subjek survei dan menyederhanakan samarnya prilaku pemilih
dengan menguburnya melalui narasi heboh yang melenceng dari hasil survei.
Karena begitu mudahnya memanipulasi survei, hasil poling pun sering keliru. Ini
diperparah oleh konflik kepentingan dan agenda laten dari pensponsor poling
sehingga kesimpulan yang valid mengenai apa yang sebenarnya diinginkan
masyarakat sulit diperoleh.
Di sisi lain, poling lebih diarahkan untuk mengungkap keganjilan daripada
menangkap aspirasi masyarakat dan tak bisa membedakan antara mana responden
yang memahami isu dan mana yang tidak memedulikan isu.
Lain dari itu, pandangan responden telah dirancang agar sesuai dengan arah
survei, melalui jawaban yang sudah ditentukan sebelumnya, padahal pergerakan
opini publik mendikte sikap politik dan mempengaruhi cara para politisi dipilih.
Poling pun menjadi terlihat mengancam tatanan karena membuat perpolitikan
ditentukan oleh data yang cacat, rapuh dan tidak valid.
Opini publik kemudian mengalami distorsi dan akhirnya menggerogoti demokrasi
akibat pengembangbiakkan konsensus oleh lembaga survei demi memuluskan mereka
yang diinginkan berkuasa oleh pelaku survei.
Ironisnya, dengan pongah lembaga poling menetapkan hasil polingnya sebagai
standard arah kecenderungan opini publik. Celakanya, ini dikunyah bulat-bulat
oleh politisi dan media massa.
Padahal, meminjam premis guru besar Media dan Komunikasi Universitas New York
Profesor Mark Crispin Miller, argumentasi yang menyatakan poling tidak
mengaburkan opini publik dan didaulat sebagai sikap orisinil publik, adalah
membahayakan demokrasi.
Bahaya itu adalah agresi ranah publik oleh rekomendasi yang seolah
berkonstruksi ilmiah, padahal hanya demi membangun opini publik. Ini terlihat
dari seringnya hasil poling berbeda tajam satu sama lain.
Alhasil, jika pun lembaga-lembaga poling mampu menyempitkan perbedaan hasil
poling, mereka telanjur dilihat negatif, bahkan dicampakkan.
"Sampah!" cerca Wakil Presiden NBC News Bill Wheatley, sedangkan Peter Coy dari
BusinessWeek mendakwa, "Poling-poling sudah tidak ilmiah, tak bisa dipercaya,
bias, merampas ranah privat, dan buang-buang waktu." (*)
COPYRIGHT © 2009 ANTARA
PubDate: 29/06/09 13:45
BERANDA
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
-----Inline Attachment Follows-----
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 8.5.375 / Virus Database: 270.12.94/2207 - Release Date: 06/28/09
17:54:00
[Non-text portions of this message have been removed]