http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009071423291177
Rabu, 15 Juli 2009
OPINI
Idealitas yang Terjual Murah
Robert Edy Sudarwan
Pjs. Ketua KAMMI Komisariat IAIN Raden Intan Lampung
Perjuangan politik adalah perjuangan idealitas. Perjuangan visi misi yang
berbasis pada ideologi. Namun ketika dibenturkan dengan kepentingan yang
menggiurkan, idealitas pun dijual dengan harga murah dan keuntungan menjadi
orientasi yang sangat memalukan.
Tirani kekuasaan yang hari ini terus bergejolak cukup menutupkan mata
yang semestinya tidak terpejam. Dengan dalih demokrasi semua cara pun
digunakan. Berbagai pelanggaran kampanye yang semestinya tidak terjadi, menjadi
sebuah bumbu penyedap rasa. Alih-alih ini adalah kesalahan administrasi,
kesalahan mekanisme, kesalahan prosedur, dan kesalahan sensus kependudukan.
Mungkinkah ketika itu tidak disengaja dapat memberikan cerminan positif
pada birokrasi yang sudah telanjur rentan dengan kemunafikan. Fakta membuktikan
di Pulau Papua jumlah semua DPT sama persis dengan jumlah penduduk yang ada.
Lalu apakah anak-anak di bawah umur pun ikut memilih? Ini adalah bagian kecil
potret buram demokratisasi di negeri ini. Masih banyak lagi gugatan-gugatan dan
temuan-temuan pelanggaran pemilu.
Perjalanan negeri yang sudah relatif tua hendaknya semakin hari semakin
menuju ambang kesejahteraan. Tidak lagi berkutat pada permasalahan diri. Dan
tidak semestinya hanya berkutat pada permasalahan moral dan perbaikannya.
Karena sebenarnya itu adalah fondasi yang harus menjadi landasan pertama.
Momentum membangun negeri ini hendaknya diimbangi pula dengan momentum
membangun moral peradaban. Disadari atau tidak, rusaknya bangsa ini adalah
imbas dari rusaknya moral. Ketika moral kita baik maka orientasi dalam memegang
tampuk kekuasaan adalah panggilan untuk membangun konstuksi bangsa ini. Bukan
justru merongrong kekuasaan dengan dalih mengabdi kepada bangsa dan negara.
Efek yang akhirnya dirasakan merupakan buah dari perbuatan kita.
Perbuatan kita dalam memilih dan memercayakan suara kita kepada calon pemimpin.
Kepercayaan pada wakil kita yang akhirnya duduk di parlemen. Karena ini adalah
bentuk kontribusi kita dalam membangun negeri ini. Namun ahirnya itu semua
sirna dengan ketidakkonsistennya pengemban amanat yang yang hari ini kita
percayakan.
Belum lagi mekanisme tebar janji yang harus dipenuhi oleh para calon yang
sudah mengumbarnya. Ketika melihat mana yang terindikasi akan menang itulah
yang akan dirapatkan. Serta mekanisme pembagian roti yang hari ini menjadi
pertanyaan besar berapa proporsinya.
Sangat ironis dan disayangkan ketika melihat orang-orang yang ada di sana
saat dalam konteks persaingan dapat bersaing dengan baik. Namun ketika sudah
jelas kalah, akhirnya merapat dan mendekat untuk mendapatkan bagian bagian.
Lalu di mana suara yang lalu ketika di awal bersama-sama membangun koalisi
segitiga emas yang cukup membuat gempar. Antara Partai Golkar, PDI-P dan PPP
untuk sama-sama membangun sebuah komitmen yang sudah dibuat bersama. Dalam
perbaikan bangsa yang kita cita-citakan.
Sebuah pekerjaan rumah yang panjang dan mesti digarap dengan penuh
keuletan ketika kita semua harus berani untuk berkomitmen dalam menaruhkan
sikap kita. Ketika sikap kita sudah menyatakan diri untuk bersilangan dengan
niatan menjadi penyeimbang dan menjadi penyelaras yang baik. Mengapa itu tidak
dilaksanakan dengan penuh konsisten dan tanggung jawab menjadi oposisi yang
baik.
Karena sebenarnya kemenangan itu tidak dilihat dari sejauh mana kita
bergabung dengan birokrasi dengan kerja-kerja yang nyata di pemerintahan. Hal
ini sangat rentan dengan perpecahan ketika itu semua terus menjadi mainstream
pemikiran. Akan tidak baik ketika parlemen itu hanya satu warna. Hal itu sangat
mengkhawartirkan karena akan terasa hanya akan ada satu kebijakan. Tanpa ada
kontrol sosial yang menjadi penyeimbang itu semua.
Ternyata kesadaran untuk menjadi penyelaras pada bangsa ini sangat minim
adanya. Orang-orang elite yang mestinya menejadi panutan untuk mengambil sebuah
kebijakan politik pun terindikasi melacurkan diri ke ranah sistem. Yang
akhirnya nanti tergerus pada pusaran roda politik yang disetir pada satu sudut.
Dan akan sangat mengkhawatirkan ketika laten kediktatoran muncul kembali di era
ini.
Kesanggupan menerima segalanya merupakan jiwa yang harus di tumbuhkan
oleh para pejuang politik. Karena tanpa idealitas politik itu menjadi dunia
kecambah. Sedikit-sedikit berubah dan menghilangkan fungsinya sebagai organ
yang semestinya konsisten dengan tujuannya. Lalu apa yang akan diperjuangkan
oleh partai politik, ketika sudah tidak mampu memakanai ideologi dan tujuan
menjadi partai politik.
Sejatinya ini adalah permasalahan bangsa kita. Disadari atau tidak kita
hidup pada bagian negeri ini. Dan tidak dapat dipungkiri ternyata kita ada di
dalamnya. Lalu hal apa yang semestinya dapat kita lakukan dalam diri kita.
Selain hanya wacana-wacana perbaikan karena kaum muda pun sangat memprihatinkan
kualitasnya yang sudah cenderung hedonis.
Pemaknaan terhadap idealitas ternyata menjadi buram. Lebih lagi terhadap
konsistensi kita kepada ketekadan dalam memenangkan tirani kekuasaan.
Pemasungan terhadap perjuangan ideologi pun menjadi sebuah harga baku dalam
memenangkan proses pemilu.
Lalu apakah kita hanya akan hidup dengan idealitas? Tentu saja tidak,
kita membutuhkan sisi yang lain. Dan sisi-sisi itu didapat dari proses
ideologisasi. Apa lagi yang menjadi harga pada diri kita ketika idealitas
terjual dengan murah. Lalu hal apa yang akan diperjuangkan ketika kita
terbelenggu oleh kejamnya kepentingan yang menjadi Tuhan.
Ini tidak mudah, dan hal ini mesti kita menjadi pekerjaan rumah kita
bersama. Karena tanpa ada penggiat idealitas dan pengawalnya. Akan sangat
dikhawatirkan bisa saja negeri ini tergadaikan dengan kepentingan-kepentingan
sesaat. Dan tentu untuk mendapatkan idealitas yang baik juga dibutuhkan
kesiapan kita untuk menjadi orang yang kuat. Kuat dalam menahan dan menerima
godaan di perjalanan politiknya.
Dengan demikian tidak mudah ketika kita berbincang tentang ideologi kita
juga tergerus dalam permainan sistem pergadaian ideologi. Syarat yang dapat
membuat kita kuat dalam memperjuangkan ideologi adalah kedewasaan moral yang
matang. Karena idealitas sama artinya dengan perjuangan moral. Perjuangan dalam
memenangkan suatu visi, misi, dan ideologi. Perjuangan untuk membangun sistem
dengan cita dan harapan dari diri kita. Lalu hal apa yang akan diperjuangkan
ketika kita tidak bisa konsisten dengan visi kita.
Dalam perjalanannya akan banyak kita temukan ketika para politisi
kehilangan orientasi. Ketika kepentingan menjadi dalih kebijakan. Maka akan
kita dapati perjuangan yang hambar dan gersang tanpa makna. Bahkan yang terasa
adalah pembodohan publik. Karena yang dicari hanyalah kedudukan dan uang.
Lalu apa jadinya negeri ini ketika dipimpin oleh orang yang menjual murah
keteguhan. Lalu apa yang akan mereka semua perjuangkan. Akankah ini semua
berlarut, ketika mulai tampak hidangan di depan mata, alih-alih kestabilan
berbondong-bondong masuk ikut mengambil jatah. Hendaknya kita sadar bahwa kita
sudah mengambil keputusan. Toh, menjadi oposisi yang bukan asal beda,
membenarkan ketika benar dan mengoreksi serta memberi solusi ketika salah. Itu
lebih mulia dibanding ikut tergerus dalam sistem di dalamnya. Ini membutuhkan
kedewasaan moralitas yang mesti diperjuangkan
[Non-text portions of this message have been removed]