Refleksi: Kalau anak dianggap bisa mewariskan kekuasaan, maka tentu saja isteri pun mampu. Berekmas-kemaslah untuk mempertahankan kuasaan bergaris turun temurun melalui pemilu 2014. Siapa menyusul untuk isterinya dicalonkan? Jangan malu-malu, ini adalah hak demokratis wargenara untuk memilih dan dipilih menduduki kursi kekuasaan negara.
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=9209 2009-07-15 SBY Bantah Istrinya Jadi Capres 2014 [JAKARTA] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membantah kabar bahwa istrinya Ny Ani Yudhoyono akan bertarung dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014. Bahkan, SBY mengaku terkejut terhadap pemberitaan itu. "Saya dan keluarga terkejut ketika membaca berita itu. Setelah saya rundingkan dengan keluarga, saya, istri, dan anak memutuskan untuk memberi klarifikasi malam ini. Karena, itu bisa menimbulkan persepsi keliru," ujar SBY kepada wartawan di rumahnya, Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat, Selasa (14/7). Dikatakan, bila dirinya kembali dipercaya rakyat untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan, itu adalah pengabdian terakhirnya. SBY dan keluarga akan kembali ke masyarakat untuk menjalankan tugas-tugas kemanusiaan. "Tidak ada satu pun niat, apalagi istri ikut-ikutan pemilihan presiden lima tahun mendatang, karena kami yakin akan banyak lahir pemimpin setelah kami. Kami justru mendorong dan memberikan ruang bagi munculnya pemimpin-pemimpin baru yang akan memegang estafet kepemimpinan. Regenerasi itu penting," katanya. Menanggapi itu, pengamat politik dari Universitas Indonesia Andrinof Chaniago mengatakan, SBY harus konsisten. "SBY perlu konsisten untuk tidak mengembangkan nepotisme dalam partai dan juga kepemimpinannya. Bukan saja terhadap keluarga, tetapi juga terhadap kenalan dan kroni-kroninya yang lain," katanya. SBY juga diminta untuk tidak perlu terlalu larut menanggapi gosip-gosip politik yang berkembang. "Hal ini hanya semacam kontrol sosial yang lagi ngetren dalam masyarakat kita. Tidak perlu dibesar-besarkan. Memang perlu diklarifikasi, tapi tidak perlu dibesar-besarkan sampai akhirnya melupakan substansi sebenarnya, yakni konsistensi untuk melawan nepotisme," sambungnya. Pada kesempatan itu, SBY juga menyatakan kalau dirinya belum menyusun nama-nama tokoh yang akan duduk di kabinet. SBY masih akan menunggu pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sementara itu, Ketua DPP Partai Golkar Anton Lesiangi merasa yakin ada kader partainya yang masuk dalam jajaran kabinet nanti. Pasalnya, suara Partai Golkar di parlemen cukup signifikan untuk mendukung pemerintahan mendatang. Dikatakan, meski Partai Golkar siap untuk mendukung pemerintah, tetapi mereka juga tetap akan bersikap kritis terhadap segala kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat. Dia mengingatkan, kesiapan mendukung pemerintah tidak otomatis menjadikan Partai Golkar sebagai partai pemerintah. Opoisi Sementara itu, kepastian sikap Partai Golkar untuk menjadi oposisi atau mendukung pemerintah bergantung pada pimpinan baru yang akan diperoleh melalui musyawarah nasional (munas) pada 20 Oktober mendatang. Saat ini, hingga 20 Oktober nanti, posisi Partai Golkar sebagai partai pendukung pemerintah. "Sampai 20 Oktober, Partai Golkar itu pendukung pemerintah. Kalau nanti, bergantung pada Munas. Bergantung pada pimpinan yang baru," kata anggota Dewan Penasihat Partai Golkar Fahmi Idris. Dia menilai, isu munaslub yang dilontarkan untuk pertemuan 20 Oktober itu merupakan pekerjaan orang iseng. Menurutnya, Ketua Umum Partai Golkar saat ini, Jusuf Kalla enggan dicalonkan kembali. Anggota Dewan Penasihat Partai Golkar Aburizal Bakrie yang juga Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat menegaskan, partainya mempunyai pendapat sendiri tentang sikap di pemerintahan. "Ya, Partai Golkar mempunyai pendapat sendiri. Bisa mendukung kebijakan pemerintah, suatu saat juga bisa mengkritik kebijakan pemerintah," katanya. Dia mengaku siap jika dicalonkan menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Dia juga tidak mempersoalkan jika ada kader partai masuk dalam jajaran kabinet yang baru nanti. Menurutnya, hal itu sangat bergantung pada kemampuan para kader partai. Anton menambahkan, arus besar desakan agar munas Partai Golkar dipercepat semakin kuat. Dia turut mendukung agar munas dipercepat, paling tidak pada Agustus ini. Menurutnya, ada beberapa tokoh yang berpeluang merebut posisi Jusuf Kalla, yakni Aburizal Bakrie, Siswono Yudhohusodo, Surya Paloh, dan Agung Laksono. Di antara nama-nama tersebut, Anton menegaskan dukungannya terhadap Aburizal Bakrie. Dia juga menyarankan agar Surya Paloh tetap menjadi Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar. "Kalau saya melihat, bagus sekali Ketua Umum Aburizal Bakrie, Wakil Ketua Umum Siswono Yudhohusodo, dan Sekretaris Jenderal Agung Laksono," katanya. [EMS/AHS/143/L-10/148/R-15] [Non-text portions of this message have been removed]

