http://www.suarapembaruan.com/News/2009/07/08sore/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 
Miskin Sepanjang Masa

Berbicara kemiskinan tak bisa lepas dari nasib berjuta-juta kaum tani dan 
nelayan yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air. Memang ironis luar biasa. 
Indonesia dikenal sejak dulu sebagai negara agraris dan bahari, namun sektor 
pertanian dan perikanannya tetap terpuruk. Dari jumlah orang miskin yang 
diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ungkap para pengamat, kebanyakan 
adalah keluarga tani dan nelayan, soko guru kehidupan bangsa ini. 

Lahan yang subur, baik di darat maupun di laut, tak bisa dimanfaatkan maksimal. 
Petani dan nelayan masih dianggap masyarakat kelas dua, tak ditangani secara 
menyeluruh dan total oleh negara. Perhatian lebih ditujukan, pada masyarakat 
perkotaan, mal-mal, dan pasar modal. Bandingkan dengan Thailand dan Vietnam 
misalnya, yang sangat maju di pertanian dan perikanan walaupun lahannya jauh 
lebih kecil dari kita. 

Petani di Indonedia adalah pekerja keras. Persawahan yang indah dan tertata 
rapi dibangun tangan-tangan yang ahli. Mereka membuat petak-petak sawah, 
menatanya dengan cermat agar air dapat mengalir dengan baik. Mereka menanam 
bibit, memberi pupuk, mengusir hama, dan menjaganya sampai panen tiba. Ketika 
padi dipanen ada yang rusak diserang hama, banyak pula yang terbuang karena tak 
ada teknologi. Padi dijemur di halaman, di jalanan, atau lahan kosong. 

Walaupun harus dikerjakan dengan susah payah, gabah harus dijual murah. Jika 
harga gabah dan beras merangkak naik, pemerintah langsung menekannya agar harga 
turun kembali, alasannya supaya rakyat tidak kesulitan membeli dan tidak 
terjadi inflasi. Usaha penggilingan padi dan pedagang beras berisiko lebih 
kecil, tapi meraup untung lebih besar. Memang tak adil, tetapi inilah kenyataan 
yang harus diterima petani kita. 

Dibuatlah kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) dengan maksud menjaga agar 
harga tidak merugikan petani. Dibuat pula program-program populis, misalnya 
memberi subsidi benih dan pupuk yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Petani 
kecil berhak mendapat bantuan. Dana bantuannya pun diambil dari APBN, yang juga 
uang rakyat, uang petani juga. 


Modal dan Subsidi 

Pengamat pertanian yang juga mantan Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian 
Jafar Hafsah mengemukakan, subsidi pertanian tidak bisa dihilangkan karena di 
mana pun di dunia, termasuk negara-negara maju, masih dibutuhkan. Namun, 
subsidi harus tepat sasaran agar tidak menjadi pemborosan besar-besaran. 
Produksi komoditas pangan strategis harus ditingkatkan, dan impornya 
dihentikan. 

Beras dan jagung sementara sudah bisa swasembada. Gula rafinasi, daging, dan 
susu masih diimpor. Sedangkan, 80% kedelai dan hampir 100% gandum sebagai bahan 
baku terigu masih diimpor. Jika kedelai dan gandum atau substitusinya bisa 
dikembangkan di Indonesia, akan menyerap banyak tenaga kerja dan menghemat 
banyak devisa. Tidak mengimpor 1 juta ton beras misalnya, bisa dihemat US$ 550 
juta. 

Jafar mengingatkan, Indonesia seharusnya bisa mandiri dan berdaulat atas 
pangan, sehingga tak bergantung lagi pada impor. Sayangnya, pengusaha malah 
berlomba-lomba menjadi pengimpor benih padi, khususnya hibrida. Padahal, 
Departemen Pertanian sudah mengembangkan banyak jenis padi berkualitas. Budaya 
jalan pintas dan senang menjadi broker semakin menghancurkan bangsa ini. 

Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, sebenarnya 
petani lebih suka berusaha secara mandiri, namun saat ini masih mengharapkan 
bantuan karena hidup mereka memang susah. Bantuan pun tidak selalu berjalan 
mulus. Pupuk bersubsidi misalnya, sulit diperoleh ketika dibutuhkan. Kredit 
usaha rakyat (KUR) hanya terdengar sepoi-sepoi, sulit terlihat wujudnya. 

Winarno memaparkan, jumlah petani dan buruh tani sekitar 24 juta kepala 
keluarga (KK). Di antaranya, petani pemilik lahan yang berusaha tani padi dan 
palawija sebanyak 13 juta KK yang kepemilikan lahannya sangat kecil, rata-rata 
di bawah 0,5 hektare (ha). Padahal, kelayakan kepemilikan lahan minimal 2 ha, 
sehingga perlu ada ekstensifikasi lahan agar petani bisa hidup layak. Nasib 
buruh tani pun tak menentu. 

Diperlukan kredit berbunga rendah bagi petani dan nelayan yang mudah diakses. 
Petani dan nelayan di mata perbankan masih dianggap pekerjaan berisiko tinggi 
dan tidak layak dijadikan nasabah bank, sehingga sektor ini sulit maju. 

Guru besar pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin menekankan pentingnya 
pemerintah merealisasikan program-program standar, misalnya penguatan 
permodalan, akses informasi dan teknologi, serta perlindungan kepada petani dan 
nelayan. Reforma agraria juga sudah lama ditunggu oleh jutaan petani, tetapi 
tidak terwujud. Padahal, ini salah satu kunci untuk menaikkan martabat dan 
kesejahteraan petani. 

Ketua Umum Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Yussuf Solichien mengungkapkan, 
saat ini terdapat lebih dari 16 juta nelayan dan mereka yang bergerak di 
pengolahan hasil perikanan. Menurutnya, mayoritas nelayan masih hidup miskin, 
hanya mampu menggunakan kapal-kapal kecil, kesulitan memperoleh modal dan 
teknologi, serta terbebani harga bahan bakar minyak yang cukup tinggi. 
[SP/Sumedi TP] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 8/7/09 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke