http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=9214

009-07-15 
Pemimpin dan Amanat Penderitaan Rakyat
Benny Susetyo

Dugaan kecurangan dan kelemahan dalam penyelenggaraan pemilu sepanjang era 
Reformasi ini selalu ada dan hal itu sudah diramalkan banyak pihak. Seharusnya 
hal tersebut bisa diselesaikan melalui mekanisme yang sudah tersedia dan dapat 
diterima oleh semua pihak yang berkuasa.

Penyelenggaraan pemilu di negara-negara demokratis pun tak luput dari kelemahan 
dan kecurangan. Tapi, mereka selalu memiliki resolusi konflik yang baik dan 
bisa diterima dalam kerangka demokrasi. Belajar dari negara-negara demokrasi 
lainnya, mereka yang kalah dalam pemilihan memiliki tempat yang tak kurang 
terhormatnya dari sang pemenang, yakni sebagai oposisi yang mengawal perjalanan 
pemerintahan selanjutnya.

Demokrasi dan penegakan hukum adalah dua sisi mata uang, dan keduanya harus 
ditegakkan untuk menciptakan masyarakat yang sehat dan berkeadilan. Perjalanan 
demokrasi Indonesia setidaknya sudah dimulai sejak pengakuan kita atas 
pemilihan pemimpin secara langsung oleh rakyat dijalankan. Kini, presiden baru 
sudah terpilih. Begitu banyak agenda dan perbaikan bangsa yang harus segera 
dilakukan. Kemiskinan, pengangguran, pendidikan, krisis ekonomi, kebudayaan, 
masalah agama dan pluralitas, serta berbagai masalah lainnya saling tumpuk 
menjadi satu dan membutuhkan pendekatan yang arif dan demokratis dalam mencari 
jalan keluarnya.

Di sisi lain, kedaulatan rakyat seharusnya menjadi prioritas utama dalam 
kebijakan dan visi pemimpin terpilih ke depan. Untuk menjadi negara demokrasi 
sejati, kedaulatan rakyat itulah kuncinya-bukan kedaulatan elite atau kekuasaan 
uang. Pasangan pemimpin terpilih seharusnya memandang permasalahan kebangsaan 
dengan cakrawala luas, yang mementingkan seluruh golongan masyarakat.

Bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang kuat, tegar, adil, dan memiliki 
orientasi yang jelas berpihak pada rakyat dan bukan kepada pemilik modal. 
Pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya ukuran sukses pemerintahan. Ukuran 
utamanya adalah berkurangnya jumlah orang miskin, pengangguran, kebodohan, 
kerusakan lingkungan hidup, korupsi, pelanggaran HAM, dan kekerasan dalam 
jumlah yang signifikan.

Ini merupakan syarat-syarat Utama perubahan bangsa ini. Keutamaan sang pemimpin 
bisa dilihat dari kemampuannya menyelesaikan masalah bangsa dan keberpihakannya 
pada masalah yang dialami oleh rakyat jelata. Pemimpin terpilih begitu 
diharapkan untuk benar-benar memiliki keutamaan ini. Keutamaan seorang pemimpin 
dinilai dari catatan moral dan pengabdian kepada bangsa yang direncanakan dan 
dilaksanakannya. Ini amat penting untuk melihat kesungguhan orang yang 
menjalankan roda pemerintahan. Artinya, pemimpin masa depan adalah pemimpin 
yang mampu berkomunikasi dengan rakyatnya bukan dengan tangan besi, melainkan 
dengan hati yang jujur dan tulus.


Nilai Kemanusiaan

Ketulusan menjadi dasar seseorang untuk mengantarkan bangsa ini kepada masa 
depan. Sikap tulus ini tentu harus disertai dengan kecerdasan dalam 
mengoordinasikan tujuan dan target yang ingin dicapai. Tujuan yang ingin 
dicapai harus membebaskan masyarakat dari politik adu domba yang kerap 
dilakukan oleh negara. Negara seharusnya memfasilitasi pertumbuhan nilai-nilai 
kemanusiaan yang tercermin dalam peradaban para aparaturnya.

Aparatur yang beradab selalu mengutamakan tertib sosial dan hukum. Setiap 
pemimpin yang terpilih selalu dicita-citakan sebagai pemimpin bangsa masa 
depan. Oleh karena itu, mereka harus berani menegakkan keadilan tanpa melupakan 
kebenaran. Kebenaran tanpa keadilan tidak akan menciptakan tata dunia baru. 
Tata dunia baru tercipta bila hukum memiliki kedaulatan di atas kepentingan 
politik. Politik harus tunduk pada moralitas. Inilah zaman yang diharapkan di 
mana lembaran baru tercipta demi terwujudnya cita-cita para pendiri bangsa ini.

Para pemimpin terpilih seharusnya kembali mengingat untuk apa mereka memimpin. 
Tentu bukan hura-hura, karena merasa telah memenangkan kompetisi demokrasi, 
justru adalah sebuah agenda yang sangat berat. Rasa bersyukur yang berlebihan 
bukan sesuatu yang elok dipandang. Menjadi pemimpin bukanlah sebuah hadiah, 
melainkan amanat penderitaan rakyat. Tentu mereka harus kembali mengingat etika 
dan tujuan berpolitik. Berpolitik harus menjelma menjadi tindakan untuk 
melayani masyarakat. 

Orang yang terlibat dalam politik harus mengacu pada moralitas kemanusiaan dan 
keadilan. Politik dan pemerintahan harus menjadikan nilai moralitas publik 
sebagai acuan. Pemimpin sejati seharusnya meninggalkan keinginan dan nafsu 
kekuasaan politik sebagai sandaran hidup untuk memperoleh kekayaan. Sebab bila 
demikian, politik hanya akan menjadi arena investasi belaka: Mengeluarkan 
berapa dan apa, dan mendapatkan berapa dan apa. Politik kekuasaan adalah amanat 
penderitaan rakyat. 

Pertanyaan buat para pemimpin terpilih ialah bagaimana kita menyikapi kondisi 
kritis bangsa kita saat ini. Komitmen berbangsa yang dimanifestasikan dalam 
bentuk kerelaan berkorban secara sungguh-sungguh merupakan salah satu langkah 
yang mengantarkan bangsa ini mencapai perubahan masa mendatang.

Mengapa tidak belajar dari para pendiri negara ini dalam kentalnya komitmen 
mereka terhadap pengorbanan lahir batin akan nasib bangsanya. Setiap langkah 
yang mereka lakukan selalu diarahkan kepada upaya bagaimana rakyatnya hari ini 
lebih baik dari kemarin, esok lebih baik dari hari ini. Hal itu hanya bisa 
dilakukan bila pemimpin baru sungguh-sungguh berpihak kepada rakyat jelata. 
Mereka semua adalah penghuni mayoritas bangsa yang disebut Indonesia. Selamat 
buat yang terpilih, di tangan Anda bangsa ini dipertaruhkan, dan rakyat dengan 
setia menunggu realisi janji sebagai bukti, bukan ilusi.


Penulis adalah Pemerhati Sosial Politik


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke