Pertimbangan

Setahu saya Indonesia diakui oleh Kerajaan Belanda sebagai "Republik Indonesia 
Serikat" yang didirikan setelah ada "ronde tafel conferentie" di den Haag 1949. 
Sekalipun pernah ada kehadiran seorang Menlu Belanda pada upacara 17-an di 
Istana Negara, namun secara politik internasional Belanda tidak mengakui dan 
menghormati proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. 

Hasil KMB yang dikenal di Indonesia adalah, bahwa para politikus yang 
menjadikan dirinya sebagai pemimpin Bangsa Indonesia menyetujui utang Belanda 
kepada sekutunya dalam pembelian senjata dan munisi untuk membunuhi Bangsa 
Indonesia dalam agresi I+II terhadap RI Proklamasi 45 sebagai utang Bangsa 
Indonesia yang harus dibayar. Dan yang utama adalah PENOLAKAN KERAJAAN BELANDA 
atas PROKLAMASI KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA pada 17 Agustus 1945. Sangat 
tragis dan menghina, bukan? 

Untuk itu semua generasi muda Indonesia harus BERANI KRITIS membaca 
tulisan-tulisan mengenai "sejarah Indonesia" yang ditulis oleh siapapun. 
Gunakan dasar berfikir rasional, logis dan dialektis untuk memahami kesejarahan 
Bangsa Indonesia beserta sistim kenegaraan RI yang kini berada. Usahakan 
membaca fakta-fakta terdokumentasi di semua pusat perpustakaan dan dokumentasi 
agar dianalisis secara deduksi dan reduksi maupun melalui diferensiasi. Gunakan 
methode analisis matematika terhadap peristiowa-peristiwa. Kepada para generasi 
muda Muslimin yang terdidik (istilah orang Jawa: mangan sekolahan) saya 
anjurkan menggunakan firman Qurani sebagai CAHAYA PENERANG, PETUNJUK guna dapat 
membedakan yang benar dari yang salah, yang adil dan yang tidak adil. 

Harap dicamkan dalam fikiran, bahwa para pemimpin dan bapak-ibu "pendiri RI" 
adalah kaum terdidik yang paling menyadari akan ketidak adilan sistim kolonial 
Artinya tidak semua kaum terdidik di Nederlands-Indie ketika itu sadar akan 
tidak adilnya sistim kolonial Nederlands-Indie dari politik kolonial Kerajaan 
Belanda. Dan mayoritas kaum terdidik ketika bersumpah setia kepada Ratu 
Kerajaaan Belanda, selanjutnya sesudah Proklamasi Kemerdekaan 45 meninggalkan 
Indonesia dan gelombang terahir pada tahun 1957. Mereka dididik menurut 
aturan-aturan prinsipial dari politiek etis pemerintah Kerajaan Belanda ketika 
itu dengan tujuan menciptakan kader-kader administratif pribumi untuk menguasai 
pribumi. Jika para kader pribumi yang terdidik ketika itu kemudian melawan 
strategi Kerajaan Belanda atas jajahannya di Nederlands-Indie dengan menyatakan 
kemerdekaan Indonesia, maka Kerajaan Belanda melakukan tindakan yang mereka 
sebut sebagai "politionele aktie". 

Dasar ideologi dan cita-cita hidup para terdidik para politisi ketika itu tidak 
dapat lain kecuali ideologi sekuler Eropa Barat dan cita-cita hidup sebagai 
"bourgeouis" Eropa Barat, hususnya Belanda. Realitas ini selanjutnya dibuktikan 
oleh bentrokan-bentrokan KEPENTINGAN di antara elite politisi dengan awam 
pribumi yang mayoritas Muslim, bodoh dan melarat, yang dapat dipantau dari 
kurun sejarah sejak bermulanya gerakan-gerakan melawan penjajahan hingga saat 
ini. 

Wassalam,
A.M

  


From: andre andreas 
Sent: Tuesday, August 18, 2009 4:56 AM
To: [email protected] 
Subject: [ppiindia] Fw: Empat Tahun Merdeka, Enam Puluh Tahun Dijajah Utang


  Dukung Gerakan Indonesia 
Merdeka dari Utang 

  

sumber : www.kau.or.id

Sejak 60 tahun lalu (1949 – 2009), Indonesia terus dijajah oleh utang.
Dalam perjanjian Konfrensi Meja Bundar (1949), Belanda mewariskan utang sebesar
US$ 4 miliar dolar sebagai syarat kemerdekaan republik. Padahal utang tersebut
digunakan untuk memerangi rakyat Indonesia dan menguras kekayaan
alam. 

Selain menanggung beban utang, Indonesia 
juga harus tunduk pada aturan-aturan ekonomi di bawah International Monetery
Fund (IMF). Sejak saat itu, semasa pemerintahan Orde Lama, utang menjadi alat
bagi intervensi asing terhadap kebijakan ekonomi dan politik di dalam negeri.
Selain itu, warisan utang luar negeri yang besar dari KMB telah menyulitkan 
Indonesia 
membiayai pembangunan di awal kemerdekaan. 

Selesai orde lama, rezim utang baru dibangun dengan dukungan lembaga keuangan
internasional seperti IMF, Bank Dunia dan Asian Development Bank. Di bawah
kekuasaan Soeharto (1965 – 1998), jumlah utang Indonesia meningkat sangat pesat.
Jumlah utang luar negeri Indonesia 
membengkak mencapai US$ 54 miliar. Utang-utang tersebut diperoleh dari lembaga
keuangan internasional dan negara-negara industri kaya (Amerika, Eropa dan
Jepang). Dengan jumlah utang yang besar tersebut, orde baru bertahan selama 32
tahun dan para pejabatnya berhasil memperkaya diri dengan mengkorupsi dana
utang. Kebijakan ekonomi semakin
terbuka bagi investor asing, dan kekayaan alam dikuras. Sementara rakyat
kebanyakan, hidup dalam ketertindasan dan kemiskinan. 

  

Selengkapnya


http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/08/konferensi-meja-bundar-kmb-1949-dan.html

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke