Demikianlah mentalitas "ambtenarij" (pegawai) yang dididikkan oleh penguasa 
Nederlands-Indie kepada para terdidik pribumi hingga kini masih kuat berakar 
dan tumbuh di semua lapisan masyarakat. 

Sangat jarang diantara mereka yang terdidik bermentalitas "pengusaha" yang 
harus selalu kreatif dan bekerja keras dengan semua resiko usaha yang harus 
diterima.

Hanya apabila setiap sarjana S1-S3 berani berinisiatif untuk dengan bermodal 
dengkul dan kepala yang piawai/kreatif berkarya menciptakan kerja bagi dirinya 
sendiri, maka Indonesia bakal maju melompat.


  ----- Original Message ----- 
  From: Satrio Arismunandar 
  To: news Trans TV ; kampus tiga ; sastra pembebasan ; technomedia ; HMI Kahmi 
Pro Network ; Forum Kompas ; jurnalisme ; ppiindia 
  Sent: Wednesday, August 19, 2009 16:26 PM
  Subject: [ppiindia] Catatan Seorang Tekno-Nasionalis Euforia


    

  Senin, 17/08/2009 13:18 WIB 
  Kolom Telematika 
  Catatan Seorang Tekno-Nasionalis Euforia 
  Penulis: Fajar Widiantoro - detikinet

  Gamelan (gamelatron. com) 
   
  Kolom Telematika - "Kelak, akan tercatat dalam sejarah dunia. Sebuah bangsa 
besar yang terletak di antara Samudera Hindia dan Pasifik, serta benua Asia dan 
Australia. Mereka menjadi kuli di negeri sendiri, menjadi budak bagi bangsa 
lain." Demikian kutipan dari Ir Soekarno, Presiden RI pertama kita.

  Mungkin perkataan Bung Karno di atas dapat benar-benar terjadi dalam 
sepuluh-dua puluh tahun ke depan. Saat kita tidak lagi memiliki sesuatu -- yang 
saya lebih suka menyebutnya dengan "Tekno-Nasionalis Euforia".

  Seharusnya Malu

  Beberapa waktu lalu, seseorang bernama Aaron Taylor Kuffner a.k.a Zemi17, 
seakan telah membuat 'tamparan' keras bagi generasi muda Indonesia. Pasalnya, 
ia telah membuat karya yang disebut sebagai GamelaTron. Apa itu?

  "GamelaTron adalah koleksi dari instrumen musik milik Indonesia yang bernama 
gamelan. Kami menambahkan kata Tron mengacu pada gamelan versi elektronik yang 
mereka mainkan. Gamelan ini dijalankan oleh 'lengan-lengan bermesin' yang 
berjumlah 117 buah, " seperti dijelaskan Zemi17 dalam situsnya.

  Tugas dari lengan-lengan tersebut, yakni sebagai martil yang bekerja bersama 
lewat jaringan yang dikontrol dari komputer. Sebagai otak inti dari 
masing-masing instrumen yang mereka mainkan, sebuah mikroprosesor yang bisa 
menginteprestasikan sinyal musik dibenamkan di dalamnya.

  Dilansir Reuters, sejak pertama diluncurkan tahun lalu, berbagai kota telah 
mereka satroni untuk mempertunjukkan orkestra unik ini. Termasuk New York, 
Pennsylvania dan Connecticut. Bahkan, robot gamelan ini sudah punya basis 
penggemar sendiri.

  Sejak 2004 sampai 2006, Zemi17 telah tinggal di Indonesia. Ia fokus pada 
riset mengenai gamelan klasik di Yogyakarta dan Bali. Riset studinya ini 
berfokus pada dua hal yang menjadi akar dari Gamelan: Sekaten dari Jawa Tengah 
dan Slonding dari Bali.

  Lalu ke manakah pemuda-pemuda Indonesia lainnya saat Zemi17 berkarya membuat 
GamelaTron ? Relakah kita bila ada 'orang asing' realitanya justru lebih cinta 
akan khasanah budaya kita? Ironis.

  Tangisan Ibu Pertiwi

  Nasionalisme. Apalah artinya, jika seorang warga negara justru lebih 
mencintai budaya asing, sementara budaya asli yang merupakan akar dari 
budayanya sendiri mati tergerus. Siapa yang tidak mengenal arti kata 12 huruf 
yang berbunyi N-A-S-I-O-N- A-L-I-S-M- E. Tanyakan pada guru PPKN atau PMP 
sewaktu kita duduk di bangku SD. Saya rasa kita sudah 'kenyang' dengan arti 
kata ini.

  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hedonisme diartikan sebagai 
pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama 
dalam hidup (KBBI, edisi ketiga, 2001). Secara umum para hedonis tersebut hanya 
berpikir pada hasil dan bukan proses.

  Kedua hal ini mungkin tidak ada kaitannya secara langsung. Andai kedua hal 
ini dikaitkan, Anda mungkin bisa menjawab sendiri jika ditanya, porsi mana yang 
lebih besar antara nasionalisme vs hedonisme ini bagi pemuda-pemudi Indonesia. 

  Mungkin saat ini, ibu pertiwi sedang menangis merasakan greget nasionalisme 
bangsa ini tergerus oleh mesin-mesin 'asing' yang telah mencabut akar-akar 
budaya kita sendiri. Seolah membuat generasi muda kita lupa akan keagungan 
nilai budaya Indonesia, seperti gamelan, misalnya. 

  Tengoklah sekeliling kita. Tanyakan pada mereka dan diri kita sendiri, apakah 
masih peduli akan kekayaan budaya bangsa ini? Jawab secara jujur, apakah kita 
mengetahui keindahan nada-nada pentatonis macam pelog dan slendro? 

  Bagi beberapa dari kita yang berada di Jawa bertahun-tahun, apakah kita bisa 
memainkan melodi ensembel musik dari bonang, saron, rebab dan siter? Slenthem, 
gender, gambang dan demung? Jangankan bermain, tahu bentuknya saja tidak.

  Semakin ironis karena muda-mudi kita lebih pandai menghentakan jari-jarinya 
pada keypad BlackBerry atau iPhone, dibanding menghentakannya untuk belajar 
Gamelan. Memainkan serta belajar menggunakan aplikasi-aplikasi baru, kita akui 
memang jauh lebih menarik daripada belajar budaya daerah.

  Sentuhan Teknologi

  Sore itu seorang teman, seorang mahasiswa di Bandung, mengirimkan email. Ia 
mendiskusikan mengenai pemanfaatan teknologi bagi kemajuan bangsa. Ia pun 
berkata kepada saya soal pidato Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup di 
era Presiden Soeharto.

  "Nusantara kaya dengan lautan, hutan tropis dan sumber daya mineral. 
Ketiganya merupakan potensi yang jika diberdayakan dengan sentuhan sains dan 
teknologi yang tepat dapat menjadi sumber keunggulan Bangsa Indonesia." kata 
Profesor Emil Salim dalam pidatonya yang berjudul 'Technology for Sustainable 
Development: The Case of Indonesia', di Auditorium Campus Centre ITB, Jumat 
(19/6/2009).

  Dari pidato tersebut, Profesor Emil membuat kesimpulan, bahwa masyarakat 
Indonesia, khususnya kalangan terdidik, harus kreatif dalam mengembangkan dan 
menginternasionalka n potensi lokal yang sebetulnya telah melekat dalam tradisi 
bangsa.

  Sebenarnya banyak jalan untuk membangun bangsa ini melalui aplikasi 
teknologi. Sebut saja JENI, sebuah program yang dimiliki SUN Microsystem 
Indonesia untuk membuat aplikasi berbasis open source. Lihatlah tim dari bangsa 
ini yang menjadi juara International Robo Games yang digelar 12-14 Juni 2009 di 
San Francisco, AS.

  Belum lagi maraknya kantong-kantong komunitas nasionalis, yang kini banyak 
bertebaran di Facebook, Twitter, Plurk, dan beberapa situs jejaring lainnya 
layaknya IndonesiaUnite! . Di Facebook, misalnya, telah banyak grup-grup yang 
bertujuan menggalang nasionalisme. Demi menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa. 
Sebut saja:  Forum Komunikasi Peserta CETAK REKOR: Memerah Putihkan FACEBOOK.

  Hal-hal di atas, walaupun kecil namun memiliki tujuan yang sama, yakni: 
menumbuhkan semangat nasionalisme. Seperti yang telah dicita-citakan para 
pendahulu kita. Inilah semangat terpenting yang harus ada, ditengah 
kompleksitas permasalahan bangsa ini. 

  Merdeka

  Tulisan ini tidak ditujukan kepada kita agar mengubah diri secara frontal dan 
memojokan hal-hal tertentu. Tapi minimal kita harus berkaca pada diri 
masing-masing. Apa kontribusi kita bagi bangsa yang telah merdeka selama 64 
tahun ini?

  Mungkin kita bukanlah ahli dan pakar di bidang teknologi, atau seseorang yang 
dikaruniai IQ tinggi untuk mencipta sesuatu yang berguna bagi bangsa ini. Namun 
saya yakin kita semua pasti memiliki talenta, walaupun kecil. Nah, gunakanlah. 
Apapun posisi dan bidang pekerjaan, kita tetap harus produktif. Produktif demi 
kemajuan bangsa ini.

  Dalam kesempatan ini, marilah kita ciptakan sebuah semangat, kegilaan, 
kebersamaan, serta produktivitas tinggi berbasis teknologi. Demi kemajuan 
bangsa ini. Merdeka!

  Penulis adalah wartawan detikINET yang sangat mencintai negaranya. Tulisan 
ini tidak mencerminkan institusi tempat ia bekerja.

   

  ( fw / rou ) 

  [Non-text portions of this message have been removed]



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke