Tiap tahun, khusunya di Indonesia orang beragama dari kelas tinggi sampai ke 
yang paling rendah melekat dengan tanah saling menita maaf. Tidak salah meminta 
maaf bila melakukan kesalah dan malah bagus, dan supaya tidak menglangi 
keslahan tetapi maaf-maafan ini kebanyakan hanya sebagai sepuhan bibir kering 
tanpa kenyataan pada prakteknya.  Manipulator harta kekayaan kekayaan rakyat 
yang umumnya terdiri petinggi negara disemua tingkat dan jabatan pun 
mengucapkan maaf, tetapi setelah hari maaf mereka melakukan prosedur yang biasa 
dijalankannya, harta korupsi ditumpuk-ditumpuk, kantong dan perut menjadi 
gendut.

Tahun 1965/1966, paling tidak sejuta lebih orang dimatikan dan ratusan ribu 
orang dipenjarakan tanpa dibuktikan kesalahan dan dipertiadakan hak-hak sipil 
tanpa , tidak termasuk dalam maaf-maaf ini, karena hanya ritualnya. 

----- Original Message ----- 
  From: Harry Adinegara 
  To: [email protected] 
  Cc: hksis hksis ; media care ; ppi india ; [email protected] 
  Sent: Sunday, September 20, 2009 7:49 AM
  Subject: [HKSIS] ................maaf Lahir Batin(?)


    Dengan dan mendengar semaraknya ucapan dalam memperingati perayaan 
Idulfitri ini, tergeltik aku akan ungkapan, setelah menyelamati ybs dalam 
merayakan hari raya ini juga ada kelanjutan phrasing...maaf Lahir Batin.

        Punten, nuwun sewu, bukan se-kali2 untuk membandingkan apalagi 
mempertentangkan ucapan ber-hari raya yang di pakai oleh banyak golongan dan 
agama lain selain agama Islam, aku hanya ingin tahu apa sebenarnya
        yang terkandung dalam ungkapan ini dan bertanya dalam hati apakah 
phrasing ini ada suatu kondisi yang sebenarnya bisa dihindarkan dan tidak perlu 
dipakai.
        Sekali lagi nuwun sewu.

        Aku bertanya dalam hati, kenapa baru dalam sekali setahun minta agar 
kita ini diberikan maaf lahir dan batin? Tentunya selama setahun, sebagai 
manusia tentunya tidak bebas dari kesalahan. Tapi kenapa baru sekarang, sekali 
setahun kita minta maaf? Kenapa sewaktu ,dalam kurun waktu setahun misalnya 
kita berbuat kesalahan tidak segera waktu itu kita minta maaf. Tentunya ada 
yang coba menangkis dengan jawaban...."ya sudah aku lakukan tuh"!..."ini kan 
memperkuat permintaan maafku yang duluan yang pernah aku lakukan".Kira2 begitu 
mungkin tangkisan-nya, ....betul?

        Tapi coba kita selami, ...."lahir batin", apakah pemimpin2 kita itu 
sewaktu melakukan kesalahan misalnya melakukan per-korupsiaan ria, apakah 
mereka sudi meminta maaf kepada ybs. Ada yang membunuh hakim agung ya ngak 
minta maaf malahan mau jadi kepala parpol, jadi sangat menggeletik untuk 
dipertanyakan. Apakah ungkapan..."lahir batin" itu cuman sebagai ritual yang 
bernada pop, dan orang perlu bersikap....ngikuti...tunduk kemana angin berniup?

        Kayaknya aku tidak pernah dengar misalnya dalam merayakan Xmas dan juga 
misalnya di agama Budha dan Khonghucu, aku tidak pernah tahu adanya phrasing 
ini...."minta maaf lahir batin". Sekali lagi nuwun sewu, bukan untuk mencoba 
memperbandingkan agama yang satu dengan agama yang lain. Ini kan soal ritual 
saja, soal ucapan selamat kepada orang lain.
        Apalagi kalau kata2.......maaf Batin...wah sukar disimak apakah benar2 
orang yang bersangkutan...benar2 dengan tulus minta maaf, secara batini-ah(kan 
ngak ada yang tahu)!

        Tapi biarlah aku tutup dengan mengucapkan kepada yang merayakan 
saudara2 sekalian...."Selamat ber-Idul Fitri, semoga berbahagia untuk tahun2 
kedepan"

        Harry Adinegara 




------------------------------------------------------------------------------
  Get more done like never before with Yahoo!7 Mail. Learn more.

  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke