Mungkin saja itu sudah dianggap sekedar ritual belaka.
Tapi aku manusia, manusia biasa, sangat biasa,
yang jadi begini karena anda, 
tanpa anda aku bukan siapa-siapa.
karenanya, aku tak ingin kehilangan anda.
 
Dan setelah sebulan aku berpuasa, 
menahan lapar dan dahaga,
meresapi derita dan nestapa, 
maka aku yakin harus memohon kepada anda, 
maafkan segala kesalahan,
yang lahir maupun batin.
Marilah kita bina kembali hubungan diantara kita 
dengan sebaik-baiknya
 
Masjhudulhaq Salim 


>
>From: Harry Adinegara <[email protected]>
>To: [email protected]
>Cc: hksis hksis <[email protected]>; media care 
><[email protected]>; ppi india <[email protected]>; 
>[email protected]
>Sent: Sunday, September 20, 2009 1:49:41 PM
>Subject: [ppiindia] ................maaf Lahir Batin(?)
>
>  
>Dengan dan mendengar semaraknya ucapan dalam memperingati perayaan Idulfitri 
>ini, tergeltik aku akan ungkapan, setelah menyelamati ybs dalam merayakan hari 
>raya ini juga ada kelanjutan phrasing...maaf Lahir Batin.
> 
>Punten, nuwun sewu, bukan se-kali2 untuk membandingkan apalagi 
>mempertentangkan ucapan ber-hari raya yang di pakai oleh banyak golongan dan 
>agama lain selain agama Islam, aku hanya ingin tahu apa sebenarnya
>yang terkandung dalam ungkapan ini dan bertanya dalam hati apakah phrasing ini 
>ada suatu kondisi yang sebenarnya bisa dihindarkan dan tidak perlu dipakai.
>Sekali lagi nuwun sewu.
> 
>Aku bertanya dalam hati, kenapa baru dalam sekali setahun minta agar kita ini 
>diberikan maaf lahir dan batin? Tentunya selama setahun, sebagai manusia 
>tentunya tidak bebas dari kesalahan. Tapi kenapa baru sekarang, sekali setahun 
>kita minta maaf? Kenapa sewaktu ,dalam kurun waktu setahun misalnya kita 
>berbuat kesalahan tidak segera waktu itu kita minta maaf. Tentunya ada yang 
>coba menangkis dengan jawaban...." ya sudah aku lakukan tuh"!..."ini kan 
>memperkuat permintaan maafku yang duluan yang pernah aku lakukan".Kira2 begitu 
>mungkin tangkisan-nya, ....betul?
> 
>Tapi coba kita selami, ...."lahir batin", apakah pemimpin2 kita itu sewaktu 
>melakukan kesalahan misalnya melakukan per-korupsiaan ria, apakah mereka sudi 
>meminta maaf kepada ybs. Ada yang membunuh hakim agung ya ngak minta maaf 
>malahan mau jadi kepala parpol, jadi sangat menggeletik untuk dipertanyakan. 
>Apakah ungkapan..." lahir batin" itu cuman sebagai ritual yang bernada pop, 
>dan orang perlu bersikap.... ngikuti.. .tunduk kemana angin berniup?
> 
>Kayaknya aku tidak pernah dengar misalnya dalam merayakan Xmas dan juga 
>misalnya di agama Budha dan Khonghucu, aku tidak pernah tahu adanya phrasing 
>ini...."minta maaf lahir batin". Sekali lagi nuwun sewu, bukan untuk mencoba 
>memperbandingkan agama yang satu dengan agama yang lain. Ini kan soal ritual 
>saja, soal ucapan selamat kepada orang lain.
>Apalagi kalau kata2....... maaf Batin...wah sukar disimak apakah benar2 orang 
>yang bersangkutan. ..benar2 dengan tulus minta maaf, secara batini-ah(kan ngak 
>ada yang tahu)!
> 
>Tapi biarlah aku tutup dengan mengucapkan kepada yang merayakan saudara2 
>sekalian.... "Selamat ber-Idul Fitri, semoga berbahagia untuk tahun2 kedepan"
> 
>Harry Adinegara



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke