Sebetulnya sederhana, kenapa Siti Fadilah Supari tak dipakai lagi sebagai 
Menkes. Kebijakannya yang populis sangat tidak disukai kalangan industri besar 
farmasi dan vested interests lain, dari dalam dan luar negeri. Misalnya:
 
1. Jaminan kesehatan masyarakat (miskin) yang dianggarkan dari APBN untuk 
rakyat (bukan menyerahkan uang APBN ke perusahaan-perusahaan asuransi 
kesehatan, seperti maunya kalangan bisnis dan makelar/perantara jasa kesehatan).
 
2. Menolak privatisasi Rumah Sakit (padahal kabarnya banyak pihak asing yang 
sudah siap membeli RSCM, RS Fatmawati, dll jika jadi diprivatisasi), karena 
dikhawatirkan mermbuat pelayanan kesehatan makin tak terjangkau rakyat kecil. 
Meskipun privatisasi akan meningkatkan gaji Direktur RS!
 
3. Mewajibkan industri farmasi asing bikin pabrik di Indonesia jika mau menjual 
produknya di Indonesia (jadi jangan cuma menjadikan RI sebagai pasar obat saja).
 
4. Dll....

Musuh Siti jadi terlalu banyak.... Tapi fakta perubahan ketentuan di WHO soal 
pengiriman virus itu adalah jasa RI zaman Siti jadi Menkes. RI didukung banyak 
negara berkembang. Bahkan sejumlah negara Eropa juga mendukung. Peraturan baru 
ini akhirnya juga diterima AS era Obama.
 
Singkatnya secara sederhana begini:
 
Selama hampir 60 tahun, ada ketentuan bahwa negara yang warganya kena 
virus wajib mengirim virus ke WHO dengan alasan kemanusiaan (untuk dicarikan 
vaksinnya). WHO sebagai lembaga di bawah PBB dianggap mewakili kepentingan 
dunia. That's fine!
 
Yang banyak orang tidak tahu, oleh WHO virus itu diserahkan ke badan tertentu, 
sebut saja namanya GINS (Global Influenza Surveillance Network), yang statusnya 
sebetulnya berada di bawah hukum Amerika Serikat.
 
Indonesia sudah berjuang di pertemuan WHO tingkat dunia untuk mengubah GINS . 
Menurut aturan GINS ini, ka­tanya, negara-negara yang ter­papar virus influenza 
harus me­nyerahkan virusnya ke WHO.

Sampai di sini aturannya bagus. Tapi, ternyata WHO melalui GINS membagikan 
virus tersebut ke perusahaan vaksin negara maju (baca: AS) yang negaranya tidak 
terpapar vi­rus tersebut. Lalu perusahaan vaksin tersebut membuat vaksin dan 
menjualnya ke negara yang terpapar tadi, yang biasanya negara berkembang dan 
miskin.

Ketika virus sudah ada di dalam GINS, statusnya tidak transparan. Dari GINS 
ternyata ketahuan virus dari Indonesia sudah dikirim ke laboratorium militer di 
Los Alamos, New Mexico (AS). Karena mekanisme ini tidak transparan, kita tak 
tahu apa yang terjadi dengan virus itu.
 
Secara potensial, Virus itu bisa dikembangkan jadi senjata biologis (please, 
jangan sebut saya penganut teori konspirasi!). Who knows? Toh tidak ada 
transparansi.
 
Virus itu juga bisa dicarikan vaksinnya, yang lalu dijual dengan harga mahal ke 
negara-negara miskin/berkembang.
 
Jika negara berkembang tak punya uang buat beli vaksin, akan dipinjami uang 
lewat Bank Dunia, IMF, atau apalah, yang ujung-ujungnya justru menimbulkan 
ketergantungan dan ketundukan ekonomi (Bank Dunia, IMF, dll dikuasai negara 
maju/AS).
 
Sehubungan dengan hal ter­sebut, bisnis vaksin dari negara-ne­gara maju pun 
laku keras dan ob­jeknya adalah negara-negara ber­kembang dan miskin yang 
terkena wabah.

Negara-negara berkembang dan miskin tersebut tidak diber­da­yakan oleh 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membuat vak­sin guna melindungi diri, 
tapi lem­baga internasional ini be­ker­jasama dengan perusahaan vaksin dari 
negara maju pembuat vaksin, dan lalu menjualnya ke negara ber­kembang dan 
miskin yang terkena wabah.

Lalu mengapa sejumlah negara Eropa juga mendukung Indonesia? Perusahaan farmasi 
Eropa selalu kalah bersaing dengan perusahaan AS, yang --karena menguasai virus 
dan vaksinnya-- tentu bisa menjual vaksin dengan harga bersaing di pasar 
internasional. Jadi, meski dengan alasan yang berbeda, mereka mendukung 
Indonesia menuntut perlakuan yang lebih adil dalam tata kelola virus. Berkat 
dukungan banyak negara inilah aturan GINS kini dicabut, dan dibuat aturan baru 
yang lebih fair buat negara miskin.
 
Jadi, jelas kan di mana letak persoalan besarnya? Ini menyangkut bisnis 
milyaran dollar yang mempengaruhi nasib jutaan bahkan milyaran penduduk dunia 
(khususnya negara berkembang). Jadi, soal Siti Fadilah begini atau begitu (soal 
personalitas), saya anggap persoalan remeh temeh.  
 
Menkes Siti Fadilah sengaja menahan pengiriman virus, selama belum ada 
mekanisme yang transparan di WHO dalam pengelolaan virus dari Indonesia dan 
negara-negara berkembang ini. Indonesia bukannya menolak kerjasama 
internasional demi kemanusiaan, tetapi menolak dimanipulasi dan diperalat dalam 
konteks kepentingan bisnis farmasi negara maju, yang hanya menjadikan negara 
berkembang itu sumber virus, dan pasar bagi penjualan vaksin! 
 
Tentu saja, ibu Menkes ini akan marah besar, ketika --dalam perjuangan melawan 
kekuatan besar yang global itu-- eh, ada bawahannya yang dengan lugu (atau 
pura-pura lugu) membawa virus tanpa izin ke Vietnam, dalam pertemuan dengan 
para peneliti virus lain. Alasannya, mau diserahkan ke sesama peneliti 
("kebetulan" penelitinya kok ya orang Amerika!) demi kerjasama 
internasional atas "alasan kemanusiaan" atau " kemajuan ilmu pengetahuan."
 
Ah, tapi kenapa saya harus pusing? Toh semua uraian saya ini akan dianggap 
teori konspirasi lagi? Capek dehh......!

 



Satrio Arismunandar 
Penggemar novel detektif Agatha Christie 


















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke