Pilih Pijat atawa Duren


KULITNYA putih mulus. Badan tinggi semampai, rambut lurus sebahu. Meski sudah 
47 tahun, Ong Yuliana Gunawan bagaikan bintang di tahanan kelas I Medaeng, 
Sidoarjo, Jawa Timur, tiga tahun silam. ”Banyak penjaga keamanan yang kenal 
sama Yuliana,” kata Kepala Seksi Pelayanan Tahanan Kelas I Medaeng, Suwanto. 
Dua kali Yuliana mendekam di rumah tahanan Medaeng karena perkara narkoba. 
Pertama kali ia ditangkap kepolisian Surabaya Selatan di rumahnya di 
Kedungdoro, Surabaya, pada 11 Januari 2006. Ia ditahan empat bulan di Medaeng. 
Setahun kemudian, 19 Januari 2007, Yuliana, yang juga biasa dipanggil Lien, 
balik lagi ke Medaeng. Ia ditemukan memasok sabu-sabu ke rumah tahanan Medaeng 
dengan pura-pura menjadi tukang pijat. Polisi menangkapnya di sebuah apartemen 
di Jalan H.R. Muhammad, Surabaya. 
Suwanto bercerita, Yuliana mudah bergaul selama di penjara. Ia menghuni tahanan 
nomor 1 blok W, khusus wanita. Ia memang pintar memijat. ”Pijat totoknya luar 
biasa,” Suwanto mengenang. 
Nama Yuliana mencuat ketika rekaman hasil penyadapan Komisi Pemberantasan 
Korupsi diperdengarkan di Mahkamah Konstitusi. Dalam rekaman itu ada suara 
perempuan yang berbicara dengan Anggodo Widjojo. Perempuan yang diduga Yuliana 
ini menyebut nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. ”Pokoke saiki Pak SBY 
mendukung,” katanya dalam rekaman itu. 
Anggodo adalah adik buron Komisi Pemberantasan Korupsi, Anggoro Widjojo. 
Pembicaraan Yuliana dan Anggodo itu berlangsung pada 6 Agustus. Yuliana 
bercerita tentang nomor telepon seluler barunya, serta rencana bertemu dan 
memijat Ritonga. ”Dua teman akrabnya yakin, itu suara Anggodo dan Yuliana,” 
kata seorang pengusaha yang tak mau disebut namanya. 
Hingga pekan lalu, belum jelas Yuliana berada di mana. Anggodo, dalam 
wawancaranya dengan sebuah stasiun televisi, mengatakan bahwa Yuliana di 
Brunei. Tempo tak menemukan Yuliana di kediamannya di Kedungdoro dan Peneleh, 
Surabaya. Maman, adik iparnya, mengatakan bahwa Yuliana tak pernah lagi 
berkunjung ke rumah orang tuanya di Peneleh itu. 
Perkenalan Anggodo dengan Yuliana juga berawal dari pijat-memijat. Seorang 
pengusaha di Surabaya mengatakan, Anggodo pernah membantu menyelesaikan perkara 
hukum yang membelit Yuliana. Dalam rekaman, Yuliana beberapa kali memanggil 
Anggodo ”Yang”—bentuk manja panggilan ”sayang”. 
Beberapa kali pula Anggodo menjenguk Yuliana selama di tahanan polisi sampai ke 
Medaeng. ”Kami tak bertanya tentang statusnya,” kata Kepala Unit Penyidikan 
Narkotika Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya, Ajun Komisaris Polisi 
Effendi. 
Sumber Tempo mengatakan, Yuliana dekat dengan Anggoro dan Anggodo. Kemampuannya 
memijat juga menjadi pintu masuk berkenalan dengan sejumlah pengusaha dan 
pejabat. Ia melayani permintaan pijat melalui telepon. ”Yuliana pemijat andal, 
dengan melayani para naga (cukong sukses dan kaya— Red.) serta pejabat,” 
katanya. 
Menurut sumber itu, Yuliana adalah makelar kasus—biasa disingkat ”markus”—di 
lingkungan kepolisian dan kejaksaan. Ia mencari orang yang kena masalah hukum 
dan membantu menyelesaikannya. Sebagai pekerjaan resmi, ia menjadi tukang pijat 
totok di sebuah rumah pijat. 
Dalam rekaman pembicaraan, Yuliana berbincang dengan orang yang diduga sebagai 
Abdul Hakim Ritonga pada 24 Agustus. Mereka membicarakan kiriman ”duren”. 
Sumber Tempo mengatakan, di kalangan pemain dan pemakai narkoba, ”duren” 
dipakai sebagai nama sandi sabu. 
Yuliana: Sudah datang durennya? 
Ritonga: Ya, sudah. Dua kardus, dua kotak. Terima kasih, ya. 
Yuliana: Ya, Pak…. 
Yandi M.R. (Jakarta), Muhammad Taufik, Rohman Taufiq (Surabaya)
 
http://majalah. tempointeraktif. com/id/arsip/ 2009/11/09/ LU/mbm.20091109. 
LU131924. id.html



New Email addresses available on Yahoo! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does! 







      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke