http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009111408205139
Sabtu, 14 November 2009
OPINI
NUANSA: Benar dan Salah
SEBUAH stasiun televisi, pernah menayangkan acara kuis berhadiah. Sang
presenter, seorang wanita muda dengan dandanan modis, melontarkan sebuah
pertanyaan. Aturan mainnya, setiap jawaban yang benar atas pertanyaan, maka
diberi hadiah uang tunai dari sponsor kuis.
Saya melihat tayangan itu, ketika presenter sedang menunggu jawaban dari
seorang pemirsa yang terhubung melalui telepon. "Jawabannya apa? Pak. Benar
atau salah? Ayo Pak, jawabannya apa?," kata sang presenter.
Pemirsa yang didesak untuk segera menjawab langsung berkata: "Salah!"
"Yakin, Pak, jawabannya salah?" tanya si presenter lagi.
"Ya, salah," jawab si pemirsa dengan tegas.
Si penyiar, kemudian langsung berteriak. "Ya, Bapak benar. Jawabannya
salah," kata si penyiar. Kemudian langsung terdengar tepuk tangan dan tawa
kegirangan dari si pemirsa yang menjawab "salah" itu. Dia berhak mendapat
hadiah atas jawaban "salah" nya.
Awalnya saya terkejut, karena si pemirsa menjawab "salah" tapi oleh si
presenter dinyatakan benar. Bukankah itu melanggar aturan main, yang menjawab
benar itu yang benar. Namun, setelah saya membaca pilihan jawaban atas
pertanyaan yang tertera di layar kaca, saya jadi maklum. Pilihan jawaban atas
pertanyaan itu, hanya ada dua. Benar atau salah. Saat pertanyaan itu
dilontarkan, pilihan jawaban yang benar adalah "salah".
Saya jadi berpikir, jawaban benar atau salah, sangat tergantung dari
pertanyaan, dan atau pilihan jawaban yang tersedia.
Ada lagi sebuah kuis yang ditayangkan stasiun televisi luar negeri.
Kuis itu, pesertanya adalah anak-anak. Seorang anak laki-laki usia empat
tahun dalam tayangan kuis itu berhasil mencapai babak bonus.
Si anak oleh presenter, yaitu seorang laki-laki berjas dan seorang wanita
yang mengenakan blazer, dibawa ke sebuah panggung. Si presenter kemudian
meminta orang tua anak dan penonton tidak boleh membantu atau mengarahkan si
anak. "Biarkan si anak yang menjawab," kata pembawa acara.
Lalu, ia bertanya kepada anak tersebut. "Kamu sudah masuk babak bonus.
Kamu boleh memilih salah satu hadiah untuk dibawa pulang."
Lalu, sang presenter bertanya lagi kepada anak itu. "Kamu pilih sepeda
warna merah ini (sambil menunjukkan sepeda), atau memilih tabungan 10 juta
dolar AS dan bea siswa untuk kamu kuliah (sambil menunjukkan sebuah buku)?"
Tanpa ragu dan dengan ceria si anak langsung saja memilih sepeda warna
merah itu. Sebab selama ini ia ingin bisa naik sepeda, seperti kawan-kawannya
yang lain. Bagi anak itu, hadiah sepeda adalah jawaban paling benar
dibandingkan hadiah "hanya" sebuah buku.
Sementara di tayangan, kedua orang tua anak itu tampak sangat kecewa.
Dengan kedua tangan meremas kepala, si bapak berkata, "Kenapa tidak memilih
tabungan," kata dia. Kedua orang tua itu pasti berpikir, "Anak saya memilih
hadiah (jawaban) yang salah."
Tiap hari kita diperhadapkan pada tayangan-tayangan. Paling anyar dan
tren adalah tayangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Polri, Kejaksaan,
Antasari, dan Rhani, yang terus muncul di layar televisi. Tayangan itu sering
disiarkan langsung (live).
Namun, dari tayangan itu, hampir semua orang awam yang saya tanyakan,
mereka tidak tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Jawaban kebenaran itu
juga berbeda ketika saya tanyakan kepada polisi, jaksa, atau aktivis. Mereka
menyatakan kebenaran itu, menurut persepsi, dan kedekatan masing-masing.
Apakah yang kita lihat, kita dengar, kita rasa, atau kita cium, oleh
pancaindera itu adalah kebenaran? Apakah kebenaran harus selalu melalui
pendekatan. n KRISTIANTO
[Non-text portions of this message have been removed]