Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

Catatan A. Umar Said

Gelombang pasang gerakan rakyat kita

(Sebuah curhat tentang bubrahnya negeri kita)



Negeri kita dewasa ini sedang digoyang heboh luar biasa besarnya sekitar
kisruh KPK-POLRI-Kejaksaan yang sedang mengguncang opini publik di seluruh
Indonesia. Banyak sekali orang di seluruh Indonesia yang bingung, marah,
geram, muak, dan berontak melihat dan mendengar di televisi dan membaca di
pers membanjirnya berita-berita, simpang siurnya komentar, atau
membeludaknya reaksi keras berbagai kalangan dari rakyat kita yang 240 juta.
Maklum, peristiwa tersebut  menyinggung masalah besar  (dan yang penting
sekali) yang  berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan bangsa dan negara
kita.



Mengingat hebatnya gejolak dan besarnya akibat yang ditimbulkannya dalam
opini publik di seluruh negeri, maka sekarang ada kalangan yang menyamakan
peristiwa ini sebagai “gempa raksasa” di kalangan atas atau bahkan “tsunami
politik” tingkat tinggi, yang  masih sulit diduga bagaimanakah atau apa
sajakah akibatnya dan juga kemana sajakah juntrungnya. Sebab, banyak
kalangan yang melihat bahwa persoalan POLRI-KPK-Kejaksaan ini ada hubungan
atau kaitannya dengan mega skandal lainnya (yang bahkan jauh lebih besar
lagi !!! )  yang bernama kasus bank Century.



Clash antara pemerintah dan hati nurani rakyat



Karena itu, dengan mengamati perkembangan persoalan POLRI, Kejaksaan, KPK
sampai sekarang kita semua bisa melihat bahwa masalah-masalah tersebut sudah
bukan lagi hanyalah masalah hukum dan soal-soal kriminal saja, melainkan
juga sudah melebar, meluas, dan menyangkut bidang politik, partai-partai,
DPR, bahkan peran presiden SBY sendiri.  Ada kalangan yang melihat masalah
ini sebagai clash (perbenturan) antara kredibilitas pemerintah (atau
kalangan elite) versus hati nurani rakyat banyak.



Kiranya, betullah kata orang bahwa sesudah peristiwa besar dan bersejarah
tahun 1998 ( ketika Suharto dipaksa turun dari kekuasaannya), baru heboh
mengenai kisruh besar antara POLRI - KPK dan Kejaksaan (dan DPR) sekarang
inilah yang merupakan peristiwa terbesar dan terdahsyat, yang akibatnya bisa
sangat penting bagi negara dan bangsa kita di kemudian hari.



Persoalan POLRI-KPK-Kejaksaan yang sudah terus-menerus setiap hari memenuhi
halaman suratkabar, majalah, dan layar televisi di seluruh Indonesia,
merupakan salah satu di antara banyak bukti bahwa negara kta memang sedang
dirusak oleh mafia hukum, mafia peradilan, mafia kekuasaan. Sebagai
akibatnya, sejak lama belum pernah ada peristiwa yang sudah membikin brontak
emosi dan fikiran begitu banyak dan begitu luas berbagai golongan dalam
masyarakat.



Kebobrokan, kebusukan, dan kebejatan moral di kalangan tinggi aparat negara
kita ini bukan saja telah kelihatan telanjang bulat di Mahkamah Konstitusi,
atau dari proses penelitian oleh TPF (Tim 8), melainkan juga dari berbagai
pernyataan orang-orang yang tersangkut dalam perkara besar ini, termasuk
dalam perkara Antasari dan kasus bank Century.



Sejak jaman Orde Baru sudah banyak mafia


Sebenarnya, kalau kita cermati dalam-dalam, maka nyatalah bahwa negara kita
sejak pemerintahan Orde Baru sudah dijangkiti oleh penyakit parah yaitu :
mafia hukum, mafia peradilan, dan mafia kekuasaan. Seperti yang sama-sama
kita ingat, sejak rejim militer Suharto penyakit-penyakit tersebut adalah
jauh lebih parah, lebih luas, dan juga lebih lama (paling sedikit 32 tahun
!).  Dan kita juga sama-sama tahu bahwa itu semua adalah karena negara kita
waktu itu sedang dikuasai oleh suatu rejim yang merupakan mafia raksasa yang
dikepalai Suharto.



Nah, dalam mafia raksasa inilah  banyak sekali pejabat penting negara
(militer ataupun sipil seperti tokoh-tokoh utama Golkar) yang menjadi
penjahat, yang bersekongkol dengan berbagai anasir atau oknum yang
bergelimang dengan praktek-praktek korupsi.  Tetapi, kita juga sama-sama
ingat bahwa karena adanya mafia hukum, mafia peradlan dan mafia kekuasaan
(yang dikelola oleh Suharto bersama jenderal-jenderalnya) maka sedikit
sekali berbagai kejahatan (kejahatan HAM yang luar biasa, kejahatan korupsi,
kejahatan ekonomi) bisa dibongkar apalagi diadili. Dan itu berlangsung lama
sekali, selama 32 tahun !!!



Sebenarnya, sejak pemerintahan Orde Baru secara resminya saja sudah bubar
dalam tahun 1998 dan digantikan oleh berbagai pemerintahan sampai sekarang,
mafia hukum, mafia peradilan, dan mafia kekuasaan masih terus-menerus
merajalela di berbagai tingkat dan bermacam-macam bidang, dengan berbagai
bentuk dan skala yang berbeda-beda juga. Ini terjadi di Jakarta, di tingkat
propinsi, kabupaten, sampai kecamatan. Jadi korupsi sama sekali bukanlah
soal baru bagi sebagian terbesar rakyat kita.Karena sudah merajalela sejak
1965.



Negara kita adalah negara bedebah


Namun demikian, terbongkarnya sebagian dari kebobrokan dan kebusukan
pemerintahan  kita yang dipertontonkan oleh pemutaran rekaman percakapan
tilpun antara para pejabat dan penjahat oleh Mahkamah Konstitusi, disusul
dengan  proses dan hasil-hasil pekerjaan  TPF (Tim 8), ditambah dengan
berbagai pernyataan para “tokoh” utama dalam persoalan yang rumit ini
(antara lain : Kapolri, Jaksa Agung, Antasari, Anggodo, Ari Muladi, Bibit
Samad Rianto, Chandra Hamzah) menunjukkan kepada kita semua dengan jelas
bahwa  heboh tentang KPK-Polri-Kejaksaan ini sudah betul-betul membikin
makin jelas lagi bagi banyak orang bahwa negara kita ini adalah negara para
bedebah (untuk meminjam ungkapan Adhie Massardi dalam puisinya yang bagus
sekali dan sangat populer dewasa ini)



Heboh tentang kisruh di aparat negara di tingkat tertinggi ini ditambah
dengan munculnya heboh baru tentang sikap komisi III DPR yang kelihatan
sekali bersikap membela POLRI dalam persoalan pimpinan KPK (yang sudah di
non aktifkan) Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah merupakan pendidikan
politik dan moral secara besar-besaran yang skalanya atau jangkauannya belum
pernah terjadi di masa lampau.



Dengan banyaknya orang (beberapa puluh juta) di seluruh Indonesia yang
mengikuti siaran berbagai televisi  (antara lain dan terutama Metro TV,
SCTV, TV One, RCTI)  setiap pagi, siang dan malam yang banyak sekali
menayangkan berita, komentar, dialog , perdebatan dll mengenai kasus
KPK-POLRI-Kejaksaan  (sekitar Bibit-Chandra dan Antasari) maka banyak orang
bisa mengetahui dengan gamblang sekali bahwa negara  kita sedang dirusak
oleh berbagai macam mafia. Dan karena penyelesaian kasus-kasus ini (lewat
pengadilan atau lewat cara-cara lain) masih akan makan waktu  lama sekali,
maka pendidikan tentang politik dan  moral, tentang pemerintahan yang
bersih, tentang pemberantasan korupsi dan segala macam kejahatan lainnya,
yang diberikan oleh kasus-kasus ini akan luar biasa pentingnya, dan juga
tanpa preseden sebelumnya.



Rakyat kita mendukung KPK dengan antusias


Disiarkannya oleh Mahkamah Konstitusi (selama empat setengah jam) rekaman
percakapan tilpun antara berbagai pejabat top di kepolisian dan kejaksaan
dengan Anggodo dan orang-orang lainnya telah membikin meledaknya kemarahan
dan berkobarnya kebencian puluhan juta orang di seluruh negeri terhadap
kelakuan sebagian pejabat-pejabat di kepolisian dan kejaksaaan. Ini
merupakan fenomena yang penting sekali (dan menggembirakan) , yang
menunjukkan bahwa rakyat sudah tidak bisa lagi diperlakukan seperti yang
dialami selama masa rejim militer Orde Baru selama 32 tahun.



Fenomena lainnya yang juga  amat penting (bahkan terpenting kalau dilihat
dari segi jangka jauh) adalah lahirnya gerakan besar-besaran dan luas
sekali – yang juga tidak ada preseden sebelumnya – untuk mendukung KPK.
Hampir di semua kota besar Indonesia, bahkan di banyak kota kecil dan
daerah-daerah (di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara)
muncul berbagai macam gerakan, yang menggunakan nama atau bentuk : koalisi,
aliansi,  gerakan, aksi, front. Atau nama-nama lainnya yang menunjukkan
besarnya antusiasme  yang menggebu-gebu dari berbagai golongan untuk
mendukung KPK



Satu indikasi yang menunjukkan betapa hebatnya gejolak yang disebabkan oleh
kisruh POLRI-KPK-Kejaksaan (dan kemudian juga dengan DPR) adalah banyaknya
orang yang ikut dalam gerakan face-book untuk mendukung KPK bersama
Bibit-Chandranya. Dalam tempo yang singkat saja (kurang lebih sepuluh hari)
sudah tercatat ada lebih dari 1.200.000. Luar biasa!



Patutlah kiranya juga kita perhatikan bersama-sama bahwa dalam segala
gerakan atau aksi-aksi membela KPK di banyak tempat di seluruh Indonesia ini
kalangan muda dari macam-macam golongan masyarakat mengambil peran atau
inisiatif terbesar. Mereka tidak saja mengadakan berbagai macam demonstrasi,
long march, mogok makan, tetapi juga rapat-rapat umum, mengirimkan petisi,
teater, pembacaan puisi dll dll. (Sebagai contoh, di antara aksi-aksi yang
banyak dilakukan tiap hari di seluruh Indonesia itu adalah aksi mogok makan
di halaman KPK, oleh aktivis-aktivitas berbagai organisasi, termasuk dari
LMND/PRD yang berjalan selama lebih dari 10 hari).



Kalau kita perhatikan tayangan televisi tentang berbagai macam gerakan untuk
mendukung KPK  dalam melawan usaha-usaha untuk meng kriminalisasikannya atau
bahkan mematikannya, maka nampak bahwa angkatan muda bangsa kitalah yang
tampil paling depan atau ambil peran utama. Ini adalah sungguh-sungguh hal
yang paling indah dalam hiruk-pikuk tentang kisruh atau skandal besar yang
sedang kita tonton tiap hari selama ini.



Peran penting sekali kalangan muda bangsa


Kita patut bergembira juga bahwa dalam gerakan mendukung KPK ini kalangan
muda datang dari berbagai golongan masyarakat, antara lain dari golongan
Islam, Kristen, nasionalis, atau kiri (pendukung Bung Karno, atau golongan
komunis). Ikut sertanya kalangan muda dari berbagai golongan (atau partai
politik) ini menunjukkan bahwa terjadi perkembangan penting di kalangan
muda.

Bangkitnya kalangan  muda kali ini menunjukkan bahwa bangsa kita masih
mempunyai harapan akan adanya perubahan-perubahan yang menguntungkan
kepentingan orang banyak.



Ketika kalangan tua mereka (yang duduk dalam pemerintahan dan DPR sebagai
wakil berbagai partai politik) kelihatan pasif atau adem-ayem saja dalam
menghadapi heboh KPK-POLRI-Kejaksaan, karena sudah diikat atau diborgol oleh
koalisi dengan SBY-Budiono, maka banyak kalangan  muda dari berbagai
golongan ini terpaksa mengambil  jalannya sendiri dan tidak tunduk kepada
angkatan tua mereka masing-masing.



 “Rupture” (perpecahan atau  retak) antara kalangan muda - termasuk sebagian
besar intelektual-  yang umumnya membela KPK dan “angkatan tua” di
partai-partai politik dan aparat negara (atau pemerintahan) menumbuhkan
harapan akan timbulnya gerakan ekstra-parlementer yang luas dan kuat dalam
berbagai bentuk dan cara. Lahirnya gerakan yang luas ini adalah petunjuk
yang jelas bahwa kredibilitas pemerintahan SBY yang disokong oleh banyak
partai politik sudah jatuh merosot, dan bahwa DPR dan partai-partai juga
makin tidak dipercayai rakyat banyak.



Kasus skandal KPK-Polri-Kejaksaan (ditambah dengan kisruh di DPR)
menunjukkan bahwa kemunafikan dan kebejatan moral di kalangan atas sudah
mencapai puncaknya ketika kita saksikan bahwa “sumpah demi Allah” sudah
ramai-ramai diobral murah untuk menutupi kejahatan atau dosa-dosa, dan
ketika nama Tuhan juga  sudah  dicatut atau di salahgunakan (atau
dilecehkan) dalam berbagai kesempatan. Sebenarnya, mafia hukum, mafia
peradilan, dan mafia kekuasaan yang penuh dengan kemunafikan ini sudah lama
menginjak-injak agama, walaupun banyak pelaku-pelakunya menyebut dirinya
sebagai muslim dan rajin sembahyang atau berkali-kali naik haji (ingat,
antara lain : kasus Suharto, Tommy, Ibnu Sutowo, Bob Hasan,  dll dll dll)



Merajalelanya korupsi yang sejak lama disuburkan oleh mafia hukum, mafia
peradilan (termasuk mafia pengacara), yang akhir-akhir ini dibeber dengan
adanya geger kasus KPK-POLRI-Kejaksaan membikin melek sebagian besar rakyat
kita tentang kebejatan moral di kalangan elite kita. Orang pun
bertanya-tanya : sudah sampai sebegitu bejatnyakah akhlak pejabat-pejabat
kita, dan mengapa bisa terjadi penyakit yang separah itu, dan apakah  bisa
mengobatinya, dan bagaimana caranya.?



Jelaslah, bahwa jawaban kepada pertanyaan-pertanyaan itu adalah tidak
gampang dan juga bisa macam-macam sekali. Sebab ini ada kaitannya dengan
soal besar yang fundametal sekali, yaitu moral. Juga dengan soal-soal
lainnya, antara lain :  moral publik (“korupsi sudah lumrah”), pemerintahan
yang lemah, tidak adanya panutan yang berwibawa (yang seperti Bung Karno),
tidak adanya nasionalisme atau patriotisme, tidak peduli kepada kepentingan
umum atau rakyat, mengutamakan secara berlebih-lebihan kekayaan atau
kemewahan, tidak malu lagi mencuri harta umum,



Hubungan erat antara korupsi dengan mafia-mafia


Mengingat itu semua, agaknya dengan sistem dan politik pemerintahan yang
sudah dijalankan sejak 65 akan sulit sekalilah memberantas korupsi yang
berkaitan erat dengan mafia hukum, mafia peradilan dan mafia kekuasaan.
Apalagi oleh pemerintahan SBY (atau pemerintahan-pemerintahan lainnya yang
serupa atau sehaluan dengannya).



Sekarang ini sudah makin jelas bagi kita semua bahwa korupsi yang merajalela
sejak pemerintahan Orde Baru dan dibikin lebih gamblang lagi oleh skandal
besar KPK-Poliri-Kejaksaan (dan DPR) tidak kita temukan persamaannya atau
bandingannya  dengan masa di bawah pemerintahan Bung Karno. Kalaupun di masa
Bung Karno ada juga   korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, maka skalanya
adalah jauh lebih kecil, bisa diumpamakan antara gurem dan gajah, atau
antara kerikil dan gunung., dibandingkan dengan yang terjadi di masa Orde
Baru, sampai sekarang.



Karena kelihatannya masalah-masalah besar yang dihadapi rakyat dan negara
sulit sekali diatasi oleh pemerintahan SBY dengan koalisinya (partai-partai)
yang kualitasnya sudah mulai kelihatan mengewakan banyak orang dan
kehilangan martabatnya, maka dengan segala jalan serta berbagai macam cara
dan bentuk kita perlu menyokong terus sehebat-hebatnya dan sekuat-kuatnya
gerakan rakyat (terutama kalangan muda) dalam perjuangan bersama melawan
korupsi, mafia hukum, mafia peradilan dan mafia kekuasaan.



Cerakan rakyat untuk mendukung KPK yang sudah meluas di seluruh negeri
sekarang ini adalah momentum yang luar biasa bagusnya untuk dijadikan modal
bagi perjuangan bersama dalam mengadakan perubahan-perubahan sejati dan yang
fundamental di negeri kita. Momentum yang begini indah ini tidak boleh kita
biarkan lewat dengan percuma saja.



Sekarang makin dibuktikan oleh pengalaman-pengalaman selama lebih dari 40
tahun bahwa hanya gerakan rakyat besar-besaran yang luas, yang dijiwai
ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno lah yang bisa diharapkan untuk
mengadakan  perubahan-perubahan besar di negeri kita.



Paris, 14 November 2009


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke