Refleksi : Aids di Papua mungkin lebih hebat lagi. Silahkan lihat : http://english.aljazeera.net/programmes/101east/2008/11/200811314399310873.html
http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/kasus-aids-meningkat-tajam/ Jumat, 13 November 2009 14:01 Kasus AIDS Meningkat Tajam Jakarta - Kasus AIDS di Indonesia kian mengerikan, seiring dengan jumlahnya yang meningkat tajam setiap tahun. Hingga periode September 2009, jumlah kasus AIDS yang dilaporkan mencapai 18.442 kasus. Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) menunjukkan, tahun 1987 jumlah penderita AIDS masih lima kasus, dan hanya dalam rentang 10 tahun, bertambah menjadi 44 kasus. Tetapi sejak 2007, kasus AIDS tiba-tiba melonjak menjadi 2.947 dan periode Juni 2009, meningkat hingga delapan kali lipat menjadi 17.699 kasus. "Kasus HIV-AIDS di Indonesia ibarat gunung es. Yang terlihat itu hanya 10% dari jumlah kasus yang sebenarnya," kata Sekretaris KPA Nasional Nafsiah Mboi, di Jakarta, Kamis (12/11). KPA memprediksi, jumlah kasus HIV/AIDS sebenarnya mencapai 298.000 kasus. Padahal, jumlah yang dilaporkan untuk penderita AIDS hanya 18.442 dan kasus HIV+ sebanyak 28.260 kasus. Sehingga, total penderita HIV/AIDS mencapai 46.702 kasus. Kematian akibat AIDS hingga Maret 2009 mencapai 3.492 orang. Diestimasikan, tahun 2014 akan terdapat 501.400 kasus HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS ini sudah terdapat di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Penderita ditemukan terbanyak pada usia 15-29 tahun. Padahal, pengurangan kasus HIV/AIDS merupakan salah satu target Millennium Development Goals (MDG's). Nafsiah menegaskan, kencangnya peningkatan kasus HIV/AIDS sebagian besar diakibatkan penularan lewat hubungan seksual, selain juga melalui suntikan, transfusi dan sebagian kecil tertular karena kehamilan dan melalui pajanan saat bekerja. Pajanan adalah peristiwa yang menimbulkan risiko penularan. Pajanan ini ada tiga macam, yaitu pajanan di tempat kerja, yang biasanya menimpa petugas perawatan kesehatan. Peristiwa ini biasanya kecelakaan akibat tertusuk jarum suntik bekas pakai secara tidak sengaja pada petugas. Pajanan juga dapat terjadi dengan pisau bedah, atau jika darah atau cairan lain pasien terkena luka terbuka, atau mulut, hidung atau mata petugas atau orang lain. Kedua, pajanan akibat hubungan seks berisiko, misalnya bila kondom pecah atau lepas saat seorang Odha berhubungan seks dengan pasangan HIV-negatif. Terakhir, pajanan akibat perkosaan, di mana pemerkosa hampir pasti tidak memakai kondom. Tambahannya, jika hubungan seks terjadi secara paksa, yang sering disertai kekerasan, risikonya lebih tinggi. Karena itu, Nafsiah menekankan, penularan melalui hubungan seksual berisiko, harus dicegah. Seks berisiko bisa menyebabkan kehamilan yang tidak direncanakan dan memicu penularan HIV/AIDS. "Penggunaan kondom harus dilakukan untuk mencegah seks berisiko. Ini untuk melindungi diri sendiri, pasangan dan anak," tegas Nafsiah. Namun, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Sugiri Syarief memaparkan, penggunaan kondom di Indonesia sangat rendah, hanya 1,3% dari total akseptor Keluarga Berencana (KB). Hal itu disebabkan banyaknya tentangan dari masyarakat. Sebagian masyarakat menolak kampanye kondom untuk pencegahan HIV, dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan reproduksi sangat rendah. Belum lagi mitos dan stigma yang salah tentang kondom. "Hasil survei mengenai pengetahuan akseptor KB tentang kondom sangat tinggi, mencapai 76%, namun praktiknya sangat kecil," kata Sugiri. Nafsiah dan Sugiri menegaskan, harus ada tindakan nyata mencegah penularan HIV/AIDS. Kampanye penggunaan kondom secara terus-menerus harus dilakukan. KPA Nasional, BKKN dan DKT Indonesia juga akan menggelar Pekan Kondom Nasional pada 1-9 Desember 2009. KPA sering membagikan kondom gratis, namun disalahpahami oleh masyarakat. "Seolah-olah kita dituduh menyebarkan perzinahan dan seks bebas. Akibatnya, kita sering didemo," tutur Nafsiah. Thailand berhasil menurunkan kasus AIDS secara drastis, menyusul promosi kondom yang sangat gencar. Kasus HIV/AIDS berhasil ditekan dari 142.819 kasus, menjadi 23.676 kasus tahun 2003. Keberhasilan ini mendapat pujian internasional dan menjadi pembelajaran bagi negara lain. (naomi siagian) [Non-text portions of this message have been removed]

