Hendardi: Pemanggilan Polisi Bentuk Intimidasi Polri terhadap Media
Inggried Dwi W Ketua BP SETARA Institute, Hendardi Kamis, 19 November 2009 | 21:53 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Pemanggilan redaksi Harian Kompas oleh Mabes Polri terkait pemberitaan rekaman percakapan Anggodo Widjojo yang diputar dalam sidang Mahkamah Konstitusi adalah bentuk intimidasi Polri terhadap media. Demikian dikatakan Ketua BP Setara Institute, Kamis (19/11) malam. Menurut Hendardi, pemanggilan polisi itu sama sekali tidak berdasar. "Semua saluran untuk mempersoalkan keberatan atas sebuah pemberitaan sudah tersedia. Sebaiknya Polri melakukan konsolidasi internal di tengah ketidakpercayaan publik atas institusi Polri. Jangan malah urus masalah-masalah yang tidak relevan," tandas Hendardi. Ironinya, kata Hendardi, Polri begitu cepat merespon laporan Anggodo untuk delik pencemaran nama baik dengan memanggil Harian Kompas. "Sebaliknya, Polisi amat lambat dan ogah-ogahan mengusut dugaan percobaan penyuapan yang dilakukan oleh Anggodo. Langkah Polri ini menggenapi kekhawatiran dan kecurigaan publik terhadap profesionalitas Polri dalam menangani kasus ini," kata Hendardi. Menurut Hendardi, kepercayaan publik terhadap aparat dan institusi Polri semakin terpuruk ke titik nadir karena kesan publik saat ini terhadap Polri adalah kepalsuan, kepanikan, dan salah langkah melulu. http://www.analisad aily.com/ index.php? option=com_ content&view= article&id= 35437:kapolri- di-antara- kami-tidak- ada-yang- akan-mundur- &catid=3: nasional& Itemid=128 Kapolri: Di Antara Kami Tidak Ada yang Akan Mundur Jakarta, (Analisa) Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD) kembali menegaskan dirinya dan para pejabat Polri lainnya tak akan mundur dari jabatannya. Hal ini menyusul desakan mundur yang semakin santer digaungkan oleh banyak pihak, termasuk juga Tim 8. "Tidak ada yang akan mengundurkan diri di antara kami," ujar Kapolri dalam rapat kerja Komisi III DPR dengan Polri, Kejagung, KPK di Gedung DPR RI Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (19/11). Terkait berbagai macam isu yang menghantam Polri akhir-akhir ini, BHD menegaskan Polri akan tetap solid. Dia bahkan menyatakan tidak ada prinsip di Polri untuk mundur. "Tidak ada yang akan mundur kecuali masa pensiun, kecuali diundurkan oleh Yang Maha Kuasa. Prinsipnya untuk mundur tidak ada, prinsipnya kesatuan Polri solid," tegas BHD. Pada kesempatan itu, Kapolri juga ditanya salah satu anggota Komisi III DPR bahwa Polri adalah lembaga superbody. Hal ini menyusul kondisi terakhir yang merupakan dampak dari kasus kriminalisasi KPK di mana kekuatan Polri nampak seperti tak terbatas. Atas pertanyaan itu, BHD dengan tegas membantahnya. "Kami tidak sama sekali lembaga superbody, kami menyadari kami adalah pelayan, pengayom dan penegak hukum," tegas dia. BHD menjelaskan bahwa Polri sebagai lembaga penegak hukum di Indonesia akan senantiasa melakukan tugas sesuai prosedur yang ada. "Kalau ada fitnah oknum kami di lapangan dan melakukan tindakan tidak percaya, pastinya akan kami tindak dengan hukum. Tidak benar bahwa kami lembaga superbody," tutur BHD. Mabes Polri Bungkam Sementara itu rencana pemanggilan dua media cetak, Kompas dan Seputar Indonesia oleh Mabes Polri terkait pemberitaan mereka tentang transkrip penyadapan di Mahkamah Kontitusi (MK). Pejabat Polri yang kebetulan sedang rapat di ruang Komisi III pun langsung diserbu wartawan. Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Dik Dik Mulyana menjadi buruan media. Ia berondong latar belakang dipanggilnya dua media tersebut. "Kenapa polisi panggil media? Apa alasannya?" tanya wartawan usai rapat kerja antara Komisi III dengan Polri, Kejagung, dan KPK di Gedung DPR Senayan, Jakarta, Kamis (19/11) malam. Bukannya menjawab, Dik Dik justru seperti menghindar. Ia sengaja tidak langsung keluar ruangan dan lebih memilih bertahan beberapa saat di dalam ruang rapat. Di luar ruang sidang pun hingga parkiran mobil, wartawan masih terus bertanya ke Dik dik. Namun akhirnya Dik dik menyerah. "Saya masih koordinasi dengan penyidik, saya belum bisa terangkan apa-apa," jawab Dik dik singkat sambil masuk ke dalam mobil. Jawaban serupa juga diberikan oleh Kapolri. "Saya belum tahu, nanti saya koordinasi dengan Kabareskrim, " kata BHD. (dtc) [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

