Refleksi : Apakah di NKRI tidak ada peminat membuat film dokumenter tentang 
masalah-masalah seperti ini, karena kawatir digebuk aparat negara ?

http://www.gatra.com/artikel.php?id=132087


Film Lumpur Lapindo Dirilis   



Scottsdale, 16 November 2009 08:08
Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, tidak lama lagi dapat menyaksikan sebuah 
film dokumenter tentang tragedi bencana lumpur Lapindo yang diberi judul Mud 
Max.

Film yang diproduksi oleh Immodicus SA dan Arizona State University School of 
Earth and Space Exploration itu diluncurkan, Jum`at (13/11) malam, di 
Scottsdale, Arizona.

Peluncuran yang berlangsung di Hotel Mondrian itu dilanjutkan dengan diskusi 
panel oleh beberapa ahli geologi tentang fenomena lumpur panas yang mulai 
menyembur di lahan eksplorasi minyak dan gas PT Lapindo Brantas di Porong, 
Sidoarjo, Jawa Timur, pada 29 Mei 2006 itu.

Mud Max mengungkap berbagai fakta menyangkut kasus tersebut dari segi 
keilmuwan, ekonomi, kemanusiaan, dan politik.

Dalam Mud Max, dimunculkan pendapat bertentangan dari sejumlah ahli tentang 
penyebab munculnya lumpur, apakah kejadian alam atau kesalahan manusia.

Dalam diskusi panel, Juru Bicara Immodicus SA, Avian Tumengkol, mengatakan film 
Mud Max tidak diarahkan untuk menentukan apakah semburan lumpur itu merupakan 
bencana alam atau akibat dari kesalahan manusia. "Film ini untuk memberi 
pemahaman, temuan-temuan dan pandangan-pandangan dari kedua pihak. Tujuan film 
ini adalah untuk memberi kesempatan kepada publik menentukan pemikiran dan 
pemahaman mereka sendiri untuk menyimpulkan mana yang benar," paparnya.

Menurut produser eksekutif Mud Max, Chris Fong, beberapa stasiun televisi asing 
telah menyatakan tertarik untuk memutar film berdurasi 47 menit itu. "Metro TV 
di Indonesia juga menyatakan minatnya untuk menayangkan film ini," katanya.

Kontroversi adalah faktor utama yang membuat Chris Fong tertarik memproduksi 
film soal kasus lumpur Lapindo. "Audience akan tertarik dengan kontroversi. 
Saya lihat isu ini ternyata lebih rumit dan unsur politisnya demikian kuat," 
ujar Chris Fong.

Permasalahan yang demikian rumit sempat membuat ia sendiri kehilangan 
kesabaran. "Saya benar-benar hampir menyerah karena sulit sekali mendapatkan 
jawaban-jawaban," cetusnya.

Namun film tersebut akhirnya dapat diselesaikan setelah melewati berbagai riset 
selama satu tahun dan wawancara dengan berbagai sumber.

Komentar dan keterangan dirangkum dari berbagai pihak, termasuk dari para 
korban dampak luapan lumpur, pemerintah daerah, pihak PT Lapindo Brantas, 
Walhi, dan BP Migas.

Di bagian akhir tayangan, Mud Max menaruh catatan tentang keputusan Mahkamah 
Agung pada Mei 2009 bahwa PT Lapindo Brantas dibebaskan dari tuduhan dan 
pemerintah akan mengambil alih tanggung jawab penanggulangan banjir lumpur di 
Sidoarjo dari Lapindo Brantas.

Bagian itu juga mengungkapkan kecenderungan bahwa kontroversi soal Lumpur 
Lapindo akan terus berlanjut, demikian pula perbedaan pendapat di kalangan 
pakar tentang penyebab luapan lumpur di Sidoarjo.

Mud Max melaporkan bahwa simposium tentang lumpur Lapindo yang diadakan London 
Geological Society dan American Association of Petroleum Geologists Oktober 
2008, misalnya, tidak dapat membuktikan pembenaran ilmiah tentang penyebab 
menyemburnya lumpur.

Sebelumnya menurut catatan media, simposium yang diadakan di Cape Town, Afrika 
Selatan, itu diakhiri dengan pemungutan suara karena pendapat-pendapat yang 
disampaikan para ahli tentang penyebab lumpur Lapindo sangat bertentangan.

Pemungutan suara yang diikuti oleh 74 ahli perminyakan dunia menunjukkan bahwa 
42 ilmuwan mendukung teori bahwa pengeboran ladang Banjar Panji 1 di Sidoarjo 
yang dilakukan oleh Lapindo Brantas merupakan penyebab menyemburnya lumpur.

Tiga ilmuwan setuju dengan pendapat bahwa semburan lumpur pada 29 Mei 2006 itu 
disebabkan gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dua hari sebelumnya.

Enam belas ilmuwan menganggap bukti-bukti yang disampaikan para pakar pembicara 
tidak meyakinkan; dan 13 ilmuwan lainnya mendukung pendapat bahwa luapan lumpur 
merupakan kombinasi dampak dari terjadinya gempa bumi serta pengeboran di 
ladang eksplorasi.

Menurut Chris Fong, Mud Max dengan naskah versi Bahasa Indonesia akan dirilis 
di Indonesia pada Januari 2010. [EL, Ant] 








[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke