http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b78488f85a5c6a2c19698a4777b06019&jenis=c4ca4238a0b923820dcc509a6f75849b





Balad, Parisnya Arab 
Rabu, 2 Desember 2009 | 13:13 WIB 
Oleh: Jauhari Effendy
Dari Jeddah


SENIN (30/11) sore waktu Jeddah, dai sejuta umat KH Zainudin MZ tampak 
senyum-senyum melihat jamaah haji  Indonesia, khususnya ibu-ibu, tengah  
menawar berbagai souvenir di toko Ali Murah, di Pasar Balad, Jeddah. Mengenakan 
baju batik dan berkaca mata hitam, para hajjah itu tengah gigih menawar 
berbagai barang mulai sajadah, minyak wangi, tasbih, celak mata, kerudung, dan 
sebagainya. Persis seperti transaksi di Pasar Tanah Abang Jakarta. 

''Wah  Ali murah sekarang sudah ganti nama menjadi Ali Mahal, padahal saya 
sering ke sini. Tapi tetap juga gak mendapat diskon. Kalaupun ada, paling hanya 
turun sedikit," kata Fatimah, 45 tahun, jamaah haji asal Jakarta ini. 

Fatimah memberi contoh jilbab yang tahun lalu hanya 5 riyal (Rp 12.500 dengan 
kurs Rp 2.500) kini naik dua kali lipat menjadi 10 riyal (Rp 25.000). Selembar 
sajadah Turki yang tahun lalu 20 riyal (Rp 50.000) kini menjadi  30 riyal (Rp 
75.000) bahkan 50 riyal (Rp 125.000) untuk kualitas nomor satu.  

Sementara  harga minyak wangi berbagai merek naik antara 25-50 riyal. Calvin 
Klein kemasan 125 gram, misalnya, tahun lalu hanya 70-80 riyal (Rp 175.000-Rp 
200.000) ini menjadi 100-125 riyal (Rp 250.000-Rp 312.500). 

Namun tetap saja Toko Ali Murah ini menjadi singgahan utama jamaah haji yang 
berbelanja di Pasar Balad. Ali yang sebenarnya asli Bangladesh pun hanya 
senyum-senyum sambil kadang-kadang memberikan potongan harga. Sementara anak 
buahnya terus melayani jamaah haji. Beberapa orang juga dikerahkan pemilik toko 
 ini di luar toko untuk menggiring masuk ke toko Ali Murah. ''Ayo Bu silakan 
masuk, barang dijamin murah,'' katanya.

Jamaah haji Indonesia memang dikenal hobi berbelanja usai menunaikan ibadah 
haji. Begitu juga pada musim haji kali ini, sambil menunggu fase pemulangan ke 
Indonesia dengan pesawat Garuda maupun Saudi Airlines yang dimulai Rabu (2/12) 
besok, belanja menjadi pilihan favorit di samping umroh maupun mengunjungi 
tempat-tempat bersejarah. 

Jeddah adalah salah satu kota penting di Arab Saudi.  Bermula dari sebuah kota 
nelayan bernama Quda'a, Jeddah berkembang menjadi kota dagang di kawasan 
jazirah Arab masa lampau. Kini, Jeddah telah bertransformasi menjadi kota 
modern dan merupakan pintu gerbang ke Makkah Al Mukarraomah. Bandara King Abdul 
Azis dan Islamic Port Jeddah merupakan dua embarkasi utama di musim haji, 
selain Bandara Amir Muhammd bin Abdul Aziz di Madinah. 

Sisa-sisa kota tua Jeddah saat ini bisa dilihat di kawasan Balad. Balad berarti 
kota. Awalnya, sekitar 2.500 tahun lalu, Balad hanyalah sebuah desa nelayan. 
Karena tempatnya strategis, Balad kemudian berkembang sebagai tempat singgah 
lalu lintas perdagangan antara Yaman dan Eropa. 

Dulu, menurut cerita, Balad merupakan kota seribu satu malam. Karena di tempat 
itu berkumpul para saudagar Arab, sehingga menjadikan Balad sebagai jantung 
Kota Jeddah. Sekarang walaupun bukan lagi menjadi pusat kegiatan satu-satunya 
kehidupan masyarakat, Balad tetap menjadi ruh kota Jeddah. Sebab, sejak dulu 
hingga sekarang masih menjadi sentra aktivitas bisnis dan perdagangan. Karena 
itu Balad juga sering dijuluki sebagai Parisnya Arab (Paris in Arab). 

Balad menjadi surga berbelanja bagi masyarakat, baik masyarakat Jeddah maupun 
masyarakat luar, termasuk jamaah haji Indonesia. Karena di sini terdapat 
berbagai barang kebutuhan mulai skala eceran hingga grosir, dari barang antik 
hingga produk modern, produk lokal, produk ekspor, dan produk impor. Bahkan 
juga banyak tempat-tempat penukaran uang (money changer) dan mereka menerima 
penukaran uang rupiah.  

Pusat Grosir

Sebenarnya banyak toko yang jauh lebih murah dibanding Toko Ali Murah. Misalnya 
toko-toko di Bab Alawi atau Bab Syarif. Bab Syarif awalnya adalah salah satu 
pintu Jeddah lama. Dulu waktu para penguasa Jeddah terpaksa membuat 
benteng-benteng untuk mencegah serbuan musuh, dibuatlah beberapa pintu gerbang. 
Gerbang-gerbang itu kemudian dikenal dengan Bab Makkah di sebelah timur, Bab 
Syarif di selatan, Bab Al Alawi, dan Bab Al Madinah di utara. Ada juga Bab Al 
Magharibah di sebelah barat.

Di kawasan kota tua ini dijumpai blok-blok khusus dagangan atau diistilahkan 
sebagai pasar khusus, seperti pasar garmen dan tekstil, elektronik, 
perlengakapan ibadah, emas dan perak, dan sebagainya. Suatu model yang 
mengingatkan kita terhadap Pasar Tanah Abang, Pasar Pagi, Pasar Glodok, dan 
Mangga Dua di Jakarta.

Pasar emas dan perak serta asesoris dan perhiasan lainnya ada di Souq Al Nada. 
Kalau mau beli barang-barang keperluan ibadah seperti sajadah, surban, 
jubah/gamis, jilbab dan cadar, tasbih, dan sebagainya bisa ke Bab Sharif. Mau 
mencari madu, saoda, rumput fatimah, siwak, celak, pacar kuku dan gincu, 
termasuk hati onta yang sudah dikeringkan ada di Bab Makkah. 

Bila ingin beli garmen dan tekstil tempatnya di Souq Al Jamia. Mau mencari 
parfum, barang elektronik, atau jam tangan obral kiloan atau paket kotak (tiap 
kotak bisa berisi lebih 20 buah jam tangan berbagai merek), tempatnya di Souq 
Alawi. Di sini bahkan dijual parfum secara grosir mulai satu liter hingga 
puluhan liter. Pedagang juga menyediakan botol atau jeriken khusus parfum 
tersebut sesuai ukurannya. 

Dari Souq Alawi kita bisa menyusuri jalan tembus hingga ke Bab Makkah, yang 
disebut jalan Gabel Souq. Di sepanjang lorong jalan ini banyak digelar berbagai 
macam ragam barang dagangan. Bahkan juga ada lukisan dan kaligfari dan gambar 
hiasan berlatar Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan alam padang pasir dengan 
ontanya.

Kawasan Balad sebenarnya merupakan situs kota masa lampau yang sudah maju saat 
itu, Pemerintah Provinsi Jeddah telah menetapkan kawasan Balad sebagai kawasan 
sejarah dan menjadi salah satu objek wisata spesifik. Kalau kita masuk lewat 
Bab Sharif, misalnya, kita langsung menyaksikan pilar-pilar dengan pelataran 
melingkar berlapis mozaik dan pagar-pagar di sisinya. Ini adalah bekas terminal 
dan tiang-tiang pagar itu kemungkinan merupakan tambatan untuk kuda atau onta.

Lalu, kita masuk menyusuri kawasan di sekitarnya hingga ke Bab Alawi, tampak 
gedung-gedung tua yang rata-rata berusia lebih 100 tahun berbaur dengan 
gedung-gedung pusat perbelanjaan moderen. Sedikitnya ada 500 bangunan gdung dan 
rumah tua di kawasan Balad. Bangunan gedung dan rumah-rumah-tua itu tampak 
dengan keunikan arsitektur dan ukiran-ukiran yang menghiasinya adalah 
peninggalan para saudagar Arab masa lampau. .

Rumah-rumah gedung para saudagar Jeddah tersebut umumnya dibangun secara blok, 
sehingga menciptakan lorong yang teduh. Dinding bangunan terbuat dari batu-batu 
coral dan kerang laut, sehingga menghasilkan ornamen-ornamen unik. 
Jendela-jendela dan balkon yang terbuat dari kayu dihiasi dengan ukiran indah, 
juga berfungsi sebagai pengatur sirkulasi udara, sehingga nuansa rumah terasa 
nyaman, aman, dan segar.

Sayang, saat ini sebagian besar bangunan gedung dan rumah tua di kawasan 
perdagangan yang sibuk itu kini banyak sudah rusak dimakan usia. Beberapa di 
antaranya bahkan ada yang miring ke kiri, miring ke kanan, dan hampir roboh. 
Meski beberapa di antaranya masih ditempati, namun tidak banyak gedung yang 
direnovasi.

Sehabis menyusuri kawasan kota tua Balad, kita bisa beristirahat, duduk di 
pelataran bekas terminal Bab Sharif, misalnya. Di tempat ini kita bisa duduk di 
batu-batu di sekitar sambil minum teh susu hangat dan jagung bakar. Di sini 
banyak penjual minuman dan makanan. Kalau mau lebih mewah juga ada restoran 
yang menyediakan kopi tradisional Arab, yang disebut quawa. (bersambung)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke