http://www.infobanknews.com/index.php?mib=mib_news.detail&id=876
BI: Pertumbuhan Kredit Diperkirakan 15% sampai 20%
Tanggal: 03 Desember 2009
Sumber: infobanknews.com
Ke depan kebijakan moneter diarahkan untuk secara konsisten menjaga inflasi
yang rendah dengan tetap memperhatikan upaya percepatan pemulihan ekonomi.
Jakarta--Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akhir 2009 memutuskan
untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%.
Setelah mengevaluasi kinerja perekenomian 2009 dan membahas propek ekonomi ke
depan. Dewan Gubernur memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter melalui
penurunan suku bunga BI Rate sebesar 300 bps telah cukup kondusif bagi proses
pemulihan perekonomian dan intermediasi perbankan. Tingkat BI Rate sebesar
6,50% tersebut juga dipandang masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi
tahun 2010 sebesar 5%±1%.
Demikian disampaian BI dalam siaran pers-nya yang diterima infobanknews.com,
pada 3 Desmeber 2009, di Jakarta.
Menurut Dyah Nastiti M. K. Makhijani, Direktur Direktorat Perencanaan Strategis
dan Humas BI, perekonomian Indonesia selama 2009 menunjukkan daya tahan yang
cukup kuat dalam merespon krisis ekonomi global.
Pelonggaran moneter dan stimulus fiskal untuk mendorong perekonomian domestik,
kata Dyah, telah memperkuat keyakinan konsumen, sehingga konsumsi rumah tangga
masih dapat tumbuh pada tingkat yang cukup tinggi di 2009.
"Bank Indonesia berkeyakinan bahwa daya tahan perekonomian domestik ini seiring
dengan terus pulihnya perekonomian dunia dan menguatnya keyakinan pelaku
ekonomi merupakan landasan yang kuat bagi upaya mendorong momentum pertumbuhan
ekonomi ke depan," ujar Dyah.
Dyah menambahkan, pada 2009, BI memperkirakan perekonomian Indonesia dapat
tumbuh sebesar 4,3%. Perekonomian Indonesia pada 2010, lanjutnya, diperkirakan
akan tumbuh mencapai kisaran 5,0-5,5% dan pada 2011 menjadi 6,0-6,5%.
"Pertumbuhan yang lebih tinggi tersebut sejalan dengan tingkat pemulihan
perekonomian dunia yang lebih baik, semakin kondusifnya pasar keuangan dan
perbankan yang disertai dengan terjaganya kondisi fundamental domestik,"
jelasnya.
Sementara itu, dari sisi harga, perekonomian Indonesia pada 2009 juga ditandai
oleh tekanan inflasi yang rendah. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November
2009 tercatat mengalami deflasi 0,03% (mtm) atau secara tahunan tercatat
sebesar 2,41% (yoy).
Mencermati perkembangan tersebut, inflasi 2009 berpotensi lebih rendah dari
sasaran inflasi BI 4,5±1%. Inflasi pada 2010 dan 2011 diperkirakan dapat
dikendalikan pada kisaran 5%±1%.
Di sektor keuangan, respon perbankan terhadap pelonggaran kebijakan moneter
mengalami perbaikan, meski penurunan pada suku bunga kredit belum seperti yang
diharapkan.
Pertumbuhan kredit masih terbatas pada 2009, namun pada 2010 kredit
diperkirakan tumbuh sebesar 15%-20%, sejalan dengan meningkatnya keyakinan para
pelaku ekonomi terhadap prospek pertumbuhan ekonomi.
Likuiditas perbankan juga secara agregat masih akan mencukupi untuk kegiatan
perbankan dalam pembiayaan perekonomian.
Di sisi mikro, industri perbankan dalam kondisi stabil seperti tercermin dari
masih tingginya tingkat kecukupan modal CAR sebesar 17,6% dan terjaganya NPL
gross dibawah 5%.
"Dewan Gubernur optimis bahwa kondisi perbankan akan dapat terus terjaga dalam
pada 2010," ujar Dyah.
Ke depan, katanya, kebijakan moneter diarahkan untuk secara konsisten menjaga
inflasi yang rendah dengan tetap memperhatikan upaya percepatan pemulihan
ekonomi.
Berbagai upaya akan dilakukan untuk meningkatkan efektifitas transmisi
kebijakan moneter, termasuk melalui peningkatan efisiensi perbankan.
Disamping itu, akan dilakukan upaya untuk mengatasi permasalahan struktural
inflasi, khususnya yang bersumber dari administered prices dan volatile foods,
dengan mengoptimalkan koordinasi bersama pemerintah pusat dan daerah. (*)
[Non-text portions of this message have been removed]