http://www.antaranews.com/berita/1261578895/muhammadiyah-tidak-akan-berbicara-politik-terkait-century

Muhammadiyah Tidak Akan Berbicara Politik Terkait Century
Rabu, 23 Desember 2009 21:34 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam | kali
Lamongan (ANTARA News) - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nasir 
menyatakan, Muhammadiyah tidak akan berbicara urusan politik terkait polemik 
kasus "bailout" (dana talangan) Rp 6,7 triliun Bank Century.

"Saya tidak akan berbicara yang urusan politik. Namun taruhlah nanti kasus Bank 
Century dikemas sedemikian rupa sehingga sanggup menghipnotis rakyat untuk 
percaya bahwa pengucuran dana Rp6,7 triliun itu legal, Allah tidak pernah 
tidur," katanya, Rabu.

Dalam Peringatan Milad Muhammadiyah 1 abad yang diadakan Pimpinan Cabang 
Muhammadiyah Lamongan di GOR setempat, Haedar menjelaskan dalam kasus tersebut 
ada dana Rp6,7 triliun yang raib dengan dilegalisisasi secara luar biasa.

Untuk itu ia berharap Pansus Bank Century bisa segera mengungkap dalang di 
balik kasus tersebut. Pasalnya sudah hampir sebulan bekerja, kinerja pansus hak 
angket Bank Century belum membuahkan hasil.

"Saya berharap Pansus Bank Century tidak main-main, dan bisa menuntaskan kasus 
tersebut, ini juga menyangkut kredibilitas anggota dewan lantaran sebagian 
elemen sudah banyak yang pesimistis dengan kinerja pansus," katanya.

Ia mengemukakan, Indonesia sebenarnya adalah negeri yang sangat makmur. Bahkan 
diakui sebagai negara yang berhasil selamat dari krisis global yang membuat 
banyak negara maju terheran-heran. 

Kendati demikian, kata Haedar, yang juga patut dicermati ada fakta bahwa negara 
ini mulai tertinggal oleh negara yang dulunya berada di bawah Indonesia. Di 
dunia pendidikan, misalnya, Indonesia kini mulai tertinggal oleh Vietnam.

"Semua harus instrospeksi diri. Jangan-jangan karena perbuatan manusia inilah 
yang menyebabkan negeri yang makmur ini selalu dirundung masalah. Padahal Allah 
telah menjanjikan akan memakmurkan negeri yang umatnya beriman dan bertakwa," 
katanya.

Menurutnya setiap elit di negeri ini juga hendaknya tidak main-main dengan 
amanat yang kini diembannya. Karena elit selama ini telah diurus dengan 
sedemikian baik oleh negara.

"Take home pay (gaji) anggota DPR RI kini mencapai Rp75 juta setiap bulannya," 
katanya.

Haedar juga sempat menyinggung tentang ketidakberdayaan umat Islam untuk 
berukuwah, bersatu dengan saudaranya. 

"Salah satu penyakit umat islam itu adalah susah bersatu. Sementara benih 
perpecahan itu bisa tumbuh dari kalangan Islam sendiri," katanya.(*)
COPYRIGHT © 2009


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke