http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009123001260611
Rabu, 30 Desember 2009
UTAMA
Pansus Pojokkan Pembela SBY
JAKARTA (Lampost): Panitia Khusus (Pansus) Angket Bank Century memojokkan
berbagai pihak yang membela Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal proses
bailout bank tersebut senilai Rp6,7 triliun.
"Berdasarkan laporan yang kami terima dari Departemen Keuangan dan Bank
Indonesia, sebelum menyatakan Bank Century gagal, mereka sudah laporkan ke
Presiden. Bahkan, setelah Bank Century dinyatakan gagal, masih ada laporan ke
Presiden," kata anggota Pansus Angket Chandra Tirta Wijaya (FPAN) di Jakarta,
Selasa (29-12).
Menurut Chandra, Komite Stabilisasi Sistem Keuangan (KSSK) dinakhodai
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati setiap saat melaporkan rencana dan
perkembangan penanganan kasus Bank Century kepada Presiden.
Berdasarkan dokumen, sebagaimana dikutip Chandra, pada risalah rapat 13
November 2008 tertulis Sri Mulyani menginformasikan telah menyampaikan
permasalahan Bank Century kepada Presiden.
Pada notula rapat KSSK 13 November 2008 tersebut tertera nama Marsillam
Simanjuntak sebagai Ketua UKP3R (Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan
Reformasi). Dari risalah tersebut juga terlihat Marsillam memberikan informasi
dari Istana mengenai keputusan penerapan blanket guarantee tidak bisa
diputuskan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika itu.
Sri Mulyani juga mengirimkan surat kepada Presiden pada 4 Februari 2009
perihal laporan perkembangan penanganan Bank Century. Laporan lengkap tentang
penanganan Bank Century kemudian dilaporkan Sri Mulyani kepada Presiden pada 29
Agustus 2009.
Sri Mulyani sendiri seusai konferensi pers di Gedung Depkeu pada Minggu
(13-12) menyebutkan ia sudah melaporkan perkembangan penanganan Bank Century
kepada Presiden melalui SMS. "Semua SMS itu ada print out-nya," kata Sri.
Tidak Tegas
Kepemimpinan SBY dalam menangani berbagai konflik yang dinilai
mengedepankan gaya memelas dan tidak tegas dalam mengambil keputusan, dikritik
Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan.
"Padahal bicara soal krisis, bukan hanya SBY yang menghadapi. Karena itu,
hadapi krisis ini jangan dengan tampil memelas. Orang kalau dalam posisi
inferior tampil memelas akan dikasihani. Kalau orang dalam posisi superior
tampil memelas, tidak akan dikasihani," kata Anies.
Anies menyampaikan kritik itu dalam Refleksi Akhir Tahun Rekayasa
Indonesia Baru di Auditorium Nurcholish Madjid Universitas Paramadina, Jakarta,
Selasa (29-12).
Menurut dia, selama dua bulan kepemimpinan periode kedua, Yudhoyono
seolah-olah merasa menjadi satu-satunya presiden yang menghadapi krisis. Untuk
itu, dibutuhkan perubahan gaya kepemimpinan. "Dalam dua bulan terakhir gaya
Presiden yang memelas itu tidak akan menguntungkan dalam menghadapi situasi
krisis."
Yudhoyono, kata Anies, tidak tegas dalam mengambil keputusan. Guncangan
politik terjadi dua bulan terakhir menyebabkan ketidakpastian politik dan
demokrasi sebagai imbas ketidaktegasan sikap itu, kata dia.
Mantan anggota Tim 8 yang memverifikasi kasus Bibit-Chandra itu
mencontohkan sikap Presiden saat menanggapi hasil akhir rekomendasi Tim 8.
"Kasus Bibit-Chandra sebenarnya soal leadership, keberanian. Hadapi saja
kelompok penentang. Tapi, ketika pemimpin posisinya to please everyone, dia
akan kehilangan kewibawaan dari kelompok pendukung dan tidak berani menghadapi
penentang," kata dia.
Hal serupa terjadi untuk kasus Bank Century. Seharusnya, yang terjadi
adalah politik mengikuti hukum (politics follow legal). "Tapi yang terjadi
sebaliknya, legal follows politics. Ini bahaya sekali. Kalau pemimpin menyadari
ada aspek legal dan konsekuensi politik yang dihadapi, akan lebih baik," ujar
Anies.
Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia Burhanuddin Muhtadi juga menilai
gaya komunikasi Yudhoyono dalam menanggapi berbagai isu kurang produktif.
Bahkan, hasilnya kontraproduktif untuk menyanggah isu negatif yang menerpanya.
"SBY sekali lagi memakai gaya komunikasi melankolis untuk menarik simpati
publik. Dia ingin mengatakan bahwa saat ini dirinya sedang dikeroyok dari
delapan penjuru mata angin oleh berbagai pihak," kata Burhanuddin.
Strategi melankolis itu, kata Burhanuddin, bisa menimbulkan sinisme
publik karena tidak menjawab subtansi masalah. Bahkan, cenderung mengalihkan
perhatian.
Dalam berbagai kesempatan, Yudhoyono menyebutkan kian berkembangnya
fitnah keji yang ditujukan kepada dirinya dan keluarga. Yudhoyono terakhir kali
mengemukakan kerisauannya soal fitnah itu saat berpidato pada Natal Bersama
Nasional di Jakarta, Minggu (27-12).
Aktivis Kompak Ray Rangkuti mencatat setidaknya sudah lima kali Yudhoyono
mengemukakan kegusaran soal fitnah itu. "Ini (pada pidato Natal) yang kelima.
Mulai dari isu pendudukan terhadap KPU, isu kaitan bom J.W. Mariott dengan
kekeceweaan hasil pemilu, isu muatan politik dalam gerakan 9 Desember, dan isu
kudeta dalam pertemuan Dharmawangsa," ujar Ray. n MI/R-1
[Non-text portions of this message have been removed]