http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/50000-orang-di-bekasi-rentan-hivaids/

Senin, 04 Januari 2010 14:29 
50.000 Orang di Bekasi Rentan HIV/AIDS 


Bekasi - Diperkirakan sebanyak 50.000 orang di Kota Bekasi rentan atau berisiko 
tinggi tertular HIV/AIDS, disebabkan profesi mereka serta penggunaan narkoba 
suntik.

     
Manajer Program Mitra Sehati, A Hasami Sahroji, di Bekasi, Minggu (3/1), 
menga­takan, pemicu penularan itu di antaranya adalah adanya 2.801 orang wanita 
pekerja seks, 2.280 orang pengguna narkoba suntik yang ­mempunyai pasangan seks 
maupun pasangan dengan pekerja seks."Dari merekalah virus HIV/AIDS bakal 
menyebar dan kini ada 50.000 orang yang rentan terhadap penyakit yang belum 
ditemukan obatnya tersebut," ujarnya.


Petugas Mitra Sehati sendiri telah melakukan pendampingan bagi 937 pengguna 
narkoba suntik, 174 pengguna narkoba yang sudah menderita HIV/AIDS, 218 orang 
yang telah mengikuti VCT serta 184 orang pasangan penderita HIV melalui jarum 
(Injection Drug User/IDU). Hasami menyatakan, untuk wanita dan lelaki yang 
melakukan seks dengan lelaki belum ada program untuk mereka, sementara 
keberadaannya di tengah masyarakat cukup menyebar.


Ia menilai, pemahaman dan keberanian Pemkot Bekasi mengenai keberpihakan 
terhadap penanganan HIV/AIDS masih sangat kurang. Setidaknya, bila dilihat dari 
terbatasnya layanan kesehatan khusus penyakit infeksi menular seksual dan HIV.
"Kami juga menilai porsi anggaran untuk HIV/AIDS masih sangat kurang. Selain 
itu, masih ada stigma dan diskriminasi yang masih berlaku terhadap penderita 
serta kurangnya pemberdayaan terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dari aparat 
Pemkot," katanya.

Tertutup
Hari Bagianto, pengelola program di Komisi Penanggulangan AIDS Kota Bekasi, 
menyatakan, penderita HIV/AIDS baru di kota Bekasi secara pasti diakibatkan 
ketertutupan mereka dalam meme­rik­sakan kesehatan mereka. "Kami meyakini 
setiap bulannya ada beberapa penderita HIV baru akibat tingginya penggunaan 
narkoba suntik dan maraknya tempat prostitusi, namun sedikit sekali orang 
berisiko itu memeriksakan kesehatannya," ujarnya.


Ia menyatakan, penderita HIV baru, banyak yang belum menyadari bahwa mereka 
sudah termasuk ODHA, terkait dengan belum terlihatnya gejala-gejala penyakit 
tersebut serta kondisi fisik mereka masih baik.
Di sisi lain, ada juga pengguna narkoba suntik yang pasrah dan menganggap 
mereka sudah tertular penyakit tersebut, namun tidak berupaya untuk 
memeriksakan diri. Sebagai kota besar ­dengan berbagai problem sosial, 
faktor-faktor penular penyakit HIV/AIDS cukup tinggi dengan tersedianya sarana 
yang memudahkan penularan penyakit ini, yakni lingkungan dan pergaulan.
Ia mengatakan, penderita HIV/AIDS di kota Bekasi terbanyak merupakan penderita 
dengan penggunaan jarum, kemudian melalui penyakit menular seksual, serta dari 
ibu ke anak.


Para penderita HIV/AIDS di daerah ini sampai sekarang masih tetap mendapatkan 
obat-obatan antiretroviral dari rumah sakit secara gratis. "Obat-obatan 
tersebut disediakan dalam jumlah yang mencukupi, meski kadang kala pasokan obat 
datang terlambat hingga membuat khawatir penderitanya," katanya. Dalam upaya 
menekan angka penderita HIV/AIDS, pihaknya telah meminta pengguna narkoba untuk 
berhenti mengkonsumsi, apalagi mereka yang ­menggunakan jarum suntik secara 
bergantian. Meski virus HIV/AIDS langsung mati jika terkena udara, menurut dia 
dengan jarum suntik sering kali sisa darah menempel di dalam lubang jarum yang 
kedap udara, hingga bisa ditularkan apabila digunakan ­bergantian. (ant)

Kembali ke : Cetak

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke