----- Forwarded Message ----
From: Satrio Arismunandar <[email protected]>
To: news Trans TV <[email protected]>; kampus tiga 
<[email protected]>; naratama naratama <[email protected]>; 
warta-lingk <[email protected]>; pantau 
<[email protected]>; Pers Indonesia 
<[email protected]>; HMI Kahmi Pro Network 
<[email protected]>; technomedia <[email protected]>; 
ex menwa UI 2 <[email protected]>; sastra pembebasan 
<[email protected]>
Sent: Tue, January 5, 2010 3:07:31 PM
Subject: #sastra-pembebasan# AJI Jakarta Minta Depkominfo Hapus Anggaran untuk 
Wartawan

  


.
From: AJI JAKARTA <[email protected]. id>
.Date: Tuesday, January 5, 2010, 3:45 PM

  

Pernyataan Sikap/Untuk Disiarkan Segera

AJI Jakarta Minta Depkominfo Hapus Anggaran untuk Wartawan

PEMERINTAH tampaknya masih saja beranggapan jurnalis adalah profesi yang
bisa disuap untuk menghasilkan berita sesuai pesanan. Kesimpulan miring ini
mau tidak mau muncul setelah Departemen Komunikasi dan Informasi secara
terbuka dan tidak malu-malu membagi-bagikan puluhan telepon seluler GSM dan
CDMA, termasuk empat telepon merk Blackberry, pada acara konferensi pers
tutup tahun mereka, 29 Desember 2009 lalu.

Sejumlah anggota AJI Jakarta yang hadir pada acara itu menyaksikan sendiri
bagaimana Depkominfo membagi-bagikan puluhan telepon seluler yang harga
satuannya jauh di atas Rp 50 ribu -nilai yang umumnya masih bisa ditoleransi
untuk barang kenang-kenangan/ gimmicks di acara konferensi pers-- itu. Yang
lebih memprihatinkan, Depkominfo berusaha menutupi upaya suap ini dengan
mengemas pemberian telepon seluler itu sebagai 'door prize'. Tak hanya itu,
staf humas Depkominfo juga membagikan "uang pengganti biaya transportasi"
untuk sekitar 150 jurnalis yang hadir. Uang itu dibagikan dalam amplop
tertutup, sehingga jumlahnya pun tidak dapat diketahui.

Pemberian suap berupa 'door prize' ini bahkan disebutkan dalam undangan
konferensi pers yang disebarkan melalui pesan pendek oleh Gatot S. Dewa
Broto, Kepala Pusat Informasi Humas Depkominfo. "Acara didahului dengan
sejumlah pembagian door prize HP (termasuk Blackberry), " tulis Gatot dalam
pesan pendek undangannya.

Di tengah berbagai sorotan kritis yang dialamatkan pada Depkominfo -antara
lain dalam polemik Rancangan Peraturan Pemerintah soal Penyadapan, dan
pemberlakuan UU Informasi dan Transaksi Elektronika- - patut diduga pembagian
door prize ini adalah bagian dari strategi departemen ini untuk memperbaiki
citranya di mata publik.

Atas acara bagi-bagi door prize ini, AJI Jakarta menyatakan:
1. Menyesalkan masih adanya pandangan di instansi pemerintah -dalam hal
ini Depkominfo-- yang menganggap wajar pemberian suap --dalam bentuk
"amplop" yang disamarkan sebagai "uang transportasi" maupun telepon seluler
yang dikemas sebagai "door prize"-- untuk jurnalis. Perlu diketahui Kode
Etik Wartawan Indonesia pasal 6 jelas-jelas menegaskan "Jurnalis Indonesia
tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap."
2. Menuntut pos anggaran untuk "pembinaan wartawan" yang biasanya
disalahgunakan untuk membagikan amplop kepada jurnalis-- dihapuskan dari
semua instansi pemerintah. Pos anggaran itu lebih baik dipergunakan untuk
membangun situs internet yang lebih informatif atau meningkatkan sistem
diseminasi informasi publik di departemen tersebut. Dengan begitu, anggaran
negara pun dapat lebih dipertanggungjawabk an.

Jakarta, 5 Januari 2010

Wahyu Dhyatmika
Ketua AJI Jakarta

============ ========= ========= ========= =====
AJI Jakarta
Jl. Prof. Dr. Soepomo Komplek Bier No 1A
Menteng Dalam, Jakarta Selatan
Telp. 021 83702660, 71100685
Fax. 021 83702660
Email: [email protected]. id, www.ajijakarta. org
============ ========= ========= ========= =====


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke