http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010010701374216

      Kamis, 7 Januari 2010 
     
      BURAS 
     
     
     
Ekspor Lampung Turun 18,19% 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      "BPS--Badan Pusat Statistik--merilis nilai ekspor Provinsi Lampung 
Januari--November 2009 turun 18,19 persen dari periode sama 2008," ujar Umar. 
"Menurut Muhamad Razif, kepala BPS Lampung, penurunan terjadi pada empat 
kelompok utama komoditas ekspor Lampung! Kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah 
(kontribusi 25,02%), lemak dan minyak hewani/nabati (24,18%), pulp--bubur 
kertas--dan olahannya (6,55%), buah-buahan dan sayuran (6,54%). Total 
kontribusi empat kelompok itu 62,28%."

      "Ekspor nonmigas menurut Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu (5-1) 
secara nasional 2009 turun 12%. Maka, penurunan ekspor Lampung itu 6% lebih 
buruk!" sambut Amir. "Itu bisa terjadi selain dampak krisis keuangan global 
dengan menurunnya impor negara-negara maju terutama AS, Jepang dan Uni Eropa, 
khusus Lampung juga terkena akibat kasus Tripanca, terkait 150 ribu ton kopi, 
kakao, dan rempah yang jadi masalah!"

      "Dampak krisis global pada semester awal 2009 itu tampak pada penurunan 
ekspor Lampung ke Jepang dan AS yang sebelumnya selalu di posisi teratas, 
digeser ekspor ke China!" tegas Umar. "Pergeseran signifikan tujuan ekspor ke 
China sebagai kompensasi masa krisis global itu cukup penting bagi 
diversifikasi tujuan ekspor Lampung! Saat ekonomi dunia kembali normal dan 
ekspor ke negara maju pulih, hasil diversifikasi menopang laju pertumbuhan 
komoditas ekspor Lampung--terutama kakao, minyak nabati (sawit), serta ikan dan 
udang yang kian pesat tumbuhnya!"

      "Pertumbuhan produksi komoditas ekspor yang tampak di lapangan, 
dihadapkan dengan realitas penurunan nilai ekspornya--meski kuat alasan 
penyebabnya (krisis global)--tetap menuntut jalan keluar untuk menciptakan 
keseimbangan kembali antara produktivitas dan pemasarannya!" timpal Amir. 
"Sebab, dalam pelajaran ekonomi elementer pun diketahui, saat penawaran lebih 
besar dari permintaan berakibat menurunnya nilai (harga) komoditasnya! Untuk 
sementara mungkin ketika kelebihan penawaran masih bisa diserap pasar domestik, 
penurunan harganya tidak signifikan! Namun, jika peningkatan penawaran 
berlanjut sedang permintaan tetap, risiko penurunan harga tak terelakkan! Maka 
itu, jalan keluar itu sudah harus siap sebelum risiko itu jadi kenyataan!"

      "Jalan keluar seperti apa?" potong Umar.

      "Untuk komoditas rakyat seperti kopi dan kakao, sebelum ekspor pulih 
sedang produk melimpah, mungkin pemkab setempat bekerja sama dengan asosiasi 
eksportir menampung sementara panen rakyat untuk menyangga harga!" jawab Amir. 
"Sedang pada minyak nabati (sawit), pemda dan perbankan mendorong para produsen 
untuk membangun pabrik biodiesel, substitusi solar, yang kebutuhannya relatif 
tak terbatas! Dengan itu, lemahnya permintaan pasar ekspor tak berpengaruh 
signifikan pada produsen!" n
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke