http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010011907595225

      Selasa, 19 Januari 2010 
     
      OPINI 
     
     
     

'Hot Money' Pilkada

      Ridwan Saifuddin

      Mengajar di STAIN Metro



      "Dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan 
manusia, jauh dari neraka." (H.R. Bukhari-Muslim)

      Hot money dalam dunia keuangan adalah modal jangka pendek yang patut 
"diwaspadai". Diwaspadai bukan dalam arti ditakuti atau ditolak, melainkan 
harus dikelola dengan cermat dan tepat. Salah mengelolanya bisa menjadi 
malapetaka bagi nasib satu usaha atau perekonomian satu bangsa. Karena sifatnya 
jangka pendek, maka tidak layak digunakan untuk usaha jangka panjang.

      Semakin dekat pelaksanaan pilkada, aroma "main uang" oleh para calon 
kandidat semakin terasa. Bentuknya macam-macam, ada dalam bentuk angpau, 
sembako, wisata gratis, sampai fasilitas kendaraan bermotor. Bukan kali ini 
saja, saat mau pilkada. Pada pemilu legislatif pun cara itu dipakai juga. Ada 
yang berhasil, ada juga yang gagal. Ada yang sudah menggelontorkan dana tak 
sedikit, tapi nyangkut di tangan para makelar politik, tak sampai kepada 
konstituen, sehingga suara yang diharapkan pun tak didapat.

      Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi kecenderungan "main uang" dalam 
berebut kekuasaan tersebut?

      Uang beredar setiap kali pemilu dipastikan meningkat. Pemilu adalah 
saatnya uang keluar dari "rumahnya." Alhasil, sektor ketenagakerjaan juga 
biasanya membaik menjelang dan saat pemilu. Lapangan kerja sektor informal 
bertambah. Usaha percetakan, sablon, konveksi, transportasi, sampai makanan 
skala rumah tangga tambah bergairah.

      Mau bukti? Selama 2009, saat berlangsung pemilu legislatif dan pilpres, 
dengan laju pertumbuhan ekonomi yang "cuma" 4,5 persen atau turun dibanding 
2008 yang mencapai 6,1 persen, ternyata angka pengangguran juga turun cukup 
signifikan, dari 8,4 persen (per Agustus 2008) menjadi 7,9 persen pada Agustus 
2009.

      Artinya, tahun 2009 sektor ketenagakerjaan membaik di tengah menurunnya 
pertumbuhan ekonomi. Khususnya pada sektor informal, di mana semakin banyak 
pekerjaan buat para buruh tidak tetap, pekerja bebas, maupun pekerja keluarga. 
Meski, berapa besar itu disumbang oleh event pemilu, masih perlu pendalaman 
lebih lanjut melalui penelitian.

      Lazim memang, pemilu dan pilkada serasa pesta rakyat yang bertabur hadiah 
dan rupiah. Aktivitas politik (dan tentu ekonomi) rakyat meningkat. Tak heran, 
pesta nan meriah itu acap mengaburkan makna di balik suara yang kita berikan 
pada hari pemilihan. Begitu mudah kita memberikan suara hanya karena sedikit 
rupiah, sejumput hadiah, atau sekadar senyum ramah.

      Kita tak sempat berpikir, bahwa sedikit yang kita dapat itu, adalah harga 
tunai untuk sebuah kekuasaan lima tahun kemudian. Sudah pemilu, semua menjadi 
milik mereka yang berkuasa. Kekuasaan yang dikomersilkan. Kekuasaan yang hilang 
makna amanahnya. Dan kekuasaan minus amanah hanya akan melahirkan 
kesewenang-wenangan.

      Seperti "uang panas", politik uang (atau uang politik) tidak perlu 
ditakuti. Melainkan harus disikapi secara jernih dan cerdas. Calon kandidat, 
siapa pun ia, punya kesempatan yang sama untuk menarik simpati rakyat dengan 
cara yang ia bisa. Pada saat yang sama, rakyat juga perlu tahu dan mengenal 
para kandidat itu. Adalah manusiawi, jika dalam proses mencari simpati dan 
mengenal calon pemimpin itu, ada semangat memberi dan menerima. Adalah 
manusiawi pula, kalau orang yang menerima sesuatu pemberian, akan merasa senang 
dan simpati kepada si pemberi.

      Namun, kita perlu berpikir lagi. Uang jangka pendek ini jangan sampai 
membawa konsekuensi buruk untuk jangka panjang. Bahwa pemberian--uang atau apa 
pun--dari para kandidat itu bukan sebagai harga untuk suara kita. Itu terlalu 
murah. Harga suara yang akan kita berikan itu adalah manfaat kepemimpinan yang 
kita harapkan untuk lima tahun mendatang.

      Benar adanya, kalau seorang dermawan itu akan disenangi dan dekat dengan 
rakyat. Namun, tidak semua dermawan punya kapasitas untuk memimpin rakyat. 
Seorang pemimpin memang sepatutnya punya sifat dermawan, tetapi itu bukan 
satu-satunya yang dibutuhkan dari seorang pemimpin.

      Seorang pemimpin tentu perlu punya kapasitas dan kecakapan memimpin yang 
memadai, yang tidak bisa diukur dari besarnya pemberian materi. Seorang 
pemimpin juga perlu punya jiwa pengabdi dan sifat jujur dalam mengemban amanah 
rakyat, yang tidak bisa dinilai dari pemberian sesaat.

      Poinnya adalah, keputusan kita menentukan pilihan pada hari pemilihan, 
hendaknya dengan pertimbangan yang matang. Menerima pemberian orang bukan 
sesuatu yang dilarang, malainkan memercayakan suara kita pada orang yang 
diragukan kapasitas dan sifat kepemimpinannya hanya lantaran uang, adalah satu 
kekeliruan yang akan merugikan kita semua.

      Jadi, uang atau materi yang diberikan para calon kandidat kepada rakyat 
itu sekadar ongkos silaturahmi mereka kepada kita. Kalau ikhlas, pasti mereka 
dapat pahala. Dan kalau seorang itu memberi hanya karena ingin dipuji dan 
dipilih nanti, percayalah, dia bukan dermawan sejati. Apalagi kalau sehari-hari 
perilakunya tidak mencerminkan seorang yang dekat dengan Tuhan. Jangan-jangan 
"musang berbulu ayam".

      Maka, perihal keputusan siapa pilihan kita, boleh dipikirkan lagi, 
dengarkan hati nurani, jangan tertipu untuk kesekian kali. Ayo, selamatkan 
pilkada!
     








[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke