http://www.detiknews.com/read/2010/01/20/164029/1282660/10/6-kiat-menghalau-pembobolan-rekening-bank

Rabu, 20/01/2010 16:40 WIB

6 Kiat Menghalau Pembobolan Rekening Bank

Ardhi Suryadhi - detikNews

Jakarta - Teknologi yang digunakan para penjahat cyber semakin lama juga 
semakin canggih. Tak ayal, pihak perbankan pun harus memiliki sistem keamanan 
yang kuat untuk menghadangnya.

Meski demikian, untuk terhindar dari tindak kriminal ini juga diperlukan peran 
aktif nasabah. Simak 6 kiat untuk menghalau aksi pembobolan rekening ini 
menurut M. Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Responses Team 
on Internet Infrastructure (ID-SIRTII):

1. Gunakan hanya kartu chip, kalau bank Anda belum memberikan kartu chip, Anda 
harus minta ganti dan jangan menggunakan untuk transaksi sebelum diganti. 
Aturan Bank Indonesia (BI) yang baru, sejak Januari 2010 kartu yang resmi dan 
boleh digunakan hanya kartu jenis chip.

"Cuma saya belum konfirmasi apakah aturan ini untuk kartu kredit saja atau juga 
untuk kartu atm? Seharusnya semua kartu yang diterbitkan perbankan. kalau di 
luar negeri, mesin ATM sudah tidak mau menerima kartu non-chip," papar Didin, 
panggilannya.

2. Lindungi kode 3 angka (CVV2) di belakang kartu Anda. Kecuali untuk otorisasi 
transaksi online, kode itu tidak akan pernah digunakan untuk transaksi 
konvensional di mesin ATM, atau di counter EDC merchant. Tutup 3 angka di 
belakang kartu itu dengan sticker, cellotape apa saja yang tidak transparan

3. Ubah PIN Anda sesering mungkin. Parameternya sederhana, ketika Anda cukur 
rambut, ganti kaos kaki (karena mulai bau), atau ganti sikat gigi (karena sudah 
mulai kusut) atau setiap kali cek angin ban kendaraan, itulah saatnya mengganti 
PIN kartu ATM Anda. Misalnya di pom bensin, biasanya sekarang ada mesin ATM, 
Anda bisa mengganti PIN ketika sedang transaksi pembelian BBM.

"Itu serius, musuh utama masalah keamanan adalah behaviour manusia itu sendiri, 
kebiasaan, kelakuan, sebagian besar pembobolan terjadi akibat dari eksploitasi 
terhadap kelemahan sosial, makanya disebut social engineering," tukasnya.

4. Jangan pernah memberikan informasi pin dan data pribadi yang biasa digunakan 
untuk otorisasi perbankan kepada siapapun dengan alasan apapun termasuk pada 
customer service bank, seperti misalnya nama gadis ibu kandung dan lainnya. 
Kecuali memang yakin bahwa itu prosedur yang harus dilalui. Sebab sekarang 
banyak sekali pihak ketiga (misalnya perusahaan asuransi) dengan alasan kerja 
sama dengan pihak bank penerbit kartu, menawarkan produknya secara 
telemarketing dan Anda diminta memberikan informasi pribadi ini.

"Sialnya apabila ternyata itu bukan dari telemarketing tetapi dari sindikat 
pelaku fraud, Anda tidak pernah tahu dan tidak bisa melakukan kros cek dalam 
situasi ini," lanjut Didin.

5. Berhati-hati apabila menerima tawaran dari telemarketing seperti itu, karena 
biasanya persetujuan yang anda berikan akan diterjemahkan sebagai kesediaan 
untuk melakukan auto ebet terhadap account anda. Ini berbahaya, lebih baik bila 
kurang yakin, Anda meminta waktu untuk melakukan konfirmasi kepada bank 
penerbit apakah benar pihak bank punya kerjasama dengan pihak telemarketing 
tersebut dan bagaimana aturan main serta risikonya.

"Atau sekalian saja Anda selalu menolak tawaran itu atau cukup tahu nama produk 
dan siapa penyelenggaranya selanjutnya sebenarnya Anda sendiri bila tertarik 
bisa insiatif jadi yang balik menghubungi penyelenggara jasa itu dan meminta 
untuk dilayani. Cara ini lebih aman, walau membutuhkan partisipasi aktif Anda," 
kata Didin.

6. Awasi terus keberadaan kartu Anda ketika berada di counter merchant, jangan 
biarkan kartu itu dibawa kemana-mana dan digesek ke mesin yang berbeda 
berkali-kali. Lebih baik Anda membatalkan transaksi dan tidak usah 
menandatangani apapun dan laporkan ke bank penerbit apabila curiga dengan 
kondisi di suatu counter merchant.

Awasi juga kondisi mesin EDC, apakah nampak ada perangkat tambahan atau 
sambungan kabel tambahan yang mencurigakan. Tapi ini perlu pemahaman teknis, 
pengguna awam biasanya tentu akan sulit membedakan.

Kita mesti ingat, begitu kita gesek kartu itu, maka semua informasi penting 
akan tercatat oleh mesin EDC dan sebagian bahkan di print out. Seperti nama, 
nomor kartu dan tanggal masa berlaku (kadang kala tanggal mulai menggunakan).

Seseorang tidak perlu punya ingatan super untuk menghapal deretan kode angka 
yang tertera di kartu. Kalau Anda lengah cukup banyak waktu bisa digunakan 
pelaku untuk mencatat informasi itu (thrasing). Bahkan mereka bisa saling kerja 
sama misalnya berdua, satu orang sengaja mengalihkan perhatian Anda dan satunya 
yang membawa kartu mencatat atau bahkan menggesekkan kartu anda ke mesin 
skimming yang tidak terlihat

(ash/asy)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke