Din Syamsuddin Nilai SBY Pemimpin Otoriter 

Kamis, 28 Januari 2010 18:21 WIB      

Penulis : Mirza Andreas



ANTARA/ Wahyu Putro A

JAKARTA-MI: Ketidakpuasaan masyarakat atas pemerintahan SBY-Boediono yang terus 
meluas serta ketidakhadiran pemerintah dalam membimbing dan menyelesaikan 
masalah bangsa menandakan pemerintahan saat ini sebagai sebuah pemerintahan 
otoriter lembut (soft otoritarianism). 

Demikian Ketua Umum Muhammadiyah yang juga Ketua Presidium IRC 2010 Din 
Syamsudin seusai deklarasi pembentukan Inter-Religious Council di Hotel Grand 
Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (28/1). 

"Pemerintahan sekarang adalah pemerintah untuk dirinya sendiri yang merasa 
mendapat legitimasi besar, mabuk kekuasaan, masuk ke dalam ketakaburan, dan 
tidak mau dikritik. Ini berbahaya dan sangat dekat dengan otoritarianisme," 
tegasnya. 

Menurutnya, pemerintahan SBY termasuk ke dalam kategori Soft Otoritarianism 
atau otoritarianisme lembut. 
"Penampakannya lembut, tetapi sesungguhnya dia otoriter karena tidak 
akomodatif." ungkapnya. 

Ia juga menambahkan bahwa di dalam pemerintahan, SBY ada secara de facto, 
tetapi tidak ada secara fungsional sebagai pemerintah yang mengakomodasi dan 
mengayomi seluruh aspirasi masyarakat. SBY juga kerap kali tidak hadir dalam 
membimbing dan menyelesaikan masalah bangsa. 

"Secara kualitatif, pemerintahan SBY-Boediono pada Kabinet Indonesia Bersatu II 
bisa dikatakan tidak lebih baik dari periode pertama, dengan kata lain buruk," 
ujar Din yang terus-menerus memperhalus kalimat ini. 

Begitu pula dari sisi hukum. Pemerintahan sekarang dinilainya tidak mampu 
menegakkan hukum dan keadilan dengan baik. Termasuk kasus Bank Century yang 
banyak dikaitkan dengan pemerintah dan tidak ada penyelesaiannya secara segera. 

Menurutnya, SBY harus bertanggung jawab pada kasus Bank Century. Karena ini 
terjadi pada pemerintahannya dan dilakukan oleh para bawahannya. 

"SBY tidak boleh berdiam diri. Kalau memang yang diindikasikan itu benar, akui 
sajalah. Kalau tidak diakui, terlebih ditutup-tutupi, dikamuflase dan 
dimanipulasi, akan jauh lebih berbahaya bagi kehidupan bangsa ke depan," kata 
Din. 

Ia juga mengatakan apabila SBY meminta kasus Century dibuka selebar-lebarnya, 
seharusnya ia sendiri yang menyatakan akan hadir dan tidak perlu lagi dipanggil 
Pansus. Itulah pemerintah yang bertanggungjawab. 

Soal sikap SBY terhadap aksi-aksi dan kritik masyarakat, Din mengatakan sikap 
seperti itu bukan cerminan pemimpin yang baik. 

"Kalau ada gerakan masyarakat dalam rangka untuk melakukan perbaikan sebaiknya 
dilihat, tidak perlu dicurigai sebagaimana kebiasaan Presiden yang selalu 
curiga ada pihak yang mau menjatuhkannya. Sikap seperi itu bukan tipe 
kepemimpinan yang baik," pungkasnya. (*/OL-7)





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke