Refleksi : Apakah selama ini pemerintah tidak mendeteksi hati Rakyat? Bila 
demikian hal, maka NKRI adalah Negara Khayalan belaka. Khayalan tidak banyak 
perbedaan nuansnya dengan penipuan di siang hari bolong.  

Hutan digundul,  tambang  digali, laut disedot, tetapi entah kemana hasilnya,  
tidak kelihatan bagi perbaikan kehidupan rakyat.  Kenyataan dilukiskan oleh 
dosen Neles Tebay dari Abepura: "pemerintah suka emas Papua, bukan mas Papua". 

http://www.sinarharapan.co.id/cetak-sinar/berita/read/pemerintah-sebaiknya-mendeteksi-hati-rakyat/

Selasa, 02 Pebruari 2010 12:29 
TAJUK RENCANA

Pemerintah Sebaiknya Mendeteksi Hati Rakyat 


Harian ini pada Senin (1/2) kemarin menurunkan berita tentang keprihatinan 
mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah Ahmad Syafii Maarif tentang situasi yang 
berkembang belakangan ini.

     
Sejalan de­ngan itu, dia menyarankan pemerintah harus mendengarkan suara rakyat 
agar situasi tidak memburuk. Pernyataan Ahmad Syafii Maarif masih bisa 
diperdebatkan, sebab dapat diartikan bernada pesimistis. Tambahan lagi, masih 
banyak faktor positif yang dapat menghalangi situasi yang makin memburuk. 


Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, kita menilai peme­rintah memang 
harus memperhatikan berbagai gejala dan fakta secara saksama belakangan ini, 
sekalipun kelihatan remeh. Hal ini perlu dikemukakan, sebab hal-hal remeh kalau 
disatukan akan menjadi suatu gambaran negatif yang besar.


Sebagai misal, biaya pembangunan pagar Istana Rp 22,5 miliar, fasilitas mobil 
Toyota Camry senilai Rp 1,2 miliar per unit untuk para menteri dan setingkat 
menteri, kenaikan gaji pejabat sebesar 20 persen, dan rencana pembelian pesawat 
kepresidenan. Semuanya ini bila disatukan akan menimbulkan citra pemerintah 
lebih mendahulukan kepentingannya.


Pada saat yang bersamaan rakyat melihat, kebijaksanaan peme­rintah belum 
berjalan sebagaimana mestinya. Penyebabnya, perilaku birokrat yang tidak pernah 
berubah dari zaman ke zaman karena sistemnya sudah membelenggu. Mereka sudah 
kepalang berada pada zona kenyamanan hingga enggan repot mengambil terobosan 
dan risiko untuk kepentingan rakyat. 
Salah satu contoh nyata adalah kelemahan dalam menghadapi dampak perjanjian 
perdagangan bebas ASEAN-China (CAFTA). Produk-produk buatan China yang berharga 
murah mulai mendominasi segmen-segmen pasar yang selama ini diisi produk-produk 
buatan dalam negeri, yang menekankan pada harga ketimbang kualitas. 
Kecenderungan ini akan memungkinkan pemutusan hubungan kerja karena industri 
padat karya tidak mampu bersaing.
Kalau terjadi PHK, dampaknya akan meluas, sebab memengaruhi subsektor yang 
secara langsung menopang industri yang bersangkutan, yang juga melayani 
kepentingan buruh. Akhirnya, pertumbuhan ekonomi pada kota atau daerah yang 
bersangkutan akan menurun dan akhirnya tindak kriminal meningkat.


CAFTA bukan dibuat kemarin sore, melainkan telah melalui pro­ses yang lama dan 
panjang. Salah satu pendorongnya adalah ketika negara-negara Eropa membentuk 
Pasar Tunggal yang dikhawatirkan bersifat proteksionis. 


Dalam selama itu, hampir 20 tahun kita tidak berbuat atau bertindak secara 
efektif dan efisien. Pengembangan industri terus-menerus ditekankan pada 
industri yang padat karya guna menyerap tenaga kerja. Padahal, industri semacam 
ini sangat rentan karena mudah di­saingi negara lain yang juga mempunyai buruh 
berupah murah.


Pemerintah memang harus menanggung beban karena rakyat sudah menaruh harapan 
sebagaimana yang diperlihatkan dalam pemilihan presiden yang lalu. Ironisnya, 
pemerintah sulit berbagi beban dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sebab 
dewan kurang memperlihatkan kinerjanya secara baik. Malahan, sejumlah terlibat 
dalam perilaku yang tidak elok.
Atas dasar itu, pemerintah harus bekerja keras, disertai dengan strategi relasi 
publik yang tepat. Yang lebih penting lagi, mereka mau mendengar aspirasi 
rakyat dengan mengurangi hal-hal remeh yang merusak citra mereka sendiri.
Tak ada salahnya membatalkan hal-hal yang remeh itu. Bukankah yang paling 
menyesalkan adalah mereka yang (secara langsung maupun tidak langsung) terlibat 
dalam proyek-proyek tersebut?  


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke