Bahasa Perancis Tak Berguna
Chris Bryant, mantan menteri luar negeri Inggris
Rabu, 16 Juni 2010 | 20:29 WIB
LONDON, KOMPAS.com - Seorang mantan menteri luar
negeri Inggris, Rabu (16/6), membela pendapatnya yang menyatakan
Perancis merupakan bahasa yang "tidak berguna". Menurut mantan menteri
itu, bahasa China dan Arab lebih penting dalam dunia global moderen
ketimbang Perancis.
Harian Telegraph melaporkan, Chris
Bryant, mantan menteri Eropa pada masa perdana menteri Gordon Brown
dari Partai Buruh, membuat komentar itu di parlemen Selasa. Komentarnya
itu langsung memicu protes dari Partai Konservatif yang menilai hal itu
tergolong "menghina" tetangga Inggris tersebut.
"Kecuali kalau
kita memiliki jumlah orang yang memadai yang berbicara bahasa asing
yang modern, dan tidak hanya bahasa asing modern tak berguna seperti
Perancis, Inggris bisa menderita secara internasional," katanya
sebagaimana dikuti harian itu.
Masih membela komentarnya itu, Rabu, ia mengatakan kepada AFP,
"Poin saya adalah bahwa Perancis tidak lagi bahasa diplomasi atau
bisnis dan bahwa kami di Inggirs tergolong buruk dalam mempelajari
bahasa asing yang modern. Itu sebabnya mengapa saya mendorong
pemerintah untuk melakukan pekerjaan dalam mendorong orang untuk
mempelajari bahasa Mandarin, Spanyol dan Arab yang sekarang dituturkan
oleh banyak orang di negara sedang berkembang pesat."
Perancis,
secara tradisional dikenal sebagai bahasa diplomasi, telah lama
menjadi bahasa asing pertama yang diajarkan di sekolah-sekolah Inggris,
diikuti bahasa Jerman dan Spanyol, meski pelajaran bahasa Mandarin
telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Bryant
menambahkan, ia berbicara bahasa Perancis dan Spanyol dan telah
menyuarakan pandangannya tentang topik itu sebelumnya, termasuk di
televisi Perancis.
EGP
Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2010/06/16/20291382/Bahasa.Perancis.Tak.Berguna
[Non-text portions of this message have been removed]