seragam, permainan, dll adalah alat/proses utk membangun karakter. jd walau
permainannya menarik organisasinya bagus, seragamnya beraneka, ttp jk para
pembina & pelatih tidak dapat membangun karakter peserta didik, maka
akhirnya tujuan utama gerakan pramuka tdk akan tercapai.

kl sy amati (semoga pengamatan sy salah) selama mendampingi adik2 sangker
rainas dan kejadian2 selama rainas yg dilakukan oleh TD sepertinya mulai
terjadinya penurunan dlm membangun karakter anggota gerakan pramuka. banyak
hal yg menyebabkan ini terjadi, seperti teknologi, lingkungan, waktu, dll.so
ini hrs menjadi PR BESAR para PEMBINA & PELATIH Gerakan Pramuka, termasuk
PARA PURNA TD, jika tujuan Gerakan Pramuka masih membangun karakter.

sedikit sy menyadur tulisan dr seorang teman sy Andreas Harefa dlm
tulisannya mengenai Membangun Karakter:

Disiplin diri merupakan hal penting dalam setiap upaya membangun dan
membentuk karakter seseorang. Sebab karakter mengandung pengertian:
(1) Suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang, sehingga membuatnya
menarik dan atraktif;
(2) Reputasi seseorang; dan
(3) Seseorang yang unusual atau memiliki kepribadian yang eksentrik.

Akar kata karakter dapat dilacak dari kata Latin kharakter, kharassein, dan
kharax, yang maknanya "tools for marking", "to engrave", dan "pointed
stake". Kata ini mulai banyak digunakan (kembali) dalam bahasa Perancis
caractere pada abad ke-14 dan kemudian masuk dalam bahasa Inggris menjadi
character, sebelum akhirnya menjadi bahasa Indonesia karakter. Dalam Kamus
Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang
lain. Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa membangun karakter
(character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian
rupa, sehingga `berbentuk' unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan
dengan orang lain. Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tak pernah sama
antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter
dapat dibedakan satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum
berkarakter atau `berkarakter' tercela).

Tentang proses pembentukkan karakter ini dapat disebutkan sebuah nama besar
: Helen Keller (1880-1968). Wanita luar biasa ini--ia menjadi buta dan tuli
di usia 19 bulan, namun berkat bantuan keluarganya dan bimbingan Annie
Sullivan (yang juga buta dan setelah melewati serangkaian operasi akhirnya
dapat melihat secara terbatas) kemudian menjadi manusia buta-tuli pertama
yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904-- pernah berkata:
"Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of
trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition
inspired, and success achieved". Kalimat itu boleh jadi merangkum sejarah
hidupnya yang sangat inspirasional. Lewat perjuangan panjang dan ketekunan
yang sulit dicari tandingannya, ia kemudian menjadi salah seorang pahlawan
besar dalam sejarah Amerika yang mendapatkan berbagai penghargaan di tingkat
nasional dan internasional atas prestasi dan pengabdiannya (lihat homepage
www.hki.org). Helen Keller adalah model manusia berkarakter (terpuji). Dan
sejarah hidupnya mendemonstrasikan bagaimana proses membangun karakter itu
memerlukan disiplin tinggi karena tidak pernah mudah dan seketika atau
instant. Diperlukan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral choice
(keputusan moral) dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata sehingga menjadi
praksis, refleksi, dan praktik. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat
semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat
seseorang.

Selanjutnya, tentang nilai atau makna pentingnya karakter bagi kehidupan
manusia dewasa ini dapat dikutip pernyataan seorang Hakim Agung di Amerika,
Antonin Scalia, yang pernah mengatakan: "Bear in mind that brains and
learning, like muscle and physical skills, are articles of commerce. They
are bought and sold. You can hire them by the year or by the hour. The only
thing in the world NOT FOR SALE IS CHARACTER. And if that does not govern
and direct your brains and learning, they will do you and the world more
harm than good".
Scalia menunjukkan dengan tepat bagaimana karakter harus menjadi fondasi
bagi kecerdasan dan pengetahuan (brains and learning). Sebab kecerdasan dan
pengetahuan (termasuk informasi) itu sendiri memang dapat diperjualbelikan.
Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di era knowledge economy abad ke-21
ini knowledge is power.

Masalahnya, bila orang-orang yang dikenal cerdas dan berpengetahuan tidak
menunjukkan karakter (terpuji), maka tak diragukan lagi bahwa dunia akan
menjadi lebih dan semakin buruk. Dengan kata lain ungkapan knowledge is
power akan menjadi lebih sempurna jika ditambahkan menjadi--meminjam sebuah
iklan yang pernah muncul di Harian Kompas-- knowledge is power, but
character is more.

Demikianlah makna penting sebuah karakter dan proses pembentukkannya yang
tidak pernah mudah melahirkan manusia-manusia yang tidak bisa dibeli. Ke
arah yang demikian itulah pendidikan dan pembelajaran - termasuk pengajaran
di institusi formal dan pelatihan di institusi nonformal--seharusnya
bermuara, yakni membangun manusia-manusia berkarakter (terpuji),
manusia-manusia yang memperjuangkan agar dirinya dan orang-orang yang dapat
dipengaruhinya agar menjadi lebih manusiawi, menjadi manusia yang utuh atau
memiliki integritas.[aha]

Sumber: Membangun Karakter oleh Andrias Harefa, seorang trainer dan penulis
30 buku laris.

*Hendry Risjawan*
Ka. Trainers Club Indonesia


On 7/7/08, Dede Mariana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   he2.... gitu aja kok repot.... nach buat sekedar ganti seragam aja harus
> MUNAS... he2....pdahal diem2 masing2 kelompok pramuka punya seragam nya yang
> khas cuma gak mau pada terbuka karena takut dibilang indisipliner... coba
> aja tanya Gudep yang berpangkalan di sekolah2 Pasundan pasti mereka nyimpen
> setangan leher 'warna kuning' tapi bukan berarti bagian dari 'parpol golkar'
> lho memang dari dulu2 Pandu Pasundan pake itu setangan leher.... di Gudep
> saya saja punya setangan leher warna ungu disamping setangan leher merah
> putih... nach inovatif lah saat nya kini terbuka... dan Pramuka jangan
> ngajarin warganya jadi 'penakut' atau 'pengecut' he2...
>
> dmar
>
> --- On Mon, 7/7/08, Joko Mursitho <[EMAIL 
> PROTECTED]<jokomursitho%40yahoo.com>>
> wrote:
>
> > From: Joko Mursitho <[EMAIL PROTECTED] <jokomursitho%40yahoo.com>>
> > Subject: Re: [Pramuka] Seragam Kamabinas?
> > To: [email protected] <pramuka%40yahoogroups.com>
> > Date: Monday, July 7, 2008, 9:33 AM
> > SERAGAM PRAMUKA
> > Itu Bagus, PERBEDAAN PADA TUTUP KEPALA SAJA. walaupun saya
> > yakin, banyak yang tidak setuju.
> >
> > MASALAH PAKAIAN SERAGAM MEMANG BERSEJARAH, TETAPI HARUS
> > DIINGAT BAHWA SETIAP GENERASI BOLEH MEMBUAT SEJARAHNYA
> > SENDIRI, BUKAN HANYA GOLONGAN TUA SAJA YANG BISA DAN BOLEH
> > MEMBUAT SEJARAH.
> >
> > Kelesuan akibat pakaian seragam secara psikologis memang
> > ada.
> >
> > Contoh, dari Siaga ke Penggalang - ke Penegak - ke Pandega
> > bahkan sampai ke Pembina Warna dan setangan lehernya sama.
> > Hasil pengamatan saya Pramuka yang giat di Penggalang sudah
> > tidak mau lagi jadi Penegak, Pramuka yang giat di Penegak
> > sedikit sekali yang mau jadi Pandega, dan anehnya dari
> > sekian jenjang JARANG SEKALI YANG MAU JADI PEMBINA. ADA
> > KEJENUHAN pada PAKAIAN SERAGAM???
> >
> > Di Negera lain ada perbedaan warna seragam dari S, G, T,
> > dan D, sehingga PAKAIAN PUN PERLU ADA TANTANGAN.
> >
> > TAPI SEMUANYA TERSERAH PADA KESEPAKATAN BERSAMA. PERLU
> > DIINGAT BAHWA SELERA PAKAIAN TIDAK MUNGKIN DIPUTUSKAN
> > SECARA DEMOKRATIS, LEBIH-LEBIH MELALUI VOTING. SEMUA ADA
> > SELERANYA.
> >
> > PR BUAT Generasi muda Pramuka.
> >
> >
> >
> > --- On Sat, 7/5/08, Hendri Kusyansyah
> > <[EMAIL PROTECTED] <co_enx%40yahoo.com>> wrote:
> >
> > From: Hendri Kusyansyah <[EMAIL PROTECTED] <co_enx%40yahoo.com>>
> > Subject: Re: [Pramuka] Seragam Kamabinas?
> > To: [email protected] <pramuka%40yahoogroups.com>
> > Date: Saturday, July 5, 2008, 7:42 AM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > (+)
> > keren, selalu membawa perubahan, dulu kayaknya setangan
> > leher..
> > lebih gagah kalo pembina juga pake baret tuh, terlihat
> > semangat muda..
> >
> > (-)
> > kelihatan semua tidak sama ditangan hukum, kalau kamabinas
> > gak papa tidak ngikut aturan yang ada..
> >
> > wacana aja:
> > gimana kalau penutup kepala tiap gudep pake gaya
> > masing-masing sesuai dengan adat gudepnya, adatnya juga
> > disesuaikan dengan pangkalannya. . jadi kalau raimuna
> > bener-bener kayak pertemuan antar suku, karena yang sesuai
> > adat masing-masing cuma penutup kepala ya jadinya
> > bener-bener pertemuan kepala suku..
> > kan keren..
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> > ------------------------------------
> >
> > ---------------------
> > Be Prepared
> > Sekali Pramuka tetap Pramuka
> > ---------------------
> >
> > Pramuka email addresses:
> > Post message: [email protected] <Pramuka%40yahoogroups.com>
> > Subscribe: [EMAIL PROTECTED]<Pramuka-subscribe%40yahoogroups.com>
> > Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]<Pramuka-unsubscribe%40yahoogroups.com>
> >
> > ---------------------Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke