Kakak-Kakak
Penurunan karakter yang disampaikan di bawah memang bagi saya pribadi sangat terasa di rainas ini. Sedih dan kecewa karena karakter utama seorang anggota Pramuka sebagaimana diamanatkan dalam Dasa Dharma dan diucapkan sebagai janji dalam Tri Satya sudah tidak diindahkan. Dalam banyak hal uang sebagai motivator sudah menjadi acuan utama kegiatan. Tidak terdengar lagi kata-kata kerelaan dalam berkorban, ketabahan, kesucian dalam pikiran, patriot yang sopan, sikap hidup hemat, bertanggung jawab dsb. Rainas yang baru ditutup terlihat sudah cenderung dikomersialisasi yang mencari keuntungan, baik pribadi maupun pihak-pihak tertentu. Saya heran apakah memang ini menjadi cerminan pemuda Indonesia sekarang ? apakah ini berarti kegagalan pendidikan Pramuka ? apakah Pramuka masih bisa diharapkan sebagai salah satu waday yang mampu mengembalikan kejayaan Indonesia ? Kita semua mungkin harus menjawab sendiri-sendiri dan jawabanya terpulang kembali kepada kita. Mudah-mudahan perasaan saya salah tentang ini dan berharap Pramuka tetap menjadi salah satu lembaga pengembangan character building yang terdepan Salam Dedi Wibowo From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Hendry Risjawan Sent: 08 Juli 2008 10:28 To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Subject: [!! SPAM] Re: [Pramuka] Seragam Kamabinas? seragam, permainan, dll adalah alat/proses utk membangun karakter. jd walau permainannya menarik organisasinya bagus, seragamnya beraneka, ttp jk para pembina & pelatih tidak dapat membangun karakter peserta didik, maka akhirnya tujuan utama gerakan pramuka tdk akan tercapai. kl sy amati (semoga pengamatan sy salah) selama mendampingi adik2 sangker rainas dan kejadian2 selama rainas yg dilakukan oleh TD sepertinya mulai terjadinya penurunan dlm membangun karakter anggota gerakan pramuka. banyak hal yg menyebabkan ini terjadi, seperti teknologi, lingkungan, waktu, dll.so ini hrs menjadi PR BESAR para PEMBINA & PELATIH Gerakan Pramuka, termasuk PARA PURNA TD, jika tujuan Gerakan Pramuka masih membangun karakter. sedikit sy menyadur tulisan dr seorang teman sy Andreas Harefa dlm tulisannya mengenai Membangun Karakter: Disiplin diri merupakan hal penting dalam setiap upaya membangun dan membentuk karakter seseorang. Sebab karakter mengandung pengertian: (1) Suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang, sehingga membuatnya menarik dan atraktif; (2) Reputasi seseorang; dan (3) Seseorang yang unusual atau memiliki kepribadian yang eksentrik. Akar kata karakter dapat dilacak dari kata Latin kharakter, kharassein, dan kharax, yang maknanya "tools for marking", "to engrave", dan "pointed stake". Kata ini mulai banyak digunakan (kembali) dalam bahasa Perancis caractere pada abad ke-14 dan kemudian masuk dalam bahasa Inggris menjadi character, sebelum akhirnya menjadi bahasa Indonesia karakter. Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain. Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa membangun karakter (character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga `berbentuk' unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain. Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum berkarakter atau `berkarakter' tercela). Tentang proses pembentukkan karakter ini dapat disebutkan sebuah nama besar : Helen Keller (1880-1968). Wanita luar biasa ini--ia menjadi buta dan tuli di usia 19 bulan, namun berkat bantuan keluarganya dan bimbingan Annie Sullivan (yang juga buta dan setelah melewati serangkaian operasi akhirnya dapat melihat secara terbatas) kemudian menjadi manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904-- pernah berkata: "Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved". Kalimat itu boleh jadi merangkum sejarah hidupnya yang sangat inspirasional. Lewat perjuangan panjang dan ketekunan yang sulit dicari tandingannya, ia kemudian menjadi salah seorang pahlawan besar dalam sejarah Amerika yang mendapatkan berbagai penghargaan di tingkat nasional dan internasional atas prestasi dan pengabdiannya (lihat homepage www.hki.org). Helen Keller adalah model manusia berkarakter (terpuji). Dan sejarah hidupnya mendemonstrasikan bagaimana proses membangun karakter itu memerlukan disiplin tinggi karena tidak pernah mudah dan seketika atau instant. Diperlukan refleksi mendalam untuk membuat rentetan moral choice (keputusan moral) dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata sehingga menjadi praksis, refleksi, dan praktik. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Selanjutnya, tentang nilai atau makna pentingnya karakter bagi kehidupan manusia dewasa ini dapat dikutip pernyataan seorang Hakim Agung di Amerika, Antonin Scalia, yang pernah mengatakan: "Bear in mind that brains and learning, like muscle and physical skills, are articles of commerce. They are bought and sold. You can hire them by the year or by the hour. The only thing in the world NOT FOR SALE IS CHARACTER. And if that does not govern and direct your brains and learning, they will do you and the world more harm than good". Scalia menunjukkan dengan tepat bagaimana karakter harus menjadi fondasi bagi kecerdasan dan pengetahuan (brains and learning). Sebab kecerdasan dan pengetahuan (termasuk informasi) itu sendiri memang dapat diperjualbelikan. Dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di era knowledge economy abad ke-21 ini knowledge is power. Masalahnya, bila orang-orang yang dikenal cerdas dan berpengetahuan tidak menunjukkan karakter (terpuji), maka tak diragukan lagi bahwa dunia akan menjadi lebih dan semakin buruk. Dengan kata lain ungkapan knowledge is power akan menjadi lebih sempurna jika ditambahkan menjadi--meminjam sebuah iklan yang pernah muncul di Harian Kompas-- knowledge is power, but character is more. Demikianlah makna penting sebuah karakter dan proses pembentukkannya yang tidak pernah mudah melahirkan manusia-manusia yang tidak bisa dibeli. Ke arah yang demikian itulah pendidikan dan pembelajaran - termasuk pengajaran di institusi formal dan pelatihan di institusi nonformal--seharusnya bermuara, yakni membangun manusia-manusia berkarakter (terpuji), manusia-manusia yang memperjuangkan agar dirinya dan orang-orang yang dapat dipengaruhinya agar menjadi lebih manusiawi, menjadi manusia yang utuh atau memiliki integritas.[aha] Sumber: Membangun Karakter oleh Andrias Harefa, seorang trainer dan penulis 30 buku laris. *Hendry Risjawan* Ka. Trainers Club Indonesia On 7/7/08, Dede Mariana <[EMAIL PROTECTED] <mailto:dedemariana%40yahoo.com> > wrote: > > he2.... gitu aja kok repot.... nach buat sekedar ganti seragam aja harus > MUNAS... he2....pdahal diem2 masing2 kelompok pramuka punya seragam nya yang > khas cuma gak mau pada terbuka karena takut dibilang indisipliner... coba > aja tanya Gudep yang berpangkalan di sekolah2 Pasundan pasti mereka nyimpen > setangan leher 'warna kuning' tapi bukan berarti bagian dari 'parpol golkar' > lho memang dari dulu2 Pandu Pasundan pake itu setangan leher.... di Gudep > saya saja punya setangan leher warna ungu disamping setangan leher merah > putih... nach inovatif lah saat nya kini terbuka... dan Pramuka jangan > ngajarin warganya jadi 'penakut' atau 'pengecut' he2... > > dmar > > --- On Mon, 7/7/08, Joko Mursitho <[EMAIL PROTECTED] <mailto:jokomursitho%40yahoo.com> <jokomursitho%40yahoo.com>> > wrote: > > > From: Joko Mursitho <[EMAIL PROTECTED] <mailto:jokomursitho%40yahoo.com> <jokomursitho%40yahoo.com>> > > Subject: Re: [Pramuka] Seragam Kamabinas? > > To: [email protected] <mailto:pramuka%40yahoogroups.com> <pramuka%40yahoogroups.com> > > Date: Monday, July 7, 2008, 9:33 AM > > SERAGAM PRAMUKA > > Itu Bagus, PERBEDAAN PADA TUTUP KEPALA SAJA. walaupun saya > > yakin, banyak yang tidak setuju. > > > > MASALAH PAKAIAN SERAGAM MEMANG BERSEJARAH, TETAPI HARUS > > DIINGAT BAHWA SETIAP GENERASI BOLEH MEMBUAT SEJARAHNYA > > SENDIRI, BUKAN HANYA GOLONGAN TUA SAJA YANG BISA DAN BOLEH > > MEMBUAT SEJARAH. > > > > Kelesuan akibat pakaian seragam secara psikologis memang > > ada. > > > > Contoh, dari Siaga ke Penggalang - ke Penegak - ke Pandega > > bahkan sampai ke Pembina Warna dan setangan lehernya sama. > > Hasil pengamatan saya Pramuka yang giat di Penggalang sudah > > tidak mau lagi jadi Penegak, Pramuka yang giat di Penegak > > sedikit sekali yang mau jadi Pandega, dan anehnya dari > > sekian jenjang JARANG SEKALI YANG MAU JADI PEMBINA. ADA > > KEJENUHAN pada PAKAIAN SERAGAM??? > > > > Di Negera lain ada perbedaan warna seragam dari S, G, T, > > dan D, sehingga PAKAIAN PUN PERLU ADA TANTANGAN. > > > > TAPI SEMUANYA TERSERAH PADA KESEPAKATAN BERSAMA. PERLU > > DIINGAT BAHWA SELERA PAKAIAN TIDAK MUNGKIN DIPUTUSKAN > > SECARA DEMOKRATIS, LEBIH-LEBIH MELALUI VOTING. SEMUA ADA > > SELERANYA. > > > > PR BUAT Generasi muda Pramuka. > > > > > > > > --- On Sat, 7/5/08, Hendri Kusyansyah > > <[EMAIL PROTECTED] <mailto:co_enx%40yahoo.com> <co_enx%40yahoo.com>> wrote: > > > > From: Hendri Kusyansyah <[EMAIL PROTECTED] <mailto:co_enx%40yahoo.com> <co_enx%40yahoo.com>> > > Subject: Re: [Pramuka] Seragam Kamabinas? > > To: [email protected] <mailto:pramuka%40yahoogroups.com> <pramuka%40yahoogroups.com> > > Date: Saturday, July 5, 2008, 7:42 AM > > > > > > > > > > > > > > (+) > > keren, selalu membawa perubahan, dulu kayaknya setangan > > leher.. > > lebih gagah kalo pembina juga pake baret tuh, terlihat > > semangat muda.. > > > > (-) > > kelihatan semua tidak sama ditangan hukum, kalau kamabinas > > gak papa tidak ngikut aturan yang ada.. > > > > wacana aja: > > gimana kalau penutup kepala tiap gudep pake gaya > > masing-masing sesuai dengan adat gudepnya, adatnya juga > > disesuaikan dengan pangkalannya. . jadi kalau raimuna > > bener-bener kayak pertemuan antar suku, karena yang sesuai > > adat masing-masing cuma penutup kepala ya jadinya > > bener-bener pertemuan kepala suku.. > > kan keren.. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > ------------------------------------ > > > > --------------------- > > Be Prepared > > Sekali Pramuka tetap Pramuka > > --------------------- > > > > Pramuka email addresses: > > Post message: [email protected] <mailto:Pramuka%40yahoogroups.com> <Pramuka%40yahoogroups.com> > > Subscribe: [EMAIL PROTECTED] <mailto:Pramuka-subscribe%40yahoogroups.com> <Pramuka-subscribe%40yahoogroups.com> > > Unsubscribe: [EMAIL PROTECTED] <mailto:Pramuka-unsubscribe%40yahoogroups.com> <Pramuka-unsubscribe%40yahoogroups.com> > > > > ---------------------Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

