wah memprihatinkan ya kak...
mudah-mudahan akan menjadi lebih baik.
--- On Sat, 4/11/09, ikal.pelangi <[email protected]> wrote:
From: ikal.pelangi <[email protected]>
Subject: [Pramuka] Temu Kangen purna DKC Kota Bandung - catatan kritis
To: [email protected]
Date: Saturday, April 11, 2009, 9:22 PM
Tanggal 5 April 2009 yang lalu, telah diselenggarakan pertemuan purna DKC dan
aktivis T dan D Kota Bandung dalam rangka ulangtahun DKC Kota Bandung yang
ke-42. Acara ini sungguh menarik karena juga melibatkan keluarga, khususnya
anak-anak karena disiapkan sejumlah permainan outdoor. Yang jadi puncak adalah
acara dialog yang diselenggarakan di Aula Putih.
Pada kesempatan itu, Kak Rudy mengajak hadirin untuk memikirkan masa depan
Gerakan Pramuka. Ia mempersoalkan keperdulian pimpinan Kwarcab yang
kelihatannya kurang perduli dengan acara ini, padahal 2 orang Waka Kwarcab
adalah purna DKC. Ia mengungkap bahwa Kak Hendro, salah satu Waka yang hari itu
hadir, ternyata baru datang siang harinya, sungguh sangat terlambat. Sementara,
Waka Kwarcab yang lain disebutnya mungkin sudah lupa jalan ke Taman Pramuka.
Saat itu memang saat sulit buat Kak Hendro, karena ia diberondong terus sebagai
pihak yang dianggap mewakili Kwarcab. Memang ada Kak Deddy Widya, yang biasa
dipanggil Abah ini, namun beliau mengelak dengan menyatakan bahwa beliau telah
mengundurkan diri walau sampai hari ini tidak ada kejelasan status beliau
apakah dikabulkan atau tidak. Gugatan tambah kencang dengan pernyataan lebih
lanjut dari kak Rudy mengenai benturan antara Kwarcab dengan DKC. Menurutnya
aneh bahwa Waka Kwarcab yang dulunya pernah DKC bukannya melancarkan malahan
menghambat kegiatan DKC. Suasana jadi panas dan saya perhatikan Kak Hendro
gelisah namun tidak menanggapi.
Untungnya, pembicaraan dialihkan dengan tampilnya Kak Rahmat Junizar, yang
kemudian bertanya siapa saja yang masih aktif di gugusdepan. Dan bertanya
kenapa anak-anak para mantan aktivis Pramuka pun enggan aktif di Gerakan
Pramuka. Saat itu, Kak Jeje, salah satu mantan Ketua DKC menyatakan bahwa ia
tidak lagi percaya sama Pramuka, sama Kwartir. Ia menyatakan bukan lagi suudzon
tapi "nuduh."
Suasana naik lagi. Tapi pembicaraan akhirnya bisa dialihkan kepada apa yang mau
dilakukan. Muncul rencana untuk menghimpun para purna ini agar bisa berkumpul
dan menyumbangkan ide dan masukan bagi Kwarcab. Hal ini berawal dari anggapan
bahwa Kwarcab sangat tidak optimal bekerja dalam menghadapi berbagai masalah
Pramuka. Tadinya sempat muncul gagasan untuk bikin semacam "Kwarcab watchdog"
untuk mengawasi Kwarcab, namun akhirnya dianggap lebih produktif untuk bikin
semacam lembaga atau kelompok ekstrastruktural yang dapat mengemban ide. Kak
Deddy Abah menyatakan bahwa upaya itu sudah mulai dilakukan oleh Lemdik dengan
memberi kesempatan pada mantan aktivis mengisi materi misalnya di KPD.
Purna yang masih ada di Kwartir lalu diminta bicara oleh Kak Rahmat. Kak Hendro
menggunakan kesempatan itu tapi jawabannya sangat normatif. Ia menekankan agar
orang kembali ke gugus depan. Ia mengungkapkan kesibukan Kakwarcab yang
menyebabkan keterbatasan dalam memimpin langsung Kwarcab, namun komitmen
terhadap Pramukanya sudah dibuktikan dengan peningkatan anggaran untuk Pramuka.
Ia mengelak untuk mengungkap lebih lanjut soal "ada apa" di Kwarcab. Ia
mengatakan ia tidak bisa bersikap seperti Kwik Kian Gie. Tuntutan cukup kencang
untuk cerita, terutama juga benar yang dikatakan Kak Ridlo bahwa yang harus
diminta adalah transparansi penggunaan uang rakyat yang diberikan pada Gerakan
Pramuka. Hal lain yang terungkap adalah bahwa Ancukuang ternyata hanya bekerja
selama 1 tahun, lalu tugasnya diambil alih orang lain dan mekanisme organisasi
yang tidak berjalan di Kwarcab. Kak Hendli mengungkap bahwa tinggal 5 andalan
yang masih sering datang ke Kwarcab dan
sebagiannya tidak lagi mengerjakan tugas-tugasnya tapi hal lain. Kak Ridlo
diminta untuk mengungkap pengalaman di Kwarda, sebagai Waka Kwarda dan ia
mengungkap bahwa kalau di Kwarda dananya tidak ada. Ia mengungkap komitmen
koran Pikiran Rakyat yang menyediakan ruang untuk diisi tulisan tentang
Pramuka, namun sangat jarang dipakai. Kak Dede Mariana yang hari itu juga hadir
diam saja, tidak berkomentar apa-apa.
Sayangnya, saat pembicaraan hampir puncak tiba-tiba dipotong dengan acara
potong kue ulang tahun yang dilakukan oleh para mantan ketua yang hadir plus
Ketua DKC yang sedang menjabat. Beres potong kue, acara jadi bubar tanpa
kesimpulan yang jelas.
Saya jadi bertanya-tanya juga. Kelihatan acara ini dibuat untuk memberi kesan
adanya kelompok orang yang perduli dengan Gerakan Pramuka. Secara sistematis,
tampak ada upaya menyerang orang tertentu. Dan sebelum ada kesimpulan, acara
ini disabotase dengan pemotongan kue.
Saya tergelitik saja buat melaporkan pertemuan tanggal 5 April ini. Sepertinya
suasana politik sudah memasuki Gerakan Pramuka ya .... Beberapa bulan lagi
sudah Musyawarah Cabang. Rupanya ada yang sedang siap-siap buat mengambil alih
Kwarcab.
Hati-hati saja ......
[Non-text portions of this message have been removed]