Senangnya mendengar masih ada gudep berbasis teritorial.

Kalau gudepnya Kak Azis Saleh masih ada ?

=============

Gudep Syailendra Berbasis Masyarakat      PDF             Cetak           E-mail

Wakil Ketua Mabigus Ka Ibnu Kartiko menjelaskan "selama ini tidak ada masalah 
dengan kwartir baik Kwartir Ranting sampai Kwartir Nasional hanya saja dengan 
niat baik Departemen Pendidikan dalam hal ini Dinas Pendidikan mengundang 
sekolah untuk suatu kegiatan pramuka yang terminologinya bukan terminologi 
pramuka, dan akhirnya membuat letupan-letupan sekolah untuk membentuk gugus 
depan berbasis sekolah. Dari lingkungan Sekolah Dasar Yapenka pada tahun 1967 
dan awal berdirinya SMP Negeri Filial 11 mulai mengadakan latihan kepramukaan 
bergabung dengan TNI Angkatan Laut yang berada tidak jauh dari sekolah Yapenka 
dan SMP Negeri Filial 11 Cipete Jakarta Selatan.

 Atas inisiatif siswa, guru, masyarakat sekitar Cipete Jakarta selatan dan 
perkembangan peserta latihan pramuka yang cukup besar, mulailah peresmian Gugus 
Depan Syailendra Tanggal 10 April 1969 bertempat di SMP Negeri 68 Jakarta 
Selatan (dahulu SMPN Filial 11) gugus depan yang pernah meraih predikat gugus 
depan tergiat tingkat Kwartir Daerah DKI Jakarta tahun 1999 memang tidak 
bergerak seleruhnya dari masyarakat akan tetapi dari penggabungan murid-murid 
SD Yapenka, SMP Yapenka, SD Al Ikhlas, SMP Al Ikhlas, SMP Al ikhlas, SMA Negeri 
dan swasta di sekitar Cipete dan sekitar Jakarta.

Mereka ikut secara sukarela tetapi ada beberapa siswa SD dan SMP kelas 1 yang 
diwajibkan mengikuti latihan pramuka oleh kepala sekolahnya di gugus depan 
Syailendra sebagai perkenalan, diharapkan pada kelas dua atau kelas tiga mereka 
yang ikut latihan pramuka memang mereka yang benar-benar suka dan rela sesuai 
dengan prinsip dasar kepramukaan dunia yaitu "Suka dan Rela"

Sejalan dengan perkembangan wilayah serta perkembangan peserta didik yang 
sekolah di daerah lain dan mengikuti kegiatan pramuka disekolahnya, Menurut Ka 
Pia Sejati Pembina putri gugus depan Syailendra "Kami berusaha tetap berdiri 
sebagai gugus depan umum dilingkungan masyarakat Cipete dengan menggabungkan 
empat sekolah yang lokasi sekolahnya berdekatan (menempel) salah satu tujuannya 
agar tidak timbul kecemburuan sosial antara sekolah negeri dan sekolah swasta, 
dan tidak terjadi tawuran antar pelajar, alhamdulillah sampai saat ini belum 
pernah terjadi" katanya tegas.

"Majelis pembimbing gugus depan Syailendra sampai saat ini masih di jabat oleh 
masyarakat sekitar Cipete sedangkan pembina gugus depan dibantu oleh empat 
orang kepala sekolah sebagai pembina gugus depan yang membawahi 
sekolah-sekolah, serta para orang tua murid dan komite sekolah yang ikut dalam 
kepengurusan gugus depan Syailendra, memang gugus depan kita ini unik lain dari 
pada yang lain namanya juga gugus depan umum" kata ka Pia Sejati menambahkan.

Oleh karena itu saran saya kepada Departemen pendidikan melalui Dinas 
Pendidikan untuk tetap memberikan dukungan bagi perkembangan pramuka disekolah 
yang tetap menggunakan terminology pramuka tanpa harus menghilangkan konsep 
gugus depan yang berbasis masyarakat atau gugus depan wilayah" katanya. Gugus 
depan yang sebentar lagi genap berusia 36 tahun ini juga mempunyai satu wadah 
untuk menjembatani mereka-mereka yang tidak dapat aktif dalam kegiatan pramuka 
di gugus depan karena keterbatasan waktu atau tempat kerja yang cukup jauh 
yaitu Ikatan Kerabat Syailendra (IKS). Wadah ini memberikan peluang mereka yang 
tidak aktif lagi untuk membantu perkembangan gugus depan syailendra yang 
dilakukan dalm kurun waktu 1 tahun sekali atau 6 bulan sekali.

======
Latar belakang berdirinya Gugusdepan Syailendra

Bermula sekitar tahun 1967, beberapa pengajar di SMP Negeri 68 yang pada waktu 
itu masih filial dari SMPN 11, bersama siswa-siswinya berinisiatif melaksanakan 
latihan kepramukaan. Dua tahun kemudian, 10 April 1969 secara resmi sebuah 
gugusdepan berdiri di SMPN 68 dengan nama Gugusdepan Syailendra dengan nomor 
6121 dan 6122 yang diambil dari nomor Gugusdepan Tarumanegara sebagai tempat 
pertama kali Pramuka SMPN 68 berlatih yang saat itu sudah tidak aktif lagi.

Beranjak dari hari bersejarah tersebut, gugusdepan mulai menghimpun anggota 
yang pada mulanya hanya terdiri dari pembina yang berasal dari guru-guru SMPN 
68, pembina eks-Gudep Tarumanegara dan anggota penggalang siswa-siswi SMPN 68. 
Sejak tahun 1974 SD Yapenka tergabung dalam wadah pembinaan kepramukaan 
Syailendra sehingga melengkapi unsur peserta didik yakni golongan Siaga. 
Selanjutnya pada tahun 1981 SD Islam Al-Ikhlas pun turut bergabung yang diikuti 
oleh SMP Yapenka dan SMP Al-Ikhlas pada tahun-tahun berikutnya.

Gugusdepan Syailendra dikategorikan sebagai gugusdepan wilayah dimana meskipun 
berbasis di sekolah-sekolah (SMPN 68, SD & SMP Yapenka, SD & SMP Al-Ikhlas) 
namun para anggotanya adalah masyarakat sekitar gugusdepan, para orang tua dan 
alumni sekolah-sekolah tersebut serta individu-individu yang tertarik dengan 
program Gugusdepan Syailendra.

 

  


Kirim email ke